Langit yang
Bercerita
Bel sekolah berbunyi. Waktunya pulang. Anak-anak berhamburan dari
ruang kelas. Sekolah mulai sepi. Hanya ada beberapa guru dan beberapa anak yang
belum dijemput. Salah satunya adalah Lala. Muridku yang satu ini memang selalu
telat dijemput. Lala sering bercerita tentang papanya yang seorang pengusaha
muda. Ia bilang papanya sering pergi ke luar kota. Saking sibuknya, bahkan aku
tak pernah bertemu sekalipun dengan papanya. Namun, Lala bilang papanya sangat
menyayanginya dan selalu menyempatkan diri untuk menelponnya. Ibunya sudah
meninggal dunia ketika melahirkannya. Ia
sering menangis di pelukanku jika sedang ingat mamanya. Ia diasuh oleh Bi Inah.
Bi Inahlah yang setiap hari mengantarnya ke sekolah.
“Lala belum dijemput?”
“Belum. Miss temenin aku ya.”
“Oke.” Seperti biasa aku setia menemaninya.
“Tunggu di sana yuk sayang!” Aku mengajaknya duduk di bangku taman
sekolah. Aku duduk di sampingnya. Sesekali aku menatap wajah cantiknya yang
polos.
“Sekarang papa Lala lagi tugas dimana?”
“Papa udah pulang Miss. Tadi papa bilang hari ini mau jemput Lala.”
“Wah Lala pasti seneng banget ya. Oh iya, Miss. ambil tas dulu ya.
Lala jangan kemana-mana. Kalau sudah dijemput panggil Miss. ya. Miss nggak akan
lama kok. Oke?”
“Oke Miss.” Lala tersenyum manis.
Aku
melangkahkan kaki menuju kelas. Merapikan buku-buku. Meluruskan barisan meja
dan kursi yang tak beraturan. Mematikan AC. Kemudian mengambil tas coklatku dan
langsung mengunci pintu kelas. Aku mengedarkan pandanganku ke bangku taman
tempat Lala duduk. Namun, betapa terkejutnya aku ketika tidak mendapatinya
disana.
“Lala!!!” Aku panik bukan main. Aku susuri semua sudut sekolah
sambil memanggil-manggil namanya. Sekolah sudah benar-benar sepi. Terakhir Bu
Diana yang pulang.
“Lala! Lala! Lalaaaa!!!”
Lututku lemas. Apa mungkin Lala sudah dijemput? Tapi mana mungkin.
Biasanya Bi Inah akan menemuiku dulu, aku juga sudah berpesan padanya untuk
menemuiku sebelum pulang. Tak ada satupun orang yang bisa ku tanyai. Pak satpam
yang biasa menjaga gerbang sedang cuti satu minggu karena istrinya baru
melahirkan. Oh My Lord!
Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi ruang otakku. Aku menarik
nafas. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada papanya? Oh Tuhan
tolong aku!
Tiba-tiba suara tawa terdengar dari arah gerbang. Seorang laki-laki
berkemeja hitam garis-garis menuntun Lala yang sedang asik menikmati es krim
ditangannya.
“Lala!!!” Aku menghampiri
mereka. Tatapanku hanya tertuju pada Lala. Aku langsung menarik Lala dari
genggaman tangan laki-laki itu. Memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Tanpa sadar ternyata laki-laki itu sedang
memperhatikanku. Aku menatap wajahnya tak berkedip. Aku terpaku membisu.
Laki-laki itu...
“Papa, ini Miss. Faira. Miss. maaf ya, tadi papa ajak aku beli es
krim dulu.” Suara Lala membuyarkan lamunanku.
“Oh iya gak apa-apa. Papanya Lala ya?”
“Iya, saya papanya?”
Aku tersenyum dan langsung menundukkan wajahku
“Papa! Papa! Ayo pulang!” Lala merengek manja.
“Iya, sebentar ya sayang. Lala tunggu di mobil ya sama Bi Inah.
Papa mau bicara sebentar sama Miss. Faira.”
Lala menuruti kata-kata papanya.
“Miss. boleh kita bicara sebentar?”
“Eh, i..iya.”
Kami duduk di
bangku taman yang tak jauh dari sekolah. Menatap kendaraan yang lalu lalang.
Hening. Hanya ada perasaan aneh yang tak seharusnya kembali datang.
***
“Ra?”
“Kamu???” Mataku terbelalak melihat sosok remaja tanggung yang
sedang asik merokok di depan gerbang rumahku.
“Kamu gila ya?” Aku langsung merebut rokok yang sedang dihisapnya.
“Kamu apa-apaan si?”
“Murid les ku dilarang merokok.” Ujarku sewot.
“Ih bawel lo. Ayo cepet ke rumah. Mamah udah marah-marah tuh.”
“Awas kamu ngerokok lagi di depanku.”
Han. Dia
adalah murid lesku yang paling menyebalkan. Bahkan dia tidak mau memanggilku kakak,
padahal usia kami terpaut tiga tahun. Han nakal, tapi ia pintar. Dari lima guru
les yang pernah mengajarnya, hanya aku yang paling lama bertahan.
“Hari ini kita belajar ngisi soal UN ya.”
“Iya.” Jawabnya singkat. Meski nakal Han selalu bersemangat jika
belajar. Sesekali ia melempariku dengan kulit kacang, memainkan rambutku yang
terurai, dan menatapku tak berkedip ketika aku sedang menjelaskan. Entahlah,
apa maksud tatapan itu. Tak ada jarak di antara kami. Kami seperti teman
sepermainan.
Hari demi hari
berlalu. Hampir setiap hari aku bersama Han. Kontrak mengajar yang hanya tiga
bulan, ditambah menjadi enam bulan sampai Han mengikuti UN (Ujian Nasional). Han
yang memintanya.
Han punya kebiasaan aneh setelah belajar. Ia selalu mengajakku menatap
langit sambil minum susu murni dari bukit di taman kota. Han yang pertama kali
mengenalkanku pada lukisan langit yang mempesonakan. Aku adalah orang yang
cuek, aku selalu sibuk dengan tugas kuliah dan pekerjaan sambilanku sebagai
guru les. Bagiku tak ada waktu untuk berleha-leha, sekalipun itu hanya untuk
menghabiskan waktu menatap ribuan bintang di langit. Tapi Han menyadarkanku
bahwa langit memberi ketenangan yang tak bisa diungkapkan.
“Kereeen! Aku gak nyangka malam ini langit indah banget.” Ujarku tersenyum
lebar sambil menatap sang malam.
“Maafin aku ya Ra, aku suka
jahilin kamu.”
“Oh, nggak apa-apa kok.”
Bersama Han rasanya aku selalu bahagia. Tingkah konyolnya selalu
menciptakan tawa. Aku senang memandangi wajahnya yang mempesona. Oh Tuhan,
ada apa dengan hatiku?
Malam Minggu tiba. Han mengajakku belajar di taman yang biasa kami
kunjungi. Dia bilang dia bosan belajar di rumah. Ia membawa tas hitamnya yang
berisi beberapa buku pelajaran. Awalnya aku menolak karena langit sepertinya
mendung dan akan turun hujan. Namun muridku yang menyebalkan ini memaksaku
untuk menuruti kemauannya.
“Cepet Ra, lama banget si kamu.”
“Iya sebentar.” Mamah Han tertawa kecil melihat tingkah kami.
“Han, yang sopan sedikit dong sama Ra. Dia kan guru kamu.” Ujar
Mamah Han yang biasa ku panggil ibu itu.
“Nggak apa-apa kok bu, maklumlah umur kita kan gak beda jauh, jadi
ya biasa aja.”
“Tuh kan Mah, Ra juga nggak keberatan.”
“Ya sudah, jangan malam-malam ya pulangnya. Ra, tolong pastikan Han
belajar ya. Ujian dah di depan mata.”
“Oke, siap bu.”
Aku pun naik ke motor gede berwarna putih milik Han.
“Pegangan!” Akupun menurut.
Angin malam
membelai rambutku yang ku kuncir sekenanya. Han mengeluarkan buku-buku pelajarannya.
Ia tampak serius, dan memang selalu seperti itu. Mungkin ia bosan belajar di
rumah. Tak apalah, hitung-hitung merefresh otak.
“Kenapa kamu lihatin aku gitu?” Han mengagetkanku yang sedang
memperhatikannya.
“Ih pede banget kamu. Udah cepet kita belajar!”
Han dengan
serius mengerjakan soal Matematika. Aku hanya diam dan menatap pemandangan
taman yang dihiasi pasangan muda mudi yang sedang asik menikmati malam Minggu. Dasar
anak remaja jaman sekarang. Aku aja yang sudah umur segini belum pernah ngerasain malam Mingguan. Ujarku
dalam hati.
“Heh pesek! Bukannya bantuin malah liatin orang pacaran.”
“Tugasku kan cuma ngajar Bahasa Inggris. Itu bukan bidangku.”
“Enak banget kamu ngomong gitu. Kamu gak inget tadi pesen mamah?
Hah?”
“Ih, kamu tuh ganggu kehusyuanku tahu!” Ujarku sewot.
“Hahaha. Kamu gak pernah malam mingguan ya Ra. Kasihan banget sih.”
Han menertawakanku.
Aku diam tak berkomentar. Anak ingusan ini memang selalu membuatku
naik darah. Aku cemberut dan mendiamkan Han beberapa saat. Aku sedang malas
menanggapinya.
“Ra.” Tiba-tiba aku merasakan hangat menjalar ke seluruh tubuhku.
Han menyentuh tanganku. Ia mulai menggenggamnya. Dan aku tak bergerak
sedikitpun bagai patung. Desiran syahdu itu kembali menyeruak di rongga hatiku.
Aku menatap Han tak berkedip. Mata kami bertemu. Dan aku merasa jantungku
berdebar dengan kencang. Sangat kencang. Mungkin Han bisa mendengarnya.
“Maafin aku.” Nada suara Han kali ini membuat aku melihat sisi lain
dari remaja yang baru kelas dua belas ini. Ia menatapku tak biasa. Perasaan
itu, perasaan yang selama ini ku simpan itu terasa semakin hebat.
“Eh, iya. Santai aja kali.” Aku menarik tanganku dari genggamannya.
Aku mencoba mengatur perasaanku. Han membereskan buku-bukunya dan memasukkannya
ke dalam tas.
“Kamu mau kemana?”
“Udahan ah belajarnya. Lagian Mamah nggak ngerti banget, masa malam
Minggu masih aja suruh belajar.”
“Kamu tuh ya, ayo keluarin lagi bukunya.” Aku mencoba merebut tas
Han.
“Kamu apa-apaan si Ra? Udahlah kita nikmatin aja malam ini. Mamah
nggak akan marah kok. Lagian kasian juga kamu nggak pernah dapet hiburan.” Aku
menunduk. Debaran itu masih terasa di hatiku. Han, tolong jangan buat aku
makin jatuh cinta padamu!
“Ra, gimana hubungan kamu sama si Satria baja hitam itu?”
“Em, baik.” Jawabku singkat. Han memang selalu memanggil Mas Satria
dengan sebutan itu.
“Oh.”
“Kenapa?”
“Oh iya, setelah ujian kamu berarti bukan guru lesku lagi ya?”
“Iya.” Aku tersenyum getir.
Tak terasa kebersamaanku dengan Han sudah enam bulan. Remaja delapan
belas tahun ini membuatku terpesona pada saat pertama aku melihatnya. Han
bertubuh tinggi, kulitnya putih untuk ukuran laki-laki. Alisnya hitam tebal,
bulu matanya lentik, dan bola matanya coklat terang. Bukan hanya rupanya, Han
adalah anak yang baik meski sering membuatku kesal.
“Ra, aku sayang kamu.” Sontak akupun langsung menengok ke arahnya. “...Aku
sayang kamu Ra, tapi nggak berharap apa-apa kok dari kamu. Jadi kamu mau
ngelakuin apapun terserah kamu. Jangan merasa bersalah. Kamu mau nikah sama si
Satria baja hitam itu juga nggak apa-apa.”
Aku tak bisa berkata-kata. Tak terasa butir bening jatuh dari sudut
mataku. Aku menangis. Sesak menjalari rongga dadaku. Aku tak bisa membohongi
perasaanku pada Han. Aku mencintainya. Rasanya aku ingin sekali mengatakan
padanya bahwa sudah sejak lama aku memendam perasaan ini.
Telah lebih dari seratus hari kami lewati bersama. Hujan dan panas
sang mentari, telah menjadi saksi kebersamaan aku dan Han. Entah bagaimana bisa
perasaan itu bekerja begitu cepat. Ia bagai racun yang menjalar ke sekujur
tubuhku dan mematikanku dalam sekejap. Ya, sekejap saja aku telah jatuh hati
pada Han. Padahal aku telah berdua. Tiba-tiba, alunan lagu “Good bye” dari Air
Supply memecah keheningan. Aku ambil ponselku dan melihat nama sang pemanggil.
“Siapa?” Tanya Han.
“Em?”
“Si Satria baja hitam ya?”
Aku tak menjawab.
“Angkat aja kali.” Kali ini raut wajah Han berubah drastis. Akupun
mengangkatnya dengan ragu sambil menatap wajah Han yang memandang lurus ke
depan. Aku beranjak dari bangku taman, mencari tempat yang agak jauh dari Han.
“Ha...halo Mas?”
“Halo, kamu udah pulang ngajar?” suara Mas Satria terdengar
bersemangat dari ujung telepon.
“Sudah Mas.”
“Aku jemput ya.”
“Tumben Mas, biasanya anti malam mingguan. Em gak usah Mas, aku
udah di jalan mau pulang.”
“Aku lagi kangen banget sama kamu ni.Ya sudah kalau gitu tunggu aku
di rumah ya. Nanti aku telepon kalau mau berangkat. Dah sayang.”
“A..aku...” Belum selesai aku bicara Mas Satria sudah menutup
teleponnya. Tak biasanya ia mengajakku bertemu.
Aku kembali
duduk di samping Han.
“Ayo pulang.” Ajak Han kasar.
Sikap dingin Han kembali membekukan hatiku. Padahal baru saja ia
terlihat begitu lembut dan penuh kasih sayang. Tiba-tiba, setitik air jatuh
dari langit. Gerimis. Langit seolah bisa merasakan kepedihan ini.
“Ayo pulang Ra!” Ajak Han sambil menarik tanganku.
“Nggak mau! Apa kamu nggak butuh jawaban dariku?” Tanyaku.
“Nggak. Buat apa? Sikapmu selama ini ke aku udah cukup
menggambarkan perasaan kamu ke aku.”
Hujan turun semakin deras. Han memberikan jaketnya padaku. Namun
kali ini tak seperti di sinetron-sinetron Indonesia yang romantis. Ia
melemparkan jaketnya kepadaku.
“Nih pake!”
“Duh, kasar banget sih kamu.” Jaket itu meluncur ke mukaku dan aku
tak sempat menghindarinya.
“Udah cepet pake. Kalau kamu sakit entar aku yang disalahin lagi.”
Aku hanya diam.
“Sini.” Han menarik jaketnya dari genggamanku. Ia menarik tanganku
dan memakaikan jaketnya ke tubuhku dengan kasar.
“Kamu gak dingin?”
“Pertanyaan bodoh.” Jawab Han.
“Udah pakai aja sama kamu.” Aku mencoba melepaskan jaket yang sudah
menempel di tubuhku.
“Ra, tolong pakai jaketnya. Dingin, hujannya udah makin deras. Ayo
kita pulang.” Han menuntunku. Lembut tatapannya mencabik-cabik perasaanku. Aku
telah memberi harapan yang berlebih untuk dirinya. Dan aku membiarkan perasaan
ini berkembang di hatiku.
Tinggal
beberapa detik lagi akad nikah dimulai. Aku mematung pasrah saat seorang penata
rias mendandaniku. Kebaya putih menempel di tubuhku lengkap dengan kain batik
berwarna coklat tua.
“Ayu sekali.” Ujar sang perias. Aku hanya tersenyum tipis.
Han tak datang saat itu. Aku tak melihatnya lagi setelah kita
melewati malam minggu bersama di taman. Setelah ia tahu bahwa pernikahanku
hanya tingal dua minggu lagi, ia menghilang. Mamahnya bilang ia memutuskan
untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Tapi entah dimana. Han melarang
mamahnya mengatakan padaku. Rupanya ia benar-benar ingin melupakanku.
“Ra,
yakinlah aku akan kembali. Walau dalam mimpi.
Melihatmu
bahagia bersamanya adalah bahagiaku.
Biarkan
aku mencintai kamu dengan caraku. Selamat menempuh hidup baru.”
Itulah pesan terakhirnya di hari
pernikahanku. Air mataku tak terbendung lagi. Han benar-benar pergi.
***
Lima belas
tahun berlalu dan kini ia ada di hadapanku. Han. Dia sudah menjadi pria dewasa
sekarang. Tubuhnya kekar. Tatapan matanya tajam. Ia terlihat gagah. Usianya
berarti saat ini sudah tiga puluh tiga tahun. Waktu berlalu begitu cepat. Han
mungkin telah membuang perasaannya jauh jauh. Tapi tidak denganku. Melihat dia ada
di hadapanku saat ini, seperti menghidupkan kembali bunga-bunga cinta yang
telah layu di hatiku.
“Ra, aku dengar Mas Satria baja hitammu meninggal. Aku turut
berduka cita.”
“Iya. Sudah setahun yang lalu.” Aku menjawab singkat.
“Sudah lama sekali ya Ra, kita nggak ke tempat ini. Aku kangen
sekali rasanya.”
“Aku juga sama.” Entah mengapa aku kehabisan kata-kata.
“Kamu masih cantik seperti dulu Ra, tak banyak berubah. Kamu tahu?
Lala sering cerita tentang kamu. Dia bilang dia suka ditemani sama Mrs. Faira
kalau belum dijemput. Ternyata itu kamu.”
“Em, aku baru tahu kalau kamu ternyata papanya Lala. Lala juga
sering cerita tentang papanya yang sok sibuk itu.”
“Hahaha. Iya, aku terlalu sibuk, jadi Bi Inah yang mengurus Lala.
Kamu pasti sudah tahu tentang istriku kan? Lala pasti butuh sekali sosok ibu.”
“Iya. Maaf ya.”
“Sudah lah Ra. Santai saja. Ra, anakmu umur berapa?” Pertanyaan itu
seketika membuat hatiku diselimuti mendung.
“Aku... belum punya anak.”
“Oh, maaf Ra, bukan maksudku...”
“Iya, santai saja Han. Mas Satria mandul. Huh, seharusnya aku nggak
ngomongin ini sama kamu. Sorry sorry.” Han seolah memahami kepedihan hatiku.
Selama menikah dengan Mas Satria aku memang tak benar-benar bahagia. Setelah
sepuluh tahun menikah Mas Satria jatuh sakit. Dan aku dengan setia merawatnya.
Aku tak mungkin meninggalkannya. Aku tak tega. Biar bagaimanapun ia selalu
berusaha membuatku bahagia.
Dari jauh Lala
berlari menghampiri kami.
“Papa... ayo pulang. Ajak Mrs. Faira juga ya Pa.”
“Nggak usah sayang, Mrs. naik angkutan umum saja.” Kataku sambil
mengelus rambut Lala.
“Ayolah Mrs.” Ujar Lala panuh harap. Aku tak bisa menolaknya.
Akhirnya aku menerima tawaran Lala.
Pagi datang.
Sang mentari bersinar terang. Hari ini hari Minggu, aku menghabiskan waktuku
untuk mengerjakan pesanan kue dari para tetangga.
“Ra, ada tamu.” Ibu memanggilku di dapur. Sejak Mas Satria
meninggal aku memutuskan tinggal bersama ibu. Lagi pula kasihan beliau, Ayah
sudah lama meninggal dunia.
“Siapa Bu?”
“Itu loh Ra, murid les kamu yang dulu. Han.”
Han? Untuk apa dia kemari? Aku
langsung menemuinya di ruang tamu. Ternyata Lala juga ikut dengannya.
“Ra.”
“Oh, iya Han.”
“Good morning Miss.” Lala menghampiriku dan mencium tanganku.
“Morning honey.” Aku mengelus rambutnya seperti biasa.
Ibu membawakan Han dan Lala dua cangkir teh hangat dan dua toples
makanan ringan. Ketika ibu hendak kembali ke dapur Han menahannya.
“Bu, boleh saya meminta waktu ibu sebentar?” Ujar Han.
Otakku dipenuhi tanda tanya. Ibu duduk di sampingku.
“Maaf Bu, langsung saja. Kalau
dulu ibu tahu Raihan suka bercanda dan tak pernah serius. Maka untuk kali ini
ijinkan Raihan untuk serius berbicara dengan ibu.”
Aku dan ibu berpandangan.
“Iya, nak Han mau bilang apa?”
“Bu, boleh Raihan melamar anak ibu?”
Betapa kagetnya aku mendengar kalimat yang terucap dari mulut Han.
Ibu melirikku. Aku tak mampu berkata-kata. Lima belas tahun berlalu apakah
perasaan itu benar-benar masih ada?
“Ibu serahkan semuanya pada Ra. Karena ini adalah menyangkut hidup
Ra.”
“Bagaimana Miss. Faira? Mau ya jadi mama aku?” Wajah polos Lala
menatapku penuh harap.
“Bagaimana Ra? Ini mungkin terlalu cepat. Aku tahu kita sudah lama
tak bertemu. Tapi kamu bukan orang baru dalam hidupku Ra.” Han menatapku dengan
tatapan yang sama seperti lima belas tahun lalu. Aku diam sejenak. Mencoba
merangkai kata untuk menjawab. Dan akhirnya hanya satu kata yang terucap.
“Baiklah Han.”
Lala langsung
memelukku. Han tersenyum manis sekali. Senyuman yang hilang setelah lima belas
tahun itu kini kembali. Senyuman itulah yang akan menghiasi hariku setiap pagi.
Sang langit seolah ikut tersenyum bahagia. Langit begitu cerah, secerah takdir
Sang Penguasa Langit yang tak pernah terduga.
dari sudut kamar