Sabtu, 25 Juni 2016

Nyanyian Lara

Nyanyian Lara
Image result for gambar ilustrasi muslimah
Menyusuri tanah yang diselimuti aspal
Kudengar mesin-mesin hilir mudik berjalan
Cahaya senja menerpa raraiku yang muram
Hitam putih dunia berkumpul disana
Menyatu bersama rindu dan pilu...
Hari mengubah jubahnya
Dari putih jadi hitam
Sehitam tinta gurita
Melebur menyatu bersama deru waktu
Langit langit kamar sisakan memar bekas endapan hujan
Semua penat yang melumat
Menjilat otak yang sekarat
Dasar para penjilat!!!
Tubuhmu hanya seonggok daging yang tak bermanfaat
Bukankah hidup ini memberi tanpa diberi?
Ah sayang jiwaku nyeri
Ingin kubungkam mulut2 yang berbau tambakau
Kusulut saja biar terbakar
Oh Rabbi!
Serba serbi dunia ini mulai menggerogoti hati
Inginku kabur bersama jasad jasad yang tertidur
Gegap gempita dunia sembunyikan luka para nestapa
Tersudutku dalam mendung yang tak berujung
Terhempasku di atas matras batu cadas
Rabbi,
Lembutkanlah!
Lembutkanlah hati kami

Senin, 20 Juni 2016

Jari-jemari Surgawi (Part I)

Jari-jemari Surgawi 

(Part I)

"Sebegitu egois dan kekanak-kanakannya kah aku di mata kamu?" Rivana menatap Damar dengan nanar. Air matanya deras mengalir dari matanya yang bulat dan tajam.
"Kamu dari dulu emang nggak pernah sadar betapa egoisnya kamu Riv."
"Damar! Aku pikir pertemuan ini bisa memperbaiki semuanya. Aku pikir dengan aku ninggalin Kak Reyhan hubungan kita akan lebih baik, aku..."
"Stop Riv! Aku nggak pernah minta kamu untuk ninggalin dia demi aku. Dan kamu seharusnya tahu masalah dalam hubungan kita bukan hanya itu." Rivana tercengang mendengar perkataan Damar. Damar bahkan tak sedetikpun menatap wajah Rivana yang dibanjiri air mata.
"Okay, I'm leaving." Rivana membanting pintu kos Damar dengan keras. Damar mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa sangat menyesal telah berkata seperti itu kepada Rivana.

Tiba-tiba pintu kosnya kembali berderik. Damar segera membalikkan badannya dan berharap Rivana kembali menghampirinya.
"Eh bro si Riva kenapa tadi sampai nangis bombai gitu? Elo apain anak orang?" Ari menyembul dari pintu. Damar membisu. Ia segera mengambil jaket dan kunci motor yang ia letakkan di atas kasurnya.
"Mar! Damar! Mau kemana lo?" Ari mengikutinya sampai pekarangan kosnya.

Suara mobil ambulans membelah kemacetan jalan. Tubuh Rivana terkulai lemah dan bersimbah darah. Damar ikut serta di dalam mobil yang memiliki aura menyeramkan itu. Lututnya lemas, butir bening keluar dari sudut matanya. Pertengkaran kecil itu masih teringat jelas di benaknya. Rasa bersalah menggelayutinya. Ia tak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Ia tak henti-hentinya berdo'a kepada Tuhan untuk menyelamatkan Riva gadis yang sangat ia cintai itu.
"Maafin aku Riv, maaaff. Bangun Riv jangan tinggalin aku!" Suara Damar terdengar parau.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Rivana akhirnya dinyatakan koma. Ada retakan yang cukup parah di bagian kepalanya. Mengetahui bahwa anak angkatnya mengalami kecelakaan, Pak Frans semakin ketat menjaga Rivana dari jangkauan Damar. Laki-laki pengusaha tambak itu amat membenci Damar, apalagi setelah ia tahu bahwa selama Rivana menghilang ia ada bersama Damar.
"Jangan pernah coba-coba menampakkan wajahmu di hadapanku pemuda sialan!" Tanpa banyak berkomentar Damar berlalu meninggalkan rumah sakit dimana Rivana dirawat. Dengan hati yang hampa dan pikiran yang berkecamuk, Damar berjalan tanpa tujuan. Tanpa ia sadari sebuah mobil melaju kencang ke arahnya dan seharusnya dalam hitungan seperkian detik tubuh Damar sudah terkapar di aspal. Namun, Tuhan masih memberinya kesemptan hidup. Jari-jemari yang tak diketahui pemiliknya itu menarik bajunya hingga ia masih bisa selamat. Damar terkesiap. Iapun tak cepat menyadari apa yang baru saja terjadi padanya.
"Mas Damar baik-baik saja?" Seorang wanita cantik yang dibalut jilbab merah muda itu terlihat sangat khawatir.
"Oh, iya saya baik...baik saja." Wajah Damar terlihat pucat pasih dan kebingungan.
"Syukurlah. Mas Masih ingat saya kan?"
Damar menggeleng.
"Oh Mas sudah lupa ya? Saya Hanifah dokter yang menangani gadis yang tempo hari Mas bawa ke rumah sakit."
"Iya iya. Maaf dok. Saya lupa."
"Nggak apa-apa ko Mas. Oh iya panggil saja saya Hani nggak usah pakai dokter segala. Hati-hati Mas kalau jalan."
"Iya Hani." Jawab Damar singkat. Kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Hanifah. Hanifah sedikit kecewa dengan sikap Damar yang dingin. Ia menatap punggung Damar sampai menghilang di persimpangan jalan.

Sebulan berlalu dan Rivana masih terbaring tak berdaya di kasur rumah sakit yang berbalut seprai warna putih. Selama itu pula Damar larut dalam kesedihan dan rasa bersalah. Ia sangat merindukan Rivana gadis bermata bulat yang memiliki senyum manis itu. Segala hal ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari gadis itu. Namun tetap tak bisa. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Rivana. Apa lagi ia dengar bahwa gadis itu belum juga membaik.

Damar dan Rivana adalah sahabat kecil. Mereka sama-sama tinggal di panti asuhan. Ketika Rivana berusia 10 tahun dan Damar berusia 13 tahun, Pak Frans mengadopsi Rivana dan membawanya pergi keluar kota. Setelah 12 tahun berlalu mereka akhirnya dipertemukan kembali di universitas yang sama. Persahabatan yang mereka jalin ternyata berubah menjadi perasaan yang tak biasa. Mereka kembali memiliki hubungan yang intensif. Mereka sering melakukan banyak hal bersama. Untuk sekedar makan, mengerjakan tugas kampus atau menonton film di bioskop. Benih-benih cinta di dalam hati mereka berdua semakin tumbuh dan mekar. Namun dua hari sebelum kecelakaan, sebuah rahasia terungkap. Ternyata Rivana sudah memiliki seorang kekasih. Ia terlalu takut menceritakan hal itu pada Damar. Hingga pada suatu hari Reyhan datang ke kampus mereka dan memukuli Damar habis-habisan. Reyhan adalah anak pengusaha kaya yang ternyata teman Pak Frans ayah angkat dari Rivana. Pak Frans juga sangat marah ketika mengetahui bahwa Damar datang lagi dalam hidup Rivana. Dan ada satu hal lagi yang ternyata baru Damar ketahui tentang Rivana, Tuhan mereka tak lagi sama.

Suatu hari, saat langit berganti warna dan menghantarkan sang surya ke peraduannya. Damar memberanikan diri datang ke rumah sakit. Ia tak sanggup lagi menahan kerinduannya pada Rivana. Ia tak ingin apa-apa. Ia hanya ingin melihat wajah Rivana yang tetap mempesona meskipun lebam dimana-mana. Setelah memastikan tak ada orang yang menjaganya. Diam-diam Damar masuk ke kamar rawat Rivana yang mewah itu. Damar duduk di sampingnya dan menatap wajah Rivana sendu. Ingin rasanya ia memeluk gadis di hadapannya itu. Namun ia tak berani melakukannya. Bahkan selama ia mengenal Rivana ia tak pernah menyentuh Rivana sebagaimana Laki-laki dewasa menyentuh wanita. Damar selalu menjaga Rivana, ia tak mau menyakiti wanita yang dicintainya itu. Meski Damar laki-laki yang cuek, tidak religius, dan sholatnya saja masih bolong-bolong, tapi pesan-pesan Ibu panti dan Bapak panti tentang menjaga kehormatan seorang wanita, masih tersimpan rapi dan ia laksanakan dengan baik.
"Riv, bangun Riv! Aku kangen sama kamu. Bangunlah Riv! Maafkan aku sudah kasar sama kamu. Seharusnya aku nggak biarin kamu tinggal sama laki-laki tua biadab itu Riv. Tadinya aku pikir meninggalkan kamu adalah jalan terbaik, tapi itu malah menyiksamu dan membuat kamu jadi seperti ini. Apa lagi... kamu sampai harus pindah agama seperti ini Riv. Maafkan aku!" Tangis Damar pecah. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Selama hidupnya ia tak pernah merasakan kesedihan seperti yang ia rasakan saat ini. Bahkan saat Ayah dan Ibunya tewas dalam bencana alam dan membuatnya hidup di panti asuhan, ia tidak secengeng ini. Ia hanya belum siap kehilangan orang yang ia cintai lagi. Karena baru enam bulan terakhir ini ia bisa melihat senyuman Rivana secara nyata.

Tiba-tiba terdengar suara derik pintu. Damar pasrah. Tak apa jika ia harus ketahuan menjenguk Rivana oleh Pak Frans. Yang jelas ia hanya ingin memastikan bahwa Rivana masih bernafas.
"Mas Damar?" Damar merasa sangat lega ketika suara yang didengarnya bukanlah suara milik orang yang ia bayangkan.
"Oh dokter. Eh maksud saya Hani."
"Mas Damar bukannya..."
"Shuut, tolong kamu jangan cerita kalau saya datang menjenguk Rivana ya."
"I..iya Mas. Tenang saja saya cuma mau memeriksa keadaan dia."
"Han, tolong selamatkan Riva Han. Tolonglah!" Damar memohon.
"Mas Damar, saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk melayani semua pasien saya. Tapi biar bagaimanapun saya hanya manusia, semua kembali kepada sang Maha Pencipta, Allah Subhanahu wata'ala."
"Ia Han kamu benar. Maaf."
"Tidak apa-apa Mas. Baiklah Mas, saya permisi mau memeriksa keadaan Rivana. Mas mungkin bisa tunggu di luar. Karena ada beberapa bagian dalam yang akan saya cek."
"Oh iya silahkan Han. Lagi pula saya rasa cukup. Saya haru kembali pulang."
"Iya Mas. Hati-hati."
Damarpun melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar. Tiba-tiba ia ingat betapa tidak sopannya ia ketika meninggalkan Hani di pinggir jalan setelah menyelamatkan nyawanya.
"Oh iya Han. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya. Sebagai gantinya, apa kamu mau makan malam dengan saya?" Tawaran Damar tulus sebagai balas budi. Tapi siapa sangka tawaran sederhana itu bermakna lebih bagi gadis berjas putih itu
"Makan?"
"Iya."
"Emm."
"Kalau tidak mau berdua kamu bisa ajak temanmu atau mahrammu yang lain. Bagaimana?" Damar langsung menangkap raut wajah Hani yang ragu.
"Emm..."
"Emm itu artinya apa?"

#To be continued...

Minggu, 19 Juni 2016

Misteri Padang Ilalang

Misteri Padang Ilalang

Nyanyian nyanyian rindu itu selalu mengusikku
Menina bobokanku dengan sketsa wajahmu
Bisikkan-bisikkan itu selalu syahdu terdengar di telingaku
Melafalkan satu nama, merdu
Sayang...
Tadi langit begitu murung berawan
Sekarang, lihatlah!
Bintang-bintang menari mesra
Mengintip manja lewat kerlipnya
Ingatkah kau sayang?
Kita pernah berdiri sejajar menatap langit yang membentang
Merasakan malam yang dibalut kepekatan
Saling bercerita dan tertawa
Tuhan telah menautkan hati kita berdua
Namun, sekejap mata
Mendung gelap menerpa
Dia sembunyikan kau didalamnya
Lalu sisakan kosong yang menggema
Adakah misteri di balik sebuah perjumpaan dua insan?
Ngilu mengiris kalbu
Bertanya kuselalu
Pada rumput jalang yang liar
Pada bunga matahari yang tak berpijar
Tak satu katapun terlontar
Hanya menyisakan sepi berkepanjangan
Haruskah ku tanya pada rumput yang bergoyang?
Akankah ada jawaban?
Kisah kita
Misteri jarum dipadang ilalang






Bagaimana bisa hujan mengangguku, sedang hatiku selalu riang menyambutnya?
Bulirnya saja kubiarkan menyeka air mata, bagaimana bisa aku menolaknya?
Tidak, sama sekali tidak. Bahkan tak akan pernah.
Hanya saja, kini musim penghujan tak lagi sama.
Ia menyisakan rindu berkepanjangan yang menyiksa.