Senin, 15 Agustus 2016

Dingin

Dingin. Entah sudah berapa kali aku bulak-balik ke kamar mandi. Hari ini rasa malas mulai menghampiri lagi. Sebenarnya karena manusia astral itu alasannya. Semalam aku buka-buka line. And... poto cewek itu masih jadi poto profilnya di line. S**t!!! Sebel gue. Bukan sama dia sebenarnya. Lebih kepada diri sendiri. Kenapa masih ada rasa cemburu? Kenapa masih peduli dengan urusannya? Kenapa aku masih... Ah entahlah. Menyebalkan sekali memiliki perasaan seperti ini. Sperti jatuh di kubangan lumpur. Mau bangun juga jatuh lagi- jatuh lagi. Padahal kemarin-kemarin rasanya udah tenang banget nggak kepikiran tuh bocah tengil bin ngeselin tapi tetep ngangenin itu. Upsss!!! It's really complicated feeling. Satu sisi lain aku selalu merasa tenang saat sama dia. Satu sisi lain aku juga sangat merindukan dia yang lain. Oh My Lord! Wanita macam apa aku ini. Menyimpan dua pria dalam hatiku sekaligus. It sounds dumb. But I'm feeling now.

Hari ini seperti biasa aku harus masuk kelas. Menghadapi wajah-wajah mereka yang kadang begitu sangat menyebalkan dan kadang pula sangat memberiku kekuatan. Namun akhir-akhir ini aku terlalu jenuh dengan rutinitasku ini. Kehidupan di Pare masih membayangiku. AKu sangat merindukan kampung kecil itu. Jika bisa, ingin sekali rasanya aku kembali kesana. Perasaan ini seperti ingin buang air besar tidak tertahan alias kebelet. Emang si bisa dikeluarin, tapi rasanya pasti ada lagi-lagi. Huft. Ah entahlah! Aku hanya berharap semua akan lebih baik jika aku sudah menikah nanti.
Ada puisi sedikit

Setumpuk rindu ini,
membuat meja di otakku berserakan
kesana-kemari beterbangan
Tak enyah juga dia
Padahal waktu sudah merubah ulat jadi kupu-kupu
Agustuspun segera berlalu
Deru kipas angin membisingkan pikiran
Rumit tak kumengerti benang-benang kenyataan
Rindu?
Kata itu basi,
sudah kadaluarsa
Tapi malah jadi lezat seperti yogurt
Ah! Rindu...
kau selalu beriringan dengan sendu...

Jumat, 12 Agustus 2016

Pilu, kematian

Innalillahi Wainnailaihi raji'uun. Telah berpulang ke Rahmatullah sahabat seperjuanganku di BEC Pare-Kediri TC 128 MAM 2015. Kirim Al-fatihah dulu guys, buat Dita temenku ini.
Summpaahh! Aku shocked banget pas denger temen kamarku nunjukkin dp BBM temennya yang captionnya ngasih tahu kalau yang difoto itu udah meninggal. Pas aku lihat ternyata dia adalah temen satu angkatanku di BEC, TC 128. Dia kelas Holand. Meskipun nggak terlalu dekat sama dia, tapi dia sering nyapa. Say hai gitu. Dan menurut kacamata aku ni, dia anaknya friendly banget. Temennya banyak soalnya. Selain itu yang bikin agak nyesek and ikut sedih banget juga, waktu pas aku pulang bareng sama geng JABODETABEK. dia ikut nganter. Soalnya waktu itu denger-denger dia lagi deket sama Bang Aldi. Ups, kok malah jadi ngegosip. Katanya si dia meninggalnya karena sakit pembengkakan otak dan sempat koma. Akhirnya pada pukul 8 WITA ia menghembuskan nafas terakhir. Ya begitulah kematian. Tak pernah tahu kapan akan datang. Dan kepada siapa hari ini ia menghampiri. Entah nanti setelah aku menulis ini, nanti sore, or besok. Yang jelas kematian pasti datang menjelang. Oke, selain do'a ada seuntai kata untuk teman seperjuanganku di BEC ini.

Masih diselubungi kabut pilu
Ku gerakkan jari-jemariku
Menggoreskan tinta tentang kepergianmu
Duhai sobat!
Cepat sekali kau pergi
Usia muda, indah rupa, dan akhlak mulia
Jadi kenangan yang tersisa
Senyum ceria di lembar-lembar foto
Hiasi sosial media
Dengan caption "Innalillahi wainnailaihi raji'un"
Begitu katanya
Tangis handai tolan pecah
Hantarkan tubuh yang terkulai lemah
Di atas keranda berjubah
Wahai sobat! Pergilah!
Tenang disana
Kau akan segera menemui-Nya
Semoga perjalananmu menyenangkan!
Untuk-Mu Tuhan, Allah, Rabbie
Titip dia Allah
Sungguh akupun pasti akan menyusulnya
Kematian-Mu memang menakutkan
Tinggalkan luka yang tak mudah hilang
Namun Allah, dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun
Indahkan kematianku ya Rabb...



Lesson plan, SMS tagihan dan Undangan Kelar

Sabtu, 13 Agustus 2016

Happy weekend folks!
Huft! Aku bangun agak siang hari ini. Biasanya habis shalat subuh aku langsung ngajar ngaji dan siap-siap ngajar. Tapi hari ini setelah bangun agak kesiangan, setengah 6 shalat subuh, aku gak ngajar. Bukan karena malas, sebenarnya itu juga si. Tapi itu bukan faktor utama, faktor utamanya adalah... i got stomachache this morning. Seperti biasa, sakit perutnya selalu bikin aku lemas nggak ketulungan. Hampir 15 menit di kamar mandi. Akhirnya aku putuskan untuk merebahkan tubuhku kembali di atas kasur. And finally, i got up very late, 09 o'clock lewat dari kebiasaan. Haha, sebenarnya pernah si lewat dari jam segitu.
Bangun tidur aku disuguhkan dengan buku-buku yang berserakan di atas kasur. Yaa memang seperti itulah kebiasaanku. Pasti ada satu dua buku yang sengaja kuletakkan di sampingku. Tapi kali ini bukan cuma satu, or dua. But it's more and more. Maklumlah akhir-akhir ini aku dan rekan mengajarku plus rekan tidurku, sedang disibukkan dengan pembuatan Lesson plan selama satu tahun ajaran. O' ma Lord! It's slowly driving me nut! Apa lagi aku ngajar 4 kelas. Dan semua lesson plan yang kita buat di luar dari kurikulum KTSP or kurikulum 2013. Huft! Sekolah tempatku mengajar memang punya aturan sendiri. Masih nyari jati diri juga, soalnya kurikulumnya masih sering gunta-ganti. Bikin murid-murid pusing, apalagi guru-gurunya. Gue aja mungkin. Tapi si katanya kita harus menjadi orang yang lebih flexibel. Okelah kalau begitu.
Keluar dari permasalahn lesson plan yang belum kelar-kelar. Pas bangun tidur, seperti kebanyakan orang, pasti yang dicari pertama kali adalah handphone. Nah begitu pula yang aku lakukan. Aku langsung mencari dua ponselku. Yang satu Hp jadul nokia yang bertipe express music. Dulu mahal banget tuh Hp! Yang satunya agak kerenan sedikit., Hp Samsung. Tapi lemotnya udah nggak ketulungan. Jadi intinya kedua Hpku tidak sekeren dan se-update anak-anak jaman sekarang. Hp pertama yang aku buka adalah Hp nokia jadulku. Ada satu pesan. Awalnya aku sedikit penasaran. Setelah membukanya ternyata sms dari kampusku, minta tagihan bayaran. Wegah banget gue! Bayangin, masuk kuliah aja bisa dihitung pakai jari karena dosen nggak pada masuk, sekarang nuntut bayaran! Oke mungkin kasus dosen jarang masuk sudah biasa di kampus-kampus lain. Tapi kampusku yang satu ini, managementnnya berantakkan. Maklumlah cabang. Kelas karyawan pula. Tapi seharusnya bisa lebih baik dan tertata. IPK semestet awal belum keluar sampai sekarang. Padahal semester I udah lunas bayaran. Selain itu NIM kitapun belum terbaca di dikti. What the hell! dan ternyata beberapa senior juga belum mendapatkan haknya. Jadi selama ini yang pihak kampus berikan adalah janji-janji palsu alias PHP. Makin rumit sepertinya. And finally, i made a big decision. Aku mau chau aja dari kampus. Beberapa temankupun sama. Mereka sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan Pak T*** dan Bu D****. Sudah lelah katanya. Pertemuan terakhirpun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Malah UAS diundur sampai hari ini. Padahal pengumuman UAS sudah digembar-gemborkan sebelum bulan Ramdhan. Huft! Lagi-lagi aku harus menarik nafas dalam-dalam. Yang jelas aku sudah menentukan pilihan. I quit.
Okay, dari tadi ceritanya yang bikin empet mulu ye? Change the topic.
Hari ini ada yang membuatku sedikit bersemangat. Undangan pernikahanku akan dikirim hari ini. Selain itu calon suamiku yang sudah aku jadikan pembuangan keluh kesahku selama 3 tahun 6 bulan itu akan datang ke rumah. Ia juga akan mengambil undangan untuk disebarkan. Oh My Gosh! Pernikahanku tinggal 21 hari lagi. Hatiku berdegup lebih kencang rasanya. Persiapannya sedikit melelahkan dan memusingkan. Tapi aku berharap yang terbaik. Semoga lancar, dan ijab qabulnya satu kali aja ye. Biar cepet. Hehe. 
Okay, that's all for today. Doa'in deh folks, semoga bisa posting karya-karya terbaru. Lagi ruwet banget ni. Sebenarnya segudang ide sudah menumpuk. Tapi kadang stuck karena sibuk nggak karuan. Ada sedikit kata-kata alay ni. Masih terinspirasi dari orang yang sama.

Kubalikkan tubuhku
Sekilas wajah terkenang
Siapa?
Entahlah, hanya sedang ingat saja
Mungkin efek drama korea semalam
Jadi beper
tak karuan
Lawakan garing,
Malah sering lahirkan gelak tawa
bikin senyum tipis menghias bibir
Ah! Indah nian
Sampai-sampai masih nyangkut dalam ingatan
Cuma mengenang
Ingat janur kuning segera dikibarkan!

Sabtu, 25 Juni 2016

Nyanyian Lara

Nyanyian Lara
Image result for gambar ilustrasi muslimah
Menyusuri tanah yang diselimuti aspal
Kudengar mesin-mesin hilir mudik berjalan
Cahaya senja menerpa raraiku yang muram
Hitam putih dunia berkumpul disana
Menyatu bersama rindu dan pilu...
Hari mengubah jubahnya
Dari putih jadi hitam
Sehitam tinta gurita
Melebur menyatu bersama deru waktu
Langit langit kamar sisakan memar bekas endapan hujan
Semua penat yang melumat
Menjilat otak yang sekarat
Dasar para penjilat!!!
Tubuhmu hanya seonggok daging yang tak bermanfaat
Bukankah hidup ini memberi tanpa diberi?
Ah sayang jiwaku nyeri
Ingin kubungkam mulut2 yang berbau tambakau
Kusulut saja biar terbakar
Oh Rabbi!
Serba serbi dunia ini mulai menggerogoti hati
Inginku kabur bersama jasad jasad yang tertidur
Gegap gempita dunia sembunyikan luka para nestapa
Tersudutku dalam mendung yang tak berujung
Terhempasku di atas matras batu cadas
Rabbi,
Lembutkanlah!
Lembutkanlah hati kami

Senin, 20 Juni 2016

Jari-jemari Surgawi (Part I)

Jari-jemari Surgawi 

(Part I)

"Sebegitu egois dan kekanak-kanakannya kah aku di mata kamu?" Rivana menatap Damar dengan nanar. Air matanya deras mengalir dari matanya yang bulat dan tajam.
"Kamu dari dulu emang nggak pernah sadar betapa egoisnya kamu Riv."
"Damar! Aku pikir pertemuan ini bisa memperbaiki semuanya. Aku pikir dengan aku ninggalin Kak Reyhan hubungan kita akan lebih baik, aku..."
"Stop Riv! Aku nggak pernah minta kamu untuk ninggalin dia demi aku. Dan kamu seharusnya tahu masalah dalam hubungan kita bukan hanya itu." Rivana tercengang mendengar perkataan Damar. Damar bahkan tak sedetikpun menatap wajah Rivana yang dibanjiri air mata.
"Okay, I'm leaving." Rivana membanting pintu kos Damar dengan keras. Damar mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa sangat menyesal telah berkata seperti itu kepada Rivana.

Tiba-tiba pintu kosnya kembali berderik. Damar segera membalikkan badannya dan berharap Rivana kembali menghampirinya.
"Eh bro si Riva kenapa tadi sampai nangis bombai gitu? Elo apain anak orang?" Ari menyembul dari pintu. Damar membisu. Ia segera mengambil jaket dan kunci motor yang ia letakkan di atas kasurnya.
"Mar! Damar! Mau kemana lo?" Ari mengikutinya sampai pekarangan kosnya.

Suara mobil ambulans membelah kemacetan jalan. Tubuh Rivana terkulai lemah dan bersimbah darah. Damar ikut serta di dalam mobil yang memiliki aura menyeramkan itu. Lututnya lemas, butir bening keluar dari sudut matanya. Pertengkaran kecil itu masih teringat jelas di benaknya. Rasa bersalah menggelayutinya. Ia tak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Ia tak henti-hentinya berdo'a kepada Tuhan untuk menyelamatkan Riva gadis yang sangat ia cintai itu.
"Maafin aku Riv, maaaff. Bangun Riv jangan tinggalin aku!" Suara Damar terdengar parau.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Rivana akhirnya dinyatakan koma. Ada retakan yang cukup parah di bagian kepalanya. Mengetahui bahwa anak angkatnya mengalami kecelakaan, Pak Frans semakin ketat menjaga Rivana dari jangkauan Damar. Laki-laki pengusaha tambak itu amat membenci Damar, apalagi setelah ia tahu bahwa selama Rivana menghilang ia ada bersama Damar.
"Jangan pernah coba-coba menampakkan wajahmu di hadapanku pemuda sialan!" Tanpa banyak berkomentar Damar berlalu meninggalkan rumah sakit dimana Rivana dirawat. Dengan hati yang hampa dan pikiran yang berkecamuk, Damar berjalan tanpa tujuan. Tanpa ia sadari sebuah mobil melaju kencang ke arahnya dan seharusnya dalam hitungan seperkian detik tubuh Damar sudah terkapar di aspal. Namun, Tuhan masih memberinya kesemptan hidup. Jari-jemari yang tak diketahui pemiliknya itu menarik bajunya hingga ia masih bisa selamat. Damar terkesiap. Iapun tak cepat menyadari apa yang baru saja terjadi padanya.
"Mas Damar baik-baik saja?" Seorang wanita cantik yang dibalut jilbab merah muda itu terlihat sangat khawatir.
"Oh, iya saya baik...baik saja." Wajah Damar terlihat pucat pasih dan kebingungan.
"Syukurlah. Mas Masih ingat saya kan?"
Damar menggeleng.
"Oh Mas sudah lupa ya? Saya Hanifah dokter yang menangani gadis yang tempo hari Mas bawa ke rumah sakit."
"Iya iya. Maaf dok. Saya lupa."
"Nggak apa-apa ko Mas. Oh iya panggil saja saya Hani nggak usah pakai dokter segala. Hati-hati Mas kalau jalan."
"Iya Hani." Jawab Damar singkat. Kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Hanifah. Hanifah sedikit kecewa dengan sikap Damar yang dingin. Ia menatap punggung Damar sampai menghilang di persimpangan jalan.

Sebulan berlalu dan Rivana masih terbaring tak berdaya di kasur rumah sakit yang berbalut seprai warna putih. Selama itu pula Damar larut dalam kesedihan dan rasa bersalah. Ia sangat merindukan Rivana gadis bermata bulat yang memiliki senyum manis itu. Segala hal ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari gadis itu. Namun tetap tak bisa. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Rivana. Apa lagi ia dengar bahwa gadis itu belum juga membaik.

Damar dan Rivana adalah sahabat kecil. Mereka sama-sama tinggal di panti asuhan. Ketika Rivana berusia 10 tahun dan Damar berusia 13 tahun, Pak Frans mengadopsi Rivana dan membawanya pergi keluar kota. Setelah 12 tahun berlalu mereka akhirnya dipertemukan kembali di universitas yang sama. Persahabatan yang mereka jalin ternyata berubah menjadi perasaan yang tak biasa. Mereka kembali memiliki hubungan yang intensif. Mereka sering melakukan banyak hal bersama. Untuk sekedar makan, mengerjakan tugas kampus atau menonton film di bioskop. Benih-benih cinta di dalam hati mereka berdua semakin tumbuh dan mekar. Namun dua hari sebelum kecelakaan, sebuah rahasia terungkap. Ternyata Rivana sudah memiliki seorang kekasih. Ia terlalu takut menceritakan hal itu pada Damar. Hingga pada suatu hari Reyhan datang ke kampus mereka dan memukuli Damar habis-habisan. Reyhan adalah anak pengusaha kaya yang ternyata teman Pak Frans ayah angkat dari Rivana. Pak Frans juga sangat marah ketika mengetahui bahwa Damar datang lagi dalam hidup Rivana. Dan ada satu hal lagi yang ternyata baru Damar ketahui tentang Rivana, Tuhan mereka tak lagi sama.

Suatu hari, saat langit berganti warna dan menghantarkan sang surya ke peraduannya. Damar memberanikan diri datang ke rumah sakit. Ia tak sanggup lagi menahan kerinduannya pada Rivana. Ia tak ingin apa-apa. Ia hanya ingin melihat wajah Rivana yang tetap mempesona meskipun lebam dimana-mana. Setelah memastikan tak ada orang yang menjaganya. Diam-diam Damar masuk ke kamar rawat Rivana yang mewah itu. Damar duduk di sampingnya dan menatap wajah Rivana sendu. Ingin rasanya ia memeluk gadis di hadapannya itu. Namun ia tak berani melakukannya. Bahkan selama ia mengenal Rivana ia tak pernah menyentuh Rivana sebagaimana Laki-laki dewasa menyentuh wanita. Damar selalu menjaga Rivana, ia tak mau menyakiti wanita yang dicintainya itu. Meski Damar laki-laki yang cuek, tidak religius, dan sholatnya saja masih bolong-bolong, tapi pesan-pesan Ibu panti dan Bapak panti tentang menjaga kehormatan seorang wanita, masih tersimpan rapi dan ia laksanakan dengan baik.
"Riv, bangun Riv! Aku kangen sama kamu. Bangunlah Riv! Maafkan aku sudah kasar sama kamu. Seharusnya aku nggak biarin kamu tinggal sama laki-laki tua biadab itu Riv. Tadinya aku pikir meninggalkan kamu adalah jalan terbaik, tapi itu malah menyiksamu dan membuat kamu jadi seperti ini. Apa lagi... kamu sampai harus pindah agama seperti ini Riv. Maafkan aku!" Tangis Damar pecah. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Selama hidupnya ia tak pernah merasakan kesedihan seperti yang ia rasakan saat ini. Bahkan saat Ayah dan Ibunya tewas dalam bencana alam dan membuatnya hidup di panti asuhan, ia tidak secengeng ini. Ia hanya belum siap kehilangan orang yang ia cintai lagi. Karena baru enam bulan terakhir ini ia bisa melihat senyuman Rivana secara nyata.

Tiba-tiba terdengar suara derik pintu. Damar pasrah. Tak apa jika ia harus ketahuan menjenguk Rivana oleh Pak Frans. Yang jelas ia hanya ingin memastikan bahwa Rivana masih bernafas.
"Mas Damar?" Damar merasa sangat lega ketika suara yang didengarnya bukanlah suara milik orang yang ia bayangkan.
"Oh dokter. Eh maksud saya Hani."
"Mas Damar bukannya..."
"Shuut, tolong kamu jangan cerita kalau saya datang menjenguk Rivana ya."
"I..iya Mas. Tenang saja saya cuma mau memeriksa keadaan dia."
"Han, tolong selamatkan Riva Han. Tolonglah!" Damar memohon.
"Mas Damar, saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk melayani semua pasien saya. Tapi biar bagaimanapun saya hanya manusia, semua kembali kepada sang Maha Pencipta, Allah Subhanahu wata'ala."
"Ia Han kamu benar. Maaf."
"Tidak apa-apa Mas. Baiklah Mas, saya permisi mau memeriksa keadaan Rivana. Mas mungkin bisa tunggu di luar. Karena ada beberapa bagian dalam yang akan saya cek."
"Oh iya silahkan Han. Lagi pula saya rasa cukup. Saya haru kembali pulang."
"Iya Mas. Hati-hati."
Damarpun melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar. Tiba-tiba ia ingat betapa tidak sopannya ia ketika meninggalkan Hani di pinggir jalan setelah menyelamatkan nyawanya.
"Oh iya Han. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya. Sebagai gantinya, apa kamu mau makan malam dengan saya?" Tawaran Damar tulus sebagai balas budi. Tapi siapa sangka tawaran sederhana itu bermakna lebih bagi gadis berjas putih itu
"Makan?"
"Iya."
"Emm."
"Kalau tidak mau berdua kamu bisa ajak temanmu atau mahrammu yang lain. Bagaimana?" Damar langsung menangkap raut wajah Hani yang ragu.
"Emm..."
"Emm itu artinya apa?"

#To be continued...

Minggu, 19 Juni 2016

Misteri Padang Ilalang

Misteri Padang Ilalang

Nyanyian nyanyian rindu itu selalu mengusikku
Menina bobokanku dengan sketsa wajahmu
Bisikkan-bisikkan itu selalu syahdu terdengar di telingaku
Melafalkan satu nama, merdu
Sayang...
Tadi langit begitu murung berawan
Sekarang, lihatlah!
Bintang-bintang menari mesra
Mengintip manja lewat kerlipnya
Ingatkah kau sayang?
Kita pernah berdiri sejajar menatap langit yang membentang
Merasakan malam yang dibalut kepekatan
Saling bercerita dan tertawa
Tuhan telah menautkan hati kita berdua
Namun, sekejap mata
Mendung gelap menerpa
Dia sembunyikan kau didalamnya
Lalu sisakan kosong yang menggema
Adakah misteri di balik sebuah perjumpaan dua insan?
Ngilu mengiris kalbu
Bertanya kuselalu
Pada rumput jalang yang liar
Pada bunga matahari yang tak berpijar
Tak satu katapun terlontar
Hanya menyisakan sepi berkepanjangan
Haruskah ku tanya pada rumput yang bergoyang?
Akankah ada jawaban?
Kisah kita
Misteri jarum dipadang ilalang






Bagaimana bisa hujan mengangguku, sedang hatiku selalu riang menyambutnya?
Bulirnya saja kubiarkan menyeka air mata, bagaimana bisa aku menolaknya?
Tidak, sama sekali tidak. Bahkan tak akan pernah.
Hanya saja, kini musim penghujan tak lagi sama.
Ia menyisakan rindu berkepanjangan yang menyiksa.

Senin, 11 April 2016

Terima kasih untuk menjadi inspirasi di setiap goresan pena yang kurangkai. Kini, warna pelangi telah memudar bersama musim penghujan yang berganti kemarau. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu disaat pertama kali kita bertemu, aku tak akan pernah membiarkan rasa ini tubuh subur di taman hatiku. Kini tak ada lagi kenangan indah yang selalu membuatku tersenyum dikala mengingatnya, semua telah berubah menjadi duri yang mencabik hatiku. Perih, sakit, dan membuatku meneteskan air mata. Setiap kata yang terngiang kini bak buih-buih sabun yang terbang kemudian hilang. Aku terlalu sempurna melukis dirimu dalam benakku, hingga tak ku temui cela untuk sekedar menerka bagaimana kau menyimpanku dalam otakmu. Andai bisa ku robek episode-episode kisah kita, maka akan segera kulakukan dan membakarnya hingga hanya debu yang tersisa. Setiap melihatmu walau itu hanya berupa foto, aku seolah mati perlahan. Rinduku menggunung dan kini hanya berbayar kekecewaan. Maka kerinduan itupun meletus seperti lahan berapi yang keluar dari perutnya. Begitulah kini rinduku. Panas membakar siapa saja yang dilewatinya. Ku biarkan tersapu sang angin dan terkubur malam yang kelam. Biar saja jadi batu pualam, lebih kekal dan lebih tegar. Air mata, entah berapa banyak sudah mengalir, mungkin cukup jika harus menghilangkan dahagamu. Bagaimana aku ini, mencintai dua orang dalam satu waktu. Aku terjebak sendiri dalam kebingungan. Ingin ku berlari sejauh mungkin hingga ku lelah dan berhenti memikirkanmu. Ingin ku pura-pura melupakanmu, hingga aku lupa sedang berpura-pura. Tapi tetap saja kenangan itu menjejali otakku dengan sketsa wajahmu.
Namun, mulai saat ini sudah ku tekadkan dalam hati, aku tak akan kembali dan menghentikan langkahku. Aku akan terus melangkah maju dan tak akan pernah sedetikpun menoleh ke belakang. Semua sudah berakhir dan tinggal serpihan-serpihan saja. Aku akan membiarkanmu bahagia dengan siapapun itu. Terima kasih telah membuatku menjadi gadis yang begitu terbuka hingga aku tak tahu malu mengatakan cinta. Terima kasih telah membuatku meneteskan begitu banyak air mata. Terima kasih Tuhan, Kau kirimkan dia untuk membuatku sadar, bahwa tak seharusnya aku mencintai hamba-Mu terlalu dalam.

darisudutkamar 110416

Kamis, 07 April 2016

Ternyata lautan yang sangat ku banggakan, tak setenang yang kubayangkan. Deru ombaknya terlalu menggebu hingga aku terbawa arusnya sampai ke hulu.

Senin, 04 Januari 2016

Dua Hati Satu Rongga


Dua Hati Satu Rongga

Kamis, 18 Desember 2015
Kemarin malam aku memutuskan pacarku. Aku sudah sangat yakin malam itu. Benar-benar yakin. Sepulang minum susu di kedai susu moo di Perum Dukuh Zamrud Mas Rama meneleponku. Aku memeberanikan diri untuk menyampaikan maksudku. Namun ia tidak mau menerima keputusanku, ia berusaha keras meyakinkanku untuk tetap bersamanya dan mencapai komitmen kami yaitu menikah. Sungguh yang ku mau saat itu hanya putus darinya. Lepas dari jerat cintanya yang kadang terasa begitu memenjarakanku. Alih-alih mengabulkan permohonanku ia malah memutuskan untuk mempercepat pertunangan kami. Tak berhenti sampai disitu, ia mendatangiku di kantor. Memaksaku untuk menemuinya. Akhirnya dengan terpaksa aku menuruti permintaannya. Dadaku semakin sesak menahan perasaan ini. Akhirnya aku mengatakan semua alasanku mengapa aku ingin putus darinya. Semua, termasuk perasaanku pada laki-laki yang ku temui di kota kembang, Bandung.
***
Bandung, kota yang terletak di Jawa Barat itu terkenal dengan sebutan Paris van Java dan Kota Kembang. Kota yang menjadi tempat pertama KAA (Konferensi Asia Afrika) itu sekarang dipimpin oleh Bapak Ridwan Kamil atau yang biasa disebut dengan Kang Emil. Di Bandung pulalah universitas-universitas negeri ternama berdiri, seperti UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), UIN Sunan Gunung Djati, UNPAD (Universitas Padjajaran) dan masih banyak lagi universitas swasta yang tak kalah terkenalnya. Udara Bandung yang sejuk dan pemandangannya yang membuat takjub selalu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Termasuk aku, dulu aku bermimpi untuk bisa kuliah di salah satu universitas negeri di Bandung. Apa sajalah yang penting di Bandung, pikirku. Namun sayang, nasib berkata lain. Niatku untuk melanjutkan sekolah ke bangku kuliah harus tertunda dua tahun dan aku hanya bisa kuliah kelas ekstensi di salah satu kampus swasta yang membuka cabang di Bekasi. Dan saat itulah Mas Rama datang. Memberiku kekuatan, mengajarkanku bahwa hidup tak semudah yang dibayangkan. Dan begitulah ia memasuki kehidupanku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meyakinkanku. Tapi entah mengapa kehadirannya berbeda dengan makhluk indah yang satu ini. Laki-laki berdarah kota kembang yang mengenalkanku cinta hanya dalam waktu dua minggu.
Sembilan bulan lalu tepatnya Desember 2014, Pak Hardian bosku memintaku dan Nadin sahabat sekaligus rekan kerjaku untuk mengikuti training bersama pimpinan perusahaan ternama yang berada di Bandung. Selama disana aku bertemu dengan seorang laki-laki bernama Reza. Dia juga merupakan peserta training. Kebetulan kami adalah teman satu kelompok. Reza satu tahun lebih muda dariku, tapi dia cerdas dan sangat easy going. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya, kebetulan penginapan yang disewa pihak kantorku dekat dengan rumahnya. Tidak jauh, hanya sekitar lima belas menit menggunakan sepeda motor. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Entah sekedar makan bersama, atau jogging mengelilingi komplek penginapan. Hari demi hari berlalu. Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh pada sikap Reza.
Benar saja, Reza memberikan perhatian yang lebih kepadaku. Setiap selesai training ia selalu mengantarku pulang. Akupun tak menolak, toh hanya mengantar pulang pikirku. Selama aku di Bandung Mas Rama tidak pernah meneleponku, hanya sesekali mengirim pesan dan menanyakan kabar lalu menghilang tanpa balasan. Memiliki pacar yang cuek terkadang membuatku merasa kurang diperhatikan. Dan perhatian-perhatian kecil yang diberikan Reza kepadaku membuat aku kebablasan. Aku telah membuka setengah pintu hatiku untuknya. Padahal selama bertahun-tahun aku telah menutupnya rapat hanya untuk Mas Rama. Dan kini hanya dengan hitungan hari ia mampu mendobraknya. Mudah sekali ia memasuki sebagian ruang itu. Dan bodohnya aku, aku malah membiarkannya tinggal di dalamnya. Reza selalu membuatku tertawa. Aku selalu merasa nyaman saat di dekatnya. Bahkan dia pernah mengajakku ke rumahanya dan mengenalkanku kepada orang tuanya, meskipun itu hanya sebagai teman. Tapi aku merasa sudah sangat dekat dengannya. Saat itu Reza membiarkanku bermain-main dengan anak-anak TK yang dikelola ibunya. Ya, dia tahu aku suka anak kecil. Bahkan aku dengan terbuka bercerita tentang apapun padanya. Keluargaku, pekerjaanku, dan bahkan tentang Mas Rama yang acuh tak acuh. Kami tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Bisa dibilang waktu-waktu bersamanya adalah penghilang kejenuhan di tengah training yang membosankan. Dan melihat kedekatanku dengan Reza Nadinlah yang paling bawel mengingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengannya.
“Di, kamu habis jalan lagi sama si Reza itu?”
Suara Nadin mengagetkanku yang baru membuka pintu.
“Cuma makan seperti biasa kok, lagian kamu kenapa gak ikut si aku kan bbm kamu tadi?”
“Males ah, lagian aku cuma jadi kambing conge kalau pergi bareng kalian.”
“Ih, Nadin. Kok kamu ngomong gitu si?”
“Ya emang iya kan? Awas lo Di kamu jatuh cinta sama si Reza itu. Inget sama Mas Satriamu.”
“Hahaha, kamu ngomong apa sih Nad. Nggaklah.”
“Ya, ampun Di. Kita tuh sahabatan udah lama kali. Bahkan sebelum spongebob sama patrick ada tuh kita udah sahabatan, dan aku tahu kamu tuh pasti udah jatuh hati sama si Reza itu.”
“Hehehe. Mulai deh kamu lebaynya Nad, Nad.”
“Di, awas ya kalau kamu sampai suka sama cowok ingusan itu.”
“Ya ampun Nad, kamu kok sampai segitunya sama Reza.”
“Tuh kan dibelain. Aku yakin pasti tuh anak suka sama kamu Di.”
“Udah ah, stop ngomongin dia. Aku mau tidur.”
Dan ucapan Ndin memang benar, aku sudah jatuh hati pada laki-laki itu. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Akhir-akhir ini bayangan Reza begitu jelas terlihat di pelupuk mataku. Ada desiran syahdu di hatiku setiap kali aku mengingatnya. Oh Tuhan, apa yang ku rasakan ini?
***
Setelah melewati perdebatan yang melelahkan akhirnya aku putuskan untuk kembali kepada Mas Satria. Lagi pula dia sudah tahu semuanya sekarang. Dan dia masih mau memperjuangkanku walau jelas-jelas aku sudah mengkhianatinya. Dari situlah aku sadar bahwa dia memang benar-benar mencintaiku. Namun, ada satu syarat yang aku ajukan untuknya. Aku memintanya mengantarkanku untuk bertemu dengan Reza di Bandung. Dan iapun mengiyakan. Walau aku tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun aku tak peduli. Ya, aku memang egois. Memintanya untuk mengantarku bertemu dengan laki-laki yang membuatku jatuh cinta dalam waktu dua minggu itu. Aku memang sudah gila dan tidak punya hati. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Setiap detik sejak pertemuanku dengan Reza di Bandung, yang ada di pikiranku hanya dia. Senyumannya, tawanya, tingkah konyolnya, dan semua tentangnya seolah melekat dalam diriku. Setiap malam di mimpiku aku berharap dia datang menemuiku. Hanya lewat mimpi aku bisa dengan leluasa meghadirkan lekuk tubuhnya tanpa ada seorangpun yang melarangku. Aku benar-benar tak bisa menghapusnya dari memori otakku. Setiap kali aku mengingatnya ada gejolak rindu yang tak tertahankan. Sakit yang tak terperikan. Aku ingin berlari mencarinya. Aku ingin memeluknya dan tak akan pernah melepaskannya. Aku ingin membangun istana cintaku bersamanya. Namun, apabila aku mengingat Mas Rama dan keluarganya semua itu seolah runtuh seketika. Menjadi puing-puing kenangan yang melebur bersama bayangnya yang memudar. Semua berubah menjadi jalan yang tak berujung. Aku terperangkap dalam kegelapan dan semua seolah sirna tak tersisa.
“Sayang, Di!”
“Eh, iya Mas.” Aku menghapus air mata yang entah sejak kapan membasahi pipiku. Sejak pertemuan kami di tempat training itu komunikasiku dengan Reza mulai berkurang. Namun ia tetap memberikan perhatian lewat pesan-pesan singkat. Dan kini sudah hampir sembilan bulan Reza tak ada kabar. Aku pikir bisa dengan mudah melupakannya setelah kami berpisah. Tapi ternyata tidak, Reza masih menguasai pikiranku. Aku tahu hal ini pasti akan terjadi. Reza pasti sadar bahwa hubungan ini hanya membuang waktu. Ia pasti hanya menganggapku gadis egois yang tidak bisa menentukan pilihan. Perpisahan ini benar-benar membuatku seperti pesakitan. Memikirkannya siang dan malam dan mengacuhkan Mas Rama.
“Di, terima kasih telah mengijinkan aku menjadi bagian hidupmu walau hanya dua minggu.” 
Itulah sepenggal kalimat yang menjadi akhir perjumpaan kami di Bandung. Selain itu ia menjanjikanku satu hal, ia akan ke Bekasi untuk menemuiku. Aku sadar, aku sudah berpaling. Maafkan aku Mas.
“Ayo, kita pergi. Kamu sudah bawa baju kan? Mungkin nanti kita cari peristirahatan untuk satu malam. Karena perjalanan Bekasi-Bandung kan lumayan jauh sayang kalau ditempuh dalam satu hari pulang pergi.” Suara Mas Rama membuyarkan lamunanku.
“Iya Mas. Ayo.” Jawabku singkat.
Kami pun berangkat. Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar alasanku pergi ke Bandung hanya untuk menemui Reza yang tak tahu ada dimana sekarang. “Kamu ini tuh gak punya hati atau gimana toh Di, masa kamu mau minta calon tunanganmu nganterin kamu ketemu laki-laki yang buat kamu berpaling darinya”. Itulah yang ibu bilang padaku. Ya, aku memang gila, memang tidak punya hati. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin menemui Reza dan menagih janjinya untuk menemuiku di Bekasi.
“Kami pergi dulu Bu.” Mas Rama berpamitan dan mencium tangan ibu.
“Hati-hati ya de. Maafkan anak ibu.”
“Nggak apa-apa Bu.”Aku hanya menatap mereka sinis. Di pikiranku saat ini hanya ada Reza. Aku hanya ingin bertemu dengannya, itu saja.
Motor Bison putih melaju dengan lincah. Menyusuri jalanan yang dipenuhi hilir mudik kendaraan. Macet, menjadi pemandangan yang tak asing lagi ketika kami di Cileungsi. Sudah tiga jam kami di perjalanan dan sudah dua kali kami beristirahat untuk sekedar melepas lelah. Kali ini kami berhenti di warung mie ayam di pinggir jalan.
“Di, kita makan dulu ya. Kamu pasti lapar.”
“Iya Mas.”
Mas Rama memesan dua mangkok mie ayam bakso dan dua gelas es jeruk. Kami baru sampai di Cianjur. Masih membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke alamat yang kami tuju. Untuk mendapatkan alamat Reza aku harus susah payah meminta mohon kepada panitia training. Berkali-kali menelepon hanya untuk memastikan bahwa aku adalah kerabat Reza. Maklumlah, panitia bilang itu dilakukan untuk menjaga privasi peserta training. Namun dengan semangat yang gigih aku akhirnya berhasil mendapatkan alamatnya.
“Mas, maafin aku ya. Aku sudah keterlaluan. Tapi aku janji Mas, aku akan lupain Reza setelah pertemuan ini. Aku janji.” Aku mencoba meyakinkan Mas Rama sambil menatap mata teduhnya. Sungguh, aku tak tega. Tapi bayangan Reza begitu kuat mengusikku. Aku sangat merindukannya. Mungkin ia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini sehingga kerinduan ini seolah tak terbendung lagi.
“Iya sayang.” Mas Rama tak banyak bicara. Ia hanya membelai rambutku seperti biasa.
Setelah mengisi perut kami melanjutkan perjalanan. Jalanan menuju Cianjur kota ini cukup curam. Jalannya berliku-liku dan menanjak. Mas Satria dengan piawai mengendarai motornya. Aku tak kuat menahan kantuk. Akhirnya aku menyandarkan sebelah pipiku dan terlelap di punggung kekarnya. Reza datang ke mimpiku. Ia seolah tahu bahwa aku akan segera menemuinya. Aku tersenyum sambil memeluk erat Mas Rama.
“Di, sayang. Bangun!”
Suara Mas Rama membangunkan tidur lelapku.
“Kita udah sampai Mas?” Aku langsung sumringah.
“Belum sayang, coba lihat alamatnya.”
“Iya Mas.” Aku segera mengambil secarik kertas yang berisi alamat Reza.
“Gimana Di? Kamu masih ingat nggak jalan ke rumahnya?”
“Em, aku lupa Mas. Ini kelihatannya beda. Seingat aku ada sekolah TK di samping rumahnya. Coba sebentar aku tanya.” Aku memang tak pandai mengingat jalan. Mas Rama mengangguk. Aku turun dari motor dan bertanya kepada beberapa tukang ojek yang sedang mangkal di perempatan jalan.
“Permisi Pak, tahu alamat ini?” Aku menunjukkan secarik kertas yang sudah mulai lecek.
“Oh, ini rumah pak Zaenal yang anaknya seminggu lalu meninggal ya de?”
Hah? Meninggal? Aku langsung tercekat. Tidak mungkin. Aku mencoba menghibur diriku. Mungkin saja anak Pak Zaenal  yang lain. Setahuku Reza memang masih punya kakak dan adik.
“Saya kurang tahu Pak, yang jelas seingat saya rumahnya dekat TK Tunas Bangsa.”
“Oh, iya benar de. Dari sini ade belok kanan. Kemudian ada papan reklame, ade belok kiri. Nah dari situ sudah kelihatan Tknya.”
“Terima kasih ya Pak.” Aku langsung berlalu meninggalkan pangkalan ojek itu. Otakku dijejali pikiran-pikiran negatif. Oh Tuhan, kumohon bukan. Bukan Reza yang dimaksud tukang ojek tadi. Hatiku tak karuan, kerinduanku padanya semakin hebat. Binar mata Reza tampak jelas berkelebat di pelupuk mataku. Oh Tuhan, tolong jangan.
“Di, gimana?”
“Dari sini kita belok kanan, terus ada papan reklame belok kiri. Nanti Tknya kelihatan kok. Gak jauh dari situ.” Aku langsung naik ke motor. Mas Rama menangkap raut wajahku yang gelisah.
“Kenapa sayang? Kamu gerogi mau ketemu pujaan hati? Hehe.” Mas Rama meledekku, padahal sebenarnya aku tahu ia hanya mencoba menghibur dirinya.
“Mas, aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Jangan-jangan...” Aku menggantung kalimatku.
“Kenapa sayang? Coba bilang sama Mas.”
“Ah sudahlah, mungkin aku terlalu berlebihan.”
“Ya, santai ya sayang.” Ujar Mas Rama sambil menyalakan starter motornya. Aku mengangguk.
Tak lebih dari lima belas menit kami sudah sampai di pelataran rumah Reza. Keadaannya tak banyak berubah. Hanya saja pohon bunga mawar yang saat aku kesini sedang berbunga kini hanya tinggal daunnya saja. Suara riang anak-anak TK tak lagi terdengar. Maklumlah waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Mas Rama memarkirkan motornya di bawah pohon jambu air yang sedang berbuah lebat. Rumah Reza terlihat sepi. Namun  pintunya terbuka. Ada beberapa toples kue kering dan air mineral tertata di atas meja.
“Ayo sayang, kita masuk.” Ajak Mas Rama. Aku mengikuti Mas Rama dari belakang.
“Permisi, permisi. Assalamu’alaikum.” Tak lama seorang wanita paruh baya keluar diikuti seorang laki-laki paruh baya dan anak remaja berumur sekitar 15 tahun. Wajah mereka tak asing bagiku. Mereka adalah orang tua Reza dan anak berumur 15 tahun itu adalah adik bungsunya.
“Waalaikumsalam.” Jawab mereka serempak. Senyum mengembang dari wajah cantik yang mulai keriput itu. Kamipun bersalaman. Mereka mempersilahkan kami duduk sambil mengingat-ingat wajahku.
“Oh, ini nak Diana yang waktu itu pernah diajak kesini sama Reza ya? Ayo silahkan duduk nak.”
Aku tersenyum mengiyakan. Ibu Reza membelai pipiku lembut. Matanya berkaca-kaca. Seperti ada luka dalam dari pancaran matanya yang redup. Sejenak suasana hening. Aku pun tak tahu hendak bicara apa. Nyaliku ciut. Kata-kata yang sudah ku rangkai untuk disampaikan kepada Reza seperti gelembung-gelembung sabun yang pecah. Akhirnya suara Mas Rama memecah keheningan.
“Jadi begini Pak, Bu. Calon istri saya ini temen dekatnya Reza, dan kami kesini berniat untuk mengundang Reza ke pernikahan kami. Selain itu...” Mas Rama melirikku dengan tatapan sendu. Aku hanya menunduk menunggu kata-kata yang selanjutnya akan keluar dari bibirnya.
“... selain itu ada sesuatu yang ingin Diana ucapkan pada Reza.”
Kedua orang tua Reza saling menatap satu sama lain. Aku melihat sudut mata ibunya basah. Raut wajah ayahnya tiba-tiba diselimuti kabut kepedihan. Ada apa ini? Pikiranku mulai melayang jauh. Jangan-jangan... Oh Tuhan! Tolong jangan bilang kalau...
“Reza sudah meninggal satu minggu lalu nak.” Hening. Suara ayah Reza menggantung. Ia menarik nafas sejenak.
“...Selama ini dia punya penyakit jantung, tapi dia tidak pernah mau untuk dirawat. Dia bilang dia masih kuat. Dia juga pernah bercerita tentang nak Diana. Dia bilang ingin sekali meminang gadis Bekasi itu andai saja dia sudah berumur dua puluh lima tahun. Duh Gusti nu Agung cepat sekali Engkau ambil anak bujangku.” Suara parau laki-laki paruh baya itu bagai petir yang menyambar pendengaranku. Bagai palu godam yang menghantam kepalaku. Sakit. Sesak menjalar ke rongga dadaku. Oh Tuhan, tolong bilang ini hanya mimpi! Tiba-tiba semua terasa gelap. Aku merasakan mas Rama menahan tubuhku. Hening. Hanya wajah Reza yang terlihat jelas. Aku tak ingat apa-apa lagi.
“Di, sayang. Buka mata kamu sayang.” Suara yang sudah akrab di telinga ku itulah yang pertama kali  aku dengar. Bau minyak kayu putih menyengat penciuman. Kepalaku terasa berat. Mataku sulit untuk dibuka, serasa ada perekat yang memaksaku untuk tetap menutup mata. Aku menatap langit-langit kamar yang asing bagiku. Dengan tatapan lemas aku memandang wajah Mas Rama yang dibalut kekhawatiran. Disampingnya aku lihat ayah Reza menatapku dengan tatapan haru. Aku tak mendapati ibu Reza disana. Selang beberapa menit ia datang dengan segelas teh hangat ditangannya.
“Alhamdulillah, nak  Diana sudah siuman.” Aku tersenyum tipis. Lagi-lagi aku teringat Reza. Aku masih tak percaya apa yang kudengar tadi. Pipiku basah. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Mas Rama masih setia duduk disampingku sambil menggenggam tanganku erat. Ia menciumi punggung tanganku.
“Maafkan Mas Di, maaf.” Mas Rama menitikkan air mata. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Tiba-tiba rasa bersalah menyelubungi hatiku.
“Harusnya Mas lebih perhatiin kamu Di. Maaf  Di, maaf.” Suara Mas Rama terdengar serak. Aku tak mampu berkata-kata. Aku masih larut dalam lamunanku. Aku pikir aku yang akan meninggalkan Reza, tapi mengapa dia yang malah pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini. Aku pikir perpisahan di antara kita hanyalah jarak antara Bekasi dan Bandung, ini bukan hanya jarak tapi juga dua alam yang  berbeda. Sebelumnya aku berharap aku masih bisa melihatnya walau dia bersama dengan orang lain. Setidaknya aku masih bisa melihat senyumnya. Oh Tuhan! Haruskah seperti ini skenario hidupku?
 “Kalian menginap dulu disini saja ya. Sudah malam nak. Kalian silahkan istirahat dulu. Besok pagi bapak antarkan kalian ke makam Reza.” Ujar Ayah Reza. Kami mengiyakan. Kebetulan tubuhku rasanya sudah remuk. Lelah, tak hanya tubuhku tapi juga hatiku. Mataku lebam dan perih. Pilu menderu bagai gulungan ombak yang menghantam sang karang. Kerinduanku tak tersampaikan. Ia terkubur dalam bersama jasad Reza yang kini telah bersemayam dibawah tanah merah.
            Mentari pagi hangat menyambut kota Bandung yang dibalut kabut putih. Sejuk. Tak pernah kudapati udara seperti ini di Bekasi. Airnya yang seperti es batu itu mampu menyegarkan sedikit pikiranku. Walau ingatan tentang Reza masih saja merajai otakku. Tapi aku berusaha menerima kenyataan yang ada. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjadi wanita yang lemah hanya karena cinta. Mulai detik ini aku harus bisa berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Aku akan mulai menjalani hidup baru dengan Mas Rama. Laki-laki yang sudah hampir tiga tahun menemani perjalanan hidupku. Laki-laki yang dengan sabar menghadapi sikapku masih kekenak-kanakan, dan laki-laki yang tegar meski aku tahu ia menahan sakit setiap aku sebut nama Reza. Aku tahu semua akan kembali pada-Nya. Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pemilik segalanya. Aku hanya akan mencintai Reza dalam untaian do’a. berharap ia selalu bahagia di sisi-Nya.
“Mari nak bapak antar. Sudah siap semuanya kan?”
“Sudah Pak. Mari.”
Kami menyusuri jalan setapak yang di kelilingi daun-daun ilalang. Tak lebih dari sepuluh menit kami sudah sampai di makam keluarga yang berada di kebun belakang rumah itu. Makam Reza sudah terlihat, tanahnya masih merah dan taburan bunga tujuh rupa masih tersisa. Tiba-tiba aku mencium semilir harum parfum Reza yang biasa ia gunakan. Za, apa kamu ada disini? Apa kamu lihat aku Za? Aku kangen kamu Za. Kenapa kamu gak nepatin janji kamu untuk nemuin aku? Lagi-lagi butir bening mengalir di pipiku. Ya, aku merasakannya ada di sampingku. Membelai lembut rambutku dan membisikkan kata cinta untukku. Reza ada di sampingku.
“Ayo sayang.” Mas Rama menggenggam tanganku dan menghapus air mata yang tumpah ruah di pipiku. Ku ratapi nisan yang bertuliskan Reza Anggara itu. Senyum Reza terukir jelas disana. Good bye Za. I miss you, i do. See you in another life. Aku memendamkan wajahku ke dalam pelukan Mas Rama. Maafkan aku Mas, maafkan aku. Mas Rama tetap tegar tak bergeming. Ia selalu seperti itu, selalu ada dan menenangkanku.


***
Malam itu cahaya bulan sempurna bersinar di angkasa raya. Bintang-gemintang bak taburan mutiara yang memenuhi malam yang pekat. Malam itu langit begitu mempesona. Sepoi angin membelai wajahku yang dibalut lelah. Memainkan rambutku yang sengaja ku urai. Menghilangakan sejenak sesak yang meraja. Hangat menjalar tubuhku ketika tangan kekarnya menyentuh punggung tanganku. Sinar matanya yang meneduhkan membuat jantungku berdegup kencang. Kami saling berpandangan. Kerinduan yang tak terperikan akhirnya tersampaikan. Aku mengamati setiap inci raut wajahnya yang memepesonakan. Ia menarik tanganku kedalam dekapannya. Membelai pipiku lembut. Membisikkan rayuan maut yang membuatku melayang dibuatnya. Kami begitu dekat. Bahkan aku bisa mendengar desahan nafasnya yang meremangkan bulu kudukku. Debar jantungku semakin hebat. Dan... sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Aku terpaku, membisu. Tak mampu bergerak, kaku. Oh Tuhan! Aku sudah tak setia.
Cinta?
Indah, bagai warna-warna pelangi yang terlukis di kanvas angkasa
Dua minggu, tak lama bagiku untuk mencintaimu
Kau adalah ciptahan Tuhan yang mempesona banyak mata
Hadirmu bagai hujan yang membasahi tanah gersang
Menyegarkan, menghidupkan kembali pohon-pohon yang mati
Dan mengukir kisah yang tak bisa kulupakan hingga ajal nanti
Cinta?
Haruskah serumit ini?
Kau datang mengalihkan pandanganku darinya
Kesepian yang mendalam mampu membuka pintu hati yang lama kukunci
Kau...
Pelangi yang hanya datang untuk pergi
Memeberi warna, namun tak abadi
Kau...
Mentari yang hangatkan pagi
Tersenyum memberikan arti
Tenggelam tanpa permisi
Kau...
Malam yang pekat
Memenjarakanku dalam gelap
Kau...
Rindu yang merantai
Memasungku dalam rasa yang tak terurai
Kau...
Bandung, cinta yang tak sampai
Meninggalkan rindu yang menikam
Abadi dalam mimpi di sepanjang malam


dari sudut ruang yang kelam