Jumat, 27 November 2015



This song reminds me everything about you. It was so beautiful when we walked on the same way. When we laughed just because of small thing, and when we could still look at each other.

Selasa, 24 November 2015

Mi


Allah, tolong jangan sekarang.
Nenekku menyuruhku pulang dari pesantren sore ini. Beliau bilang mimi sakit. Pikiranku langsung tak tenang. Mengajarpun rasanya tak bergairah. Pikiran-pikiran negatif muncul di benakku. Air mataku seolang tak bisa terbendung. Di sela-sela mengajar sesekali aku menyeka air mataku. Sungguh Allah, aku belum siap. Belum siap kehilangan. 

Akhir-akhir ini mimi memamng sering sakit. Tak kuat rasanya melihat tubuh perempuan yang selama ini merawatku terkulai lemah. Ketangguhan mimi menjalani hidup ini membuatku lebih kuat. Beliaulah tempatku bersandar. Mencurahkan segala keluh kesahku. Beliaulah yang selama ini penunjuk arahku tuk melangkah.
Allah, tolong jangan sekarang. Aku belum siap kehilangan. Sembuhkan beliau ya Allah.

Bahumu adalah sandaran di kala pilu
Nasehatmu adalah penunjuk arahku melangkah
Lembut belaianmu adalah kekuatanku di kala lemah
Ibu...
Jangan tinggalkan aku...

di sudut kamar

Senin, 23 November 2015

Senja


Sepinya hari yang ku lewati
Tanpa ada dirimu menemani
Sunyi ku rasa dalam hidupku
Tak mampu ku tuk melangkah
Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Yang seperti ini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Hampa kini yang ku rasa
Menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah
Dan kesedihanku

Lagu "Kesedihanku" dari Sammy Simorangkir itu mengalun memenuhi ruang kantor. Aku termenung menatap layar laptopku. Pagi ini aku tak bergairah. Sebenarnya aku malas pergi ke kantor. Namun pekerjaan yang menumpuk sudah menantiku.

"Ya ampun Vi, lo pagi-pagi ngegalau." Suara Sinta mengagetkanku.
"Siapa yang galau? Gue gak galau." Jawabku datar.
"Lah itu lagu lo. Itu tuh menampakkan kegalauan yang sangat akut, tahu!"
"Lebay banget sih lo."
"Lo kenapa sih?” Sinta menghampiriku dan memegang dahiku.
"Ih Sin lo tuh apa-apaan sih?"
"Ya gue khawatir aja. Kali aja lo sakit." Sahabatku yang rempong ini memang sangat perhatian. Walau kadang ia sangat menyebalkan.
"Gue ngedelcon dia Sin."
"Wha..wha..what???" Ekspresi Sinta yang berlebihan itu membuatku tersenyum sinis.
"Bentar, bentar. Siapa dulu ni? Mas Mas lo itu, apa brondong lo?"
"Ya Amar lah Sin, kan lo tahu gue gak punya kontak bbm Mas Riki."
"Gila lo! Ngapain lo pake acara delcon segala. Entar nyesel lo!"
"Gue bingung Sin, gue gak bisa kaya gini terus. Gue sayang sama Amar, tapi gue gak bisa mutusin Mas Riki. Lo tahu kan Sin ini udah menyangkut dua keluarga." Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Ya ampun Say, kasihan banget sih sahabat gue yang satu ini. Gue gak bisa bantu apa-apa Vi, kalau menurut gue sih seharusnya lo gak usah delcon dia. Itu tuh artinya lo memutuskan tali silaturahim. Lo tahu kan itu dilarang. Apa lagi lo bilang dia ganti nomor, terus nanti kalau ngundang gimana dong?”
“Ya, ampun Sin gue lagi serius ni.”
“Iya gue juga serius. Apa coba alasan lo delcon dia?”
“Rasanya tuh sakit ketika lihat potonya. Gue pengen chat, tapi kalau kita chatingan pasti bereantem. Gue ngerasa jahat banget di mata dia. Dia jadi sensi banget ke gue. Emang gue sejahat itu apa?”
“Iya, emang.” Celetuk Sinta.
“Sin...”
“Eh eh sorry sorry. Bukan itu maksud gue. Ya udah, ehm...ehm. Sekarang lo jalanin aja dulu. Biarkan kisah ini mengalir seperti air. Biar nanti waktu yang menjawabnya. Kalau kata Afgan sih ya, jodoh pasti bertemu..." Gaya Sinta sudah seperti sang penyair saja. 
"Hahaha, dasarr! Alayyy banget si temen gue."
"Nah gitu dong Vi. Smile! :) Ketawa, jangan cemberut mulu, tar mulut lo kaya siput tuh."
"Thanks Sin."
"Udah ah, tar si bos dateng lagi. Matiin tuh MP3 lo. Tar kumisnya makin angker kalau marah."
"Elo bisa aja Sin."
"Dah Vi. Ingat kata ayang gue ya, jodoh pasti bertemu."
Aku mengangkat jempolku. Sinta pun berlalu menghilang di balik pintu.

Sang senja terlukis indah di angkasa raya. Inilah kegiatan rutin yang aku lakukan di tengah-tengah pekerjaanku. Menatap senja dari jendela kantorku yang berada di lantai 6. Lukisan langit selalu menjadi hiburan di kala sepi. Apa lagi jika lembur sampai malam, biasanya aku menatap bintang dan rembulan dari jendela kantorku yang letaknya cukup strategis untuk melihat pemandangan langit. Hanya itu hiburanku. Ada rasa damai yang didatangkan sang langit ketika aku menatapnya. Biasanya aku memasang headset, sambil mendengar alunan-alunan lagu yang ada di list MP3 handphoneku.
Lagi-lagi raut wajahnya kembali terbayang di pelupuk mata. Seharian bekerja nyatanya tak mampu sedikitpun menghapus Amar dari ingatanku. Oh My Lord! Betapa ini sungguh menyiksa. Aku pasrah saja lah Tuhan, terserah Engkau. Atur saja oleh Mu, aku menurut saja. Aku menatap langit tak berkedip. Awan seolah menggambarkan sketsa wajahnya. Amar ada dimana-mana. Bahkan di setiap aku membuka mata. Tiba-tiba pintu ruanganku berderik dan ku lihat Sinta datang dengan tergopoh-gopoh.
"Vi... Vi.. huh. Vi...huh huh." 
"Elo kenapa sih Sin?" Sinta menghampiriku dan langsung menarik tanganku.
"Ayo cepet!"
"Apaan sih Sin? Eh bentar dulu dong, Sin!"
Sinta tak menghiraukan ucapanku. ia terus menarik tanganku sambil berlari-lari kecil menyusuri koridor kantor. Kami menaiki lift, Sinta menekan tombol angka satu yang berarti kami akan mendarat di lantai dasar. Sinta bahkan tak mengatakan apapun saat di dalam lift. Ia seperti orang yang baru melihat hantu. Hanya sesekali mengatur nafasnya. Aku semakin terheran-heran oleh sahabatku yang satu ini.
"Sin, elo apa-apaan sih?" Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya.
"Elo pasti gak percaya siapa yang sekarang lagi berdiri disana."
Sinta menunjuk ke arah pintu kantor yang terbuat dari kaca tembus pandang. Aku pun mengikuti arah tangannya. Aku memperhatikan dengan seksama seorang laki-laki yang sedang berdiri membelakangi pintu. Tubuh itu, tubuh itu tak asing bagiku. Jeket itu, jaket kulit hitam yang sering dipakainya. Dia... Amar? Aku berdiri mematung tak percaya. Kakiku seolah melangkah dengan sendirinya. Mataku hanya tertuju pada Amar. Seperti magnet, Amar seolah menarikku dengan kuat, aku terus melangkah ke arahnya. Aku tak mampu membendung langkahku untuk berlari menghampirinya. Amar, ya Amar. Bagaimana dia bisa ada disini? Bagaimana dia tahu alamat kantorku? Ah! Aku tak peduli bagaimana caranya dia tahu. Aku tak peduli. Yang jelas, sekarang dia ada di hadapanku. Dia disini, sedang menatapku penuh kerinduan. 

"Vi." Suara Amar terdengar seperti mimpi.
Aku menatapnya tak berkedip. Ia mendekatiku dan menarikku ke dalam pelukannya.
“I really miss you.” Ia berbisik di telingaku.
“I do. I do Amar.”
Aku pun membalas pelukannya. Aku tak akan melepaskannya. Tak akan.




Senja...
Terima kasih telah mempertemukan ku dengannya
Walau dalam mimpi
Walau dalam khayal yang tak pasti

Senja...
Terima kasih untuk melukis langint dengan sang jingga
Aku sungguh terpesona
Meski kadang kenangan manis menambah sengsara
Tapi biarlah
Tak sedikitpun mengurangi keindahanmu yang sudah terpatra
Abadi selamanya
Tak seperti kisah kita
Yang tak jelas arahnya...

Senja...
Bolehkah aku meminta
Pertemukanlah aku dengannya
Di dunia nyata




dari sudut kamar



Untuk perasaan yang tak terucap
Hanya bait-bait lagu yang mampu mengungkap
Biarlah jadi pengganti bibir yang kelu membisu

Untuk perasaan yang masih betah singgah
Tinggallah!
Biarkan aku merasakan merana dengan indah
Biar semua mengalir begitu saja
Seperti bait-bait yang mewakili hati...

Kamis, 19 November 2015

6 Juni 2015



Kamis, 10 September 2015.

Hari itu, Sabtu, 6 Juni 2015. Hari itu hari terakhirku di Pare, dan hari itu hari terakhirku melihatmu Yas. Kau tahu perasaanku Yas? Berat, berat sekali. Lebih berat dari pada aku harus meninggalkan kampung halamanku sendiri. Pare membuatku ingin berlama-lama disana Yas, apalagi setelah aku mengenalmu.

Hari itu kau mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan dasi bercorak segitiga warna hitam putih tulang. Kau datang ke kosku tergesa-gesa. Aku tahu kau pasti menyempatkan waktu untuk menemuiku ditengah jadwal kursus yang padat. Masih teringat jelas dalam ingatanku, kau membawa tas hitam yang berisi makanan ringan dan sebuah kado yang terbungkus kertas bergambar bunga mawar merah. Rapih. Aku tahu kau susah payah membungkusnya. Jujur, aku terharu. Ingin menangis seketika itu juga. Aku tak kuat Yas, tak kuat meninggalkan Pare, meninggalkan semua kenangan tentang kita. Hai’ah, Nina, Riska dan yang paling menyesakkan dada adalah... aku harus meninggalkanmu. Kamu yang selama ini mewarnai hari-hariku. Kamu yang selama ini menjadi penghibur laraku. Kamu yang 6 bulan menguji kesabaranku dan menguji kedewasaanku. Kamu Yas. Ya. Kamu, yang sampai detik ini selalu mengusik pikiranku.

Hari itu, BEC menjadi saksi pertemuan dan perpisahan kita di Pare Yas. Aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata kala itu. Sesak. Aku tak bisa berkata apa-apa, mulutku kelu. Perasaanku tak karuan. Bahagia karena aku akan pulang dan bertemu keluargaku, dan sedih bila harus meninggalkanmu. Entah apa yang seharusnya aku rasakan saat itu Yas. Aku hanya ingin tersenyum, memandangi wajahmu. Menatap senyummu, tertawa bersamamu, dan aku ingin tetap bersamamu Yas. Mengawasi makanan yang kau makan, bahkan aku ingin selalu jadi tempatmu berkeluh kesah. Akuuu, tak mau pergi Yas.

Hari itu, pukul 10.00 Kediri. Angkutan umum jurusan Pare-Kediri membawaku dan anak-anak komunitas JABODETABEK ke stasiun Kediri. Aku sudah beranjak meninggalkanmu Yas. Seketika perasaanku begitu hampa. Seperti ada yang hilang. Aku merasa kesepian yang mendalam. Mataku tak mampu lagi membendung air mata yang sejak pagi ku tahan Yas. Setetes butir bening jatuh menetes di pipiku. Namun aku segera menghapusnya. Tak ingin ada yang melihat. Toh mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Hari itu, kereta Brantas yang akan membawaku pulang, akan meninggalkan Pare pukul 13.30. Lagi – lagi, semua kenangan manis bersamamu kembali terbayang di memori otakku Yas. Saat aku mengantarmu pulang libur kenaikan level CTC-TC. Saat itu aku, Nina dan Riska nekat mengantarmu ke stasiun. Padahal aku belum punya SIM. Sebagai akibatnya kami ditilang pak polisi karena salah jalan. Haha. Tapi tenang saja Yas, kau jangan pernah merasa bersalah. Kau sudah memperingatiku sebelumnya. Memang aku keras kepala bukan? Seperti yang kamu sering bilang. Sadarkah Yas? Sebenarnya kita sama, sama-sama keras kepala. Haha.

Hari itu, ada rasa haru yang menderu hatiku. Taukah Yas? Hari itu, Deta, Mia mengantar pasangan mereka. Mereka menangis Yas. Zein memeluk Mia sambil meneteskan air mata. Iru menggenggam tangan Deta erat. Aku, diam. Menatap mereka haru. Aku berharap kamu ada disini Yas. Sekedar untuk menghiburku. Tapi tak apa, aku tahu kamu sibuk. Aku tak akan pernah menyalahkan keadaan.

Hari itu, lambayan tangan anak-anak TC 128 yang mengantar kami menjadi pemandangan yang begitu mengharukan. Untuk kesekian kalinya aku menangis Yas. Sesak menjalari rongga dadaku. Semua terasa begitu menyakitkan. Perpisahan. Tidak adakah kata yang lebih indah selain itu untuk menjauhkanmu dariku?

Kereta melaju dengan cepat. Aku duduk membisu menatap jendela. Tak minat untuk berkata-kata. Bang Safar yang duduk disampingku tak mengusikku, sepertinya dia mengerti apa yang sedang aku rasakan dan mungkin dia juga merasakannya. Pemandangan yang terlihat dari jendela kereta rasanya tak menarik selera. Tatapanku hampa. Hanya ada bayangmu yang tergambar jelas dipelupuk mata. Aku biarkan air mataku mengalir, aku enggan menghapusnya. Toh berkali-kali aku menyekanya ia tetap saja nakal ingin keluar. Sama sepertimu, nakal, keras kepala, menyebalkan, konyol. Huft.

 Let me take a breath!
Hari itu, aku memejamkan mata. Berharap bisa menghapus bayangmu sejenak. Nihil, raut wajahmu terlalu jelas dalam ingatanku Yas. Lagi-lagi butir bening yang menetes. Kenangan bersamamu terulang kembali Yas, seperti episode - episode film yang setiap partnya menampilkan adegan-adegan romantis. Begitulah kisah kita Yas.

Hari itu, malam. Aku terlelap. Setelah susah payah memejemkan mata. Aku tertidur Yas. Tidak pulas, sesekali bangun karena kakiku merasa sangat pegal.
Hari itu, sudah berganti esok Yas. Pukul 01.30 pagi, kereta Brantas yang membawaku tiba di stasiun Bekasi. Aku turun bersama Ikbal dan Zein. Stasiun tak pernah sepi, selalu ramai. Tak seperti hatiku saat ini. Hening. Mereka membawa tas penuhku yang besar. Aku membantu mereka membawa barang  yang tak terlalu berat. Masih dengan wajah kantuk aku berjalan keluar dari stasiun. Ayah dan Ibu Ikbal beserta adiknya menyambutnya riang. Mereka langsung memasukkan barang-barang Ikbal ke mobil. Ayah Zein langsung menghampiri Zein dan memeluknya, ia langsung membantu Zein membawa barang-barang. Aku,tak ada yang menjemputku. Aku tersenyum getir. Bersalaman dengan orang tua mereka. Aku bingung mau kemana. Aku tidak mau mengabari orang rumah, karena takut merepotkan. Tadinya aku ingin menunggu di stasiun saja sampai matahari terbit. Tapi ayah Ikbal menawarkan aku tumpangan walau hanya sampai pasar Bantar Gebang. Di sepanjang jalan ayah Ikbal bercerita banyak hal, lebih kepada menyombongkan diri menurutku. Yang lebih menyakitkan dia bilang orang tuaku orang tua yang tidak perhatian Yas. Sakit rasanya. Apa kamu juga berpikir seperti itu Yas?

Langit masih gelap. Namun bintang gemintang sempurna bersinar terang. Aku sampai di perempatan pasar. Menunggu Ayah menjemput. Berdiri sendirian di depan toko yang masih tutup. Disamping tukang nasi goreng yang masih ramai pembeli. Seperti gadis malam, mungkin itulah yang ada di pikiran orang-orang  pagi itu. Jam 02.00 pagi, pasar sudah mulai ramai. Aku tak merasa takut, hanya saja merasa tidak enak menanggapi tatapan orang-orang yang lewat.

Aku pulang Yas. Maaf meninggalkanmu sendirian. Maaf tak bisa mengawasimu makan. Maaf tak bisa disampingmu saat kamu kelelahan. Dan maaf, kisah ini terlalu menyakitkan. Aku yakin, Allah akan selalu menjagamu dan meridhoi setiap langkahmu.

Hari ini. Kamis, 10 September 2015. Malam. Di sudut kamar pesantren, bersekatkan lemari, berteman sepi. Kau meneleponku Yas. Menghilangkan sesak, menghentikan air mata yang terus mengalir sejak aku mulai mengetik curahan hati ini. Kau, menghilangkan sepi yang merantaiku di sudut kamar ini Yas. Menghapus sedikit rindu yang tak pernah berkurang sejak aku mengenalmu. Yas, bagaimanapun akhirnya episode kisah kita, ijinkan aku merindumu, mengenangmu, menyebut namamu dalam do’aku. Ijinkan aku berharap untuk menjemputmu di stasiun Bekasi untuk menepati janji di suratmu. Ijinkan Yas. Saat ini biarlah Allah yang menentukan skenario kisah kita kelak. Meskipun kita bukan manusia alim, aku yakin kasih sayang-Nya akan selalu mengalir untuk kita semua.


                                                               
Bekasi, 10 September 2015

                                                                   Di sudut kamar berteman sepi.

Hujan


Rabu, 11 November 2015

Musim penghujan telah datang. Semilir anginnya terasa begitu menyegarkan. Tanah mulai basah. Wangi debu yang tersiram hujan semilir menyengat penciuman. Bulir-bulir hujan membasahi dedaunan. Bening, terkena sinar sang mentari yang terpancar.

Musim penghujan telah datang. Mengingatkan sejuta kenangan. Hujan itu 1% mengandung cairan, 99% kenangan. Ya, itulah yang kau tulis di akun bbm mu tanggal 6 Novemeber 2015 lalu. Mungkin itu memang benar. Orang-orang bilang hujan itu romantis, sebagian lagi bilang hujan itu indah, menenangkan, dan selalu ada yang istimewa ketika hujan. Ya, salah satu orang yang setuju dengan kata-kata itu adalah aku.

Hujan. Pare mengenalkan hujan yang begitu romantis, indah, menyejukkan dan mengharukan.

Hujan. Kita pernah bersepeda ria dibawah derasnya hujan. Kita pernah minum susu murni bersama di “Bamboo town cafe”. Kita pernah berenang di tengah rinai hujan. Kita pernah menerobos kegelapan bersama sang hujan. Kita pernah tertawa, dan menangis di bawah hujan.

Hujan. Menyingkap rahasia yang aku simpan sejak kita berkenalan. Hujan. Bercerita tentang aku dan dia yang lebih lama mengisi relung hatiku. Hujan. menyaksikan air mata yang tumpah menahan sesak. Kebohongan yang terungkap. Sakit yang tak terperikan. Luka yang dalam. Menyakitkan.

Malam itu sebuah rahasia terungkap bersama hujan. Rahasia yang menghancurkan segalanya. Aku, telah berdua. Dan aku masih berani merajut kisah denganmu. Aku memulai semuanya dengan kebohongan. Aku memulainya dengan keegoisan. Namun, asal kau tahu, satu hal yang tak pernah berbohong dan selalu jujur. Perasaanku padamu. Perasaanku tulus, aku benar-benar jatuh hati padamu. Jatuh hati saat pertama kali aku melihatmu. Saat pertama kali kau memperkenalkan dirimu di depan kelas C. Entah bagaimana awalnya. Inilah kali pertama aku merasakan cinta pada pandangan pertama. Atau mungkin, suka pada pandangan pertama. Rasa suka yang menghadirkan cinta. Cinta yang sampai detik ini singgah di hatiku. Cinta yang entah sampai kapan akan tinggal disana.

Hujan. Bercerita semua tentang kita. Hujan, menahanmu untuk tetap tinggal. Dulu, di Pare. Namun sekarang, kita menatap hujan yang tak sama. Merasakan hujan yang berbeda. Aku di sini, Bekasi. Sedangkan dirimu disana, Bandung. Bekasi akan selalu menantimu. Berharap kau datang dan sejenak melepas segala kerinduan. Namun, jika memang sudah ada yang lebih indah dan membuatmu lebih betah berlama-lama dengannya, tinggallah! Tinggallah bersamanya. Berbahagialah, karena kau pantas mendapatkannya. Aku siap dengan rasa sakit yang lebih hebat. Aku siap menerima kenyataan bahwa kau telah jatuh hati pada gadis lain. Aku siap, karena aku sadar hujan hari ini, esok, dan seterusnya, tak akan pernah sama.

Tik... tik... tik...
Hujan datang sayang
Hujan yang kita nantikan
Hujan yang kita rindukan
Hujan yang mengukir kenangan
Sayang...
Aku termenung di bawah rinai sang hujan
Membiarkan bulir-bulirnya membasahi wajah yang pernah kau sentuh ini
Mataku terpejam
Membayangkan kau menggenggam tanganku
Dan menuntunku menyusuri jalan yang pernah kita lalui bersama
Sayang...
Bawa aku mengenang
Mengenang kembali kisah kita yang begitu indah
Mengenang lembaran-lembaran kisah kita yang mengharukan
Sayang...
Hujan membuatku merindu siang dan malam
Merindukanmu yang tak kunjung datang
Merindukanmu yang mengenalkanku pada indahnya hujan
Tawa yang tercipta di tengah hujan
Seakan memenuhi ruang ingatan
Entah sampai kapan ia akan tinggal
Aku hanya berharap hujan datang
Berharap bisa mengenangmu di setiap tetes demi tetesnya yang berjatuhan
Aku hanya berharap kau datang
Menghapus segala kegelisahan
Dan menghapus, air mataku yang tak henti berlinang


Hujan selalu punya cerita bukan? Maka inilah sepenggal kisah tentang hujan. Yang aku tulis diiringi tetesan air yang membentuk barisan, di tengah malam yang dibalut kegelapan, di sudut kamar yang tak terlalu terang. Inilah sepenggal kisah yang entah dari dari mana datangnya. Mengalir begitu saja, seperti genangan air hujan yang entah dimana ia akan bermuara. J


dari sudut kamar

Minggu, 15 November 2015

Ustadzah, jewer aku lagi dong!

Ustadzah, jewer aku lagi dong!

Mega merah dibalut warna jingga keunguan menghias senja di langit Cianjur. Dari balkon gedung Al-Badar aku pandangi lukisan langit yang mempesonakan itu. Namun keindahan itu rasanya tak mampu mengisi kehampaan hatiku. Hari itu hari pertamaku di bumi pesantren. Setelah lulus tsanawiyah aku memutuskan untuk belajar di sebuah pesantren bahasa yang cukup ternama di Cianjur. Aku memang tidak sendiri belajar disana. Turut serta dua teman satu sekolahku, yaitu Ami dan Nayla. Namun tetap saja rasa sendu masih menggelayutiku. 


“Riri!” Suara khas Nayla membuyarkan lamunanku.
“Eh Nay.”
“Heh, ayo siap-siap ke musholah.” Ajak Nayla.
“Iya ayo.” Aku melangkahkan kakiku dengan malas.
“Eh Ri udah denger belum tentang ustadzah yang killer itu?” Tanya Nayla dengan raut wajah yang sedikit horor.
“Belum denger aku. Emang sekiller apa?” Tanyaku penasaran.
“Aku juga gak tahu sih, tapi nanti setelah shalat maghrib bakal ada perkenalan guru-guru di musholah. Aku takut ni.”
“Takut kenapa kamu? Biasa aja kali. Sekiller apa si?” ujarku dengan nada menantang.

Usai pembacaan do’a para santriwati gaduh luar biasa. Termasuk aku, Nayla, dan Ami juga ikut serta menambah kegaduhan. Kami sibuk mengutarakan kerinduan kami pada rumah. Tiba-tiba kegaduhan mulai mereda ketika suara tegas nan berwibawa terdengar dari pengeras suara. Aku segera memalingkan wajahku ke sumber suara.
“Ri, Ri, itu tuh Ri ustadzah killer itu.” Tunjuk Nayla bersemangat.
“Shuut!” Aku dan Ami menatap Nayla bersamaan mengisyaratkan agar dia diam.

Seketika suasana hening. Para santriwati memusatkan perhatiannya pada sang Ustadzah. Mereka mendengarkan dengan seksama. Sungguh, Ustadzah ini memang luar biasa. Beliau mampu mengendalikan keadaan seketika. Para ustadzah bergantian menyampaikan pengumuman. Namun yang paling aku ingat adalah pengumuman dari ustadzah killer yang biasa dipanggil Ustadzah Yayu (nama samaran) itu. Beliau bilang, kami harus mulai menghilangkan bahasa daerah kami dan mulai belajar berbicara bahasa Inggris dan Arab. What? It must be terrible not to speak Bekasi language. Ujarku dalam hati.

Satu minggu berlalu. Desas desus mengenai ustadzah killer itu ternyata memang benar adanya. Setiap waktu shalat, pergi sekolah, piket, dan mengaji, beliau sudah beraksi dengan membawa hanger di tangannya. Beliau akan mengumpulkan santri yang terlambat di lapangan, kemudian memukul tangan mereka satu per satu. Syukurlah selama seminggu itu keberuntungan masih memihakku.

Suara bel yang menyeramkan itu menyeruak di tengah kekhusyuan kelas ku yang sedang belajar tajwid dengan ustadzah Yayu. Ternyata Beliau bisa bercanda juga. Bisikku pada Nayla teman sebangkuku. Ustadzahpun menutup kelas dengan membaca do’a kafaratul majlis. Para santri keluar berhamburan. Sebelum keluar kelas, Beliau berpesan  kepada kami agar berani untuk berbicara bahasa Arab atau Inggris.

“Ri, lihat deh ukhti tomboi yang sering ke kamar kita itu.” Nayla mengarahkan telunjuknya kepada Ukhti Wanda yang berjalan di tengah lapangan.
“Iya, kenapa Nay?” Tanyaku.
“Bajunya gak ganti-ganti deh kayanya.”
“Iya yah, ih najis deh gue mah.” Ucapku sekenanya.
Tiba-tiba dari belakang ada yang menjewer telinga kananku.
“Ih siapa sih?” Sewotku sambil berusaha melepaskan tangan yang menjewerku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sepasang mata menatapku dengan tajam.
“Eh Ustadzah, afwan Ustadzah.” Aku langsung menunduk. Sedangkan Nayla hanya diam terpekur di sampingku.
“Ngomong apa kamu tadi? Najis?” Tanya Beliau.
“Afwan Ustadzah.” Lagi-lagi hanya itu yang aku katakan. Karena baru itu yang aku bisa. Hehe.

Ustadzah menjewerku sampai depan kamarku. Aku ibarat anak kecil yang dijewer ibunya ketika merengek meminta mainan. Entahlah bagaimana ekspresi wajahku saat itu. Sebagian santri menertawakanku sepanjang jalan, sebagian lagi menatapku dengan ngeri, dan Nayla dengan setia berjalan di sampingku sambil menahan tawa. Oh My Lord, it was embarrassing!

Sejak kejadian itu aku semakin tertantang untuk berani berbicara bahasa Arab dan Inggris. Aku tidak mempedulikan grammar dan nahwu shorofku. Yang jelas aku berani berbicara. Aku ingin menunjukkan pada Beliau bahwa aku bukan anak nakal seperti yang tersirat dari tatapan Beliau. Bahkan aku bermimpi menjadi bagian bahasa ketika kelas 11 nanti. Bukan hanya anggota, tapi aku harus jadi ketua bagian bahasa. Tekatku dalam hati.

Setahun berlalu. Akupun sudah naik kelas 11. Sehari setelah pemilihan ketua umum IP4A (sebuah organisasi semacam OSIS di pesantren kami), Ustadzah dan ketua umum terpilih mengumumkan nama-nama pengurus. Hatiku berdegup kencang bukan main. Semua santri putri kelas 11 dikumpulkan di aula pesantren. Satu persatu devisi diumumkan oleh ketua umum.
“Ketua bahasa adalah... Ma’rifatul Ulfah.”

Oh My Lord! Aku tersenyum lebar. Beberapa temanku mengucapkan selamat. Usai pengumuman, Aca, ketua umum IP4A berbisik padaku. Ustadzah yang milih kamu loh Ri. Jika ingat itu rasanya aku ingin mengatakan, Ustadzah jewer aku lagi dong! Terima kasih Ustadzah. Semoga Beliau selalau dalam lindungan Allah subhanahu wata’ala. 

Tulisan ini dibuat untuk Lomba Menulis "Guruku Pahlawanku"

Dari sudut kamar

Tulisan-tulisan ini aku buat dari sudut kamar yang nyaman walau kadang menyesakkan. Inilah curahan hatiku yang ku rangkai di saat luka sedang mendera, di saat sesak merasuk rongga dada, dan di saat aku sadar bahwa hidupku sangat berharga.