Dingin. Entah sudah berapa kali aku bulak-balik ke kamar mandi. Hari ini rasa malas mulai menghampiri lagi. Sebenarnya karena manusia astral itu alasannya. Semalam aku buka-buka line. And... poto cewek itu masih jadi poto profilnya di line. S**t!!! Sebel gue. Bukan sama dia sebenarnya. Lebih kepada diri sendiri. Kenapa masih ada rasa cemburu? Kenapa masih peduli dengan urusannya? Kenapa aku masih... Ah entahlah. Menyebalkan sekali memiliki perasaan seperti ini. Sperti jatuh di kubangan lumpur. Mau bangun juga jatuh lagi- jatuh lagi. Padahal kemarin-kemarin rasanya udah tenang banget nggak kepikiran tuh bocah tengil bin ngeselin tapi tetep ngangenin itu. Upsss!!! It's really complicated feeling. Satu sisi lain aku selalu merasa tenang saat sama dia. Satu sisi lain aku juga sangat merindukan dia yang lain. Oh My Lord! Wanita macam apa aku ini. Menyimpan dua pria dalam hatiku sekaligus. It sounds dumb. But I'm feeling now.
Hari ini seperti biasa aku harus masuk kelas. Menghadapi wajah-wajah mereka yang kadang begitu sangat menyebalkan dan kadang pula sangat memberiku kekuatan. Namun akhir-akhir ini aku terlalu jenuh dengan rutinitasku ini. Kehidupan di Pare masih membayangiku. AKu sangat merindukan kampung kecil itu. Jika bisa, ingin sekali rasanya aku kembali kesana. Perasaan ini seperti ingin buang air besar tidak tertahan alias kebelet. Emang si bisa dikeluarin, tapi rasanya pasti ada lagi-lagi. Huft. Ah entahlah! Aku hanya berharap semua akan lebih baik jika aku sudah menikah nanti.
Ada puisi sedikit
Setumpuk rindu ini,
membuat meja di otakku berserakan
kesana-kemari beterbangan
Tak enyah juga dia
Padahal waktu sudah merubah ulat jadi kupu-kupu
Agustuspun segera berlalu
Deru kipas angin membisingkan pikiran
Rumit tak kumengerti benang-benang kenyataan
Rindu?
Kata itu basi,
sudah kadaluarsa
Tapi malah jadi lezat seperti yogurt
Ah! Rindu...
kau selalu beriringan dengan sendu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar