Senin, 14 Desember 2015

Lukisan Jalan yang Usang

Lukisan Jalan yang Usang
Minggu, 13 Desember 2015

Hari ini aku pulang kuliah sendiri. Mengendarai motor sendiri, meminjam motor bibi. Motorku yang digadaikan belum bisa ditebus. Entah kapan aku bisa menebusnya. Biasanya aku selalu pergi dengan Mira. Hari ini dia pergi kuliah dengan Danar. Karena ia kurang sehat dan tidak kuat membawa motor katanya. Aku hanya mengiyakan. Toh aku sadar mana mungkin harus setiap minggu aku numpang dengannya.

Gerimis menemaniku sepanjang jalan. Aku mengendarai motor dengan pelan. Biar lebih santai. Aku ingin menikmati perjalananku. Ya, bagiku pemandangan di pinggir jalan selalu memberikan kesan yang mendalam. Ada banyak warna yang disajikan. Merah, hitam, putih, bahkan kelam. Tak berwarna,abstrak. Semua mengajarkanku makna kehidupan.

Keluar dari gang kampus aku melihat beberapa pekerja galian lstrik yang berlumuran tanah merah masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Baju mereka sudah tak terlihat warnanya. Kotor, dan keringat mereka sudah bercampur dengan air hujan. Aku terus memacu sepeda motorku. Membilukkannya ke kanan di perempatan jalan. Melihat tukang pengarah jalan yang menggodaku. Dan aku hanya tersenyum seperti biasa. Tak mau terlalu juteklah, toh senyumkan ibadah. Hehe.

Motor honda beat pop keluaran terbaru itu terus melaju dengan kecepatan sedang. Aroma tak sedap sudah tercium dari jarak kurang dari seratus meter. Aroma yang sudah akrab dengan penciuman. Ya, bau tumpukan sampah yang sudah menggunung menghiasi sepanjang jalan menuju kampusku. Kalian pasti tak asing dengan Tempat Pembuangan Sampah ( TPU) Bantar Gebang bukan? Ya, itulah the most famous place in Bekasi. Gunung sampah menjadi pemandangan yang setiap Sabtu dan Minggu aku lihat, aku cium, dan aku rasakan atmosfernya. Aku menambah kecepatan motorku. Tak tahan. Tapi aku harus tetap menghargai dengan tidak menutup hidungku dengan tangan. Takut masyarakat sekitar tersinggung. Kebetulan aku tidak memakai masker hari ini, lagi pula percuma, baunya tetap menusuk menembus ketebalan maskerku. Namun selalu ada pelajaran di balik semua ini. Aku salut dengan orang-orang yang tinggal di sekitar TPU ini. Setiap hari mereka harus bersahabat dengan bau sampah yang menusuk penciuman. Belum lagi mobil-mobil pengangkut sampah yang bikin bulu kuduk merinding dengan muatannya yang overload. Sungguh pemandangan yang tak asing lagi bagiku kini. Apa lagi jika musim penghujan seperti ini. Tidak terbayang bagaimana becek dan rujitnya lingkungan rumah mereka. Belum lagi mereka harus menanggung berbagai penyakit yang siap menyerang mereka kapanpun. Namun sungguh, inilah yang menguatkanku dan membuatku selalu merasa lebih bersyukur. Jalan melukiskan hikmah kehidupan di tengah hiruk pikuk kesibukan manusia yang tak pernah mati. Di tengah hilir mudik berbagai macam kendaraan, dari sepeda sampai mobil-mobil pejabat yang mewah. Kadang aku berpikir, apa kaca mobil para pejabat didisain khusus untuk tidak dapat melihat pemandangan memilukan yang terpampang jelas di pinggir jalan? Mereka tega memakan uang rakyat, menghabiskan miliaran rupiah untuk memuaskan nafsu dunia semata. Tidakkah mereka lihat kaki-kaki kecil yang melangkah tanpa lelah mencari nafkah demi sesuap nasi tak berkuah, kulit keriput yang terpanggang terik mentari siang, dan para pedagang asongan yang basah oleh keringat yang bercucuran? Oh My Lord! Inikah nasib negeri yang selama ini ku banggakan?

Rasa dingin merasuk ke rongga dadaku. Dada yang selama beberapa hari ini terasa begitu berat dan sesak. Gerimis telah berganti hujan. Memang tidak deras, tapi cukup membuat kerudung paris merah mudaku basah. Motor yang ku kendarai terus melaju. Aku memutuskan untuk membeli susu moo di tempat langgananku dan bu Vina. Selain murah dan pas di lidah penjual susu moo langganan kami itu memliki wajah yang rupawan. Hehe. Tapi sayang dia sudah beristri dan beranak satu. Setelah membeli susu rasa vanila aku melanjutkan perjalanan. Pulang. Tetes demi tetes air langit membasahi wajahku. Kunikmati setiap butirnya dengan hati yang lebih tenang dari sebelumnya. Ternyata susu moo abang ganteng langgananku mampu mendinginkan hatiku. Hehe. Sambil mengendarai motor aku meminum susu rasa vanila itu. Serasa seluruh ruas jalan itu milikku aku tidak mempedulikan orang-orang yang memandangku aneh. Sudahlah, yang penting aku tidak menghalangi jalan mereka. Aku sesekali menatap langit, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Berharap sedikit beban tersingkirkan. Namun lagi-lagi wajahnya memenuhi ruang otakku. Apakah di Bandung juga hujan? Apakah dia sedang mengingatku sekarang? Ah tanyaku hanya pertanyaan tanpa jawaban. Tiba-tiba aku terngiang-ngiang kata-kata yang pernah dia ucapkan.

“Kamu itu sudah menempati seperempat hatiku, setengah buat keluargaku dan seperempat lagi buat istriku nanti. Jadi kalau kamu jadi istriku, kamu sudah punya full setengah hati aku”

Aku hanya membalasnya dengan tawa kala itu. Masih ku ingat dengan jelas, ia menggerakkan jari telunjuk ke dadanya seolah sedang menggambar di atas kanvas dan dengan wajah konyol ia mengeluarkan kata-kata di atas. Oh Allah! Kapan rindu ini akan berakhir? Jaga dia Ya Allah, selipkan kerinduan ini ke dalam hatinya. Terima kasih untuk anugerah yang tidak ada habisnya untukku.

Senyumnya terlukis jelas dalam imajiku. Sambil mengendarai motor aku terus menyempurnakan bayangannya. Mengingat bagaimana gayanya berbicara, tertawa, dan mengenang semua episode-episode kisahku yang hanya berjalan singkat, enam bulan. Cinta, entah apalah itu namanya. Yang jelas pertemuan itu menjadi lembaran-lembaran kisah yang akan ku simpan di lubuk hatiku yang terdalam, bersama sketsa wajahnya yang menghiasi hariku setiap detik. Entah sampai kapan.

Tak sadar aku sudah sampai di perempatan jalan dekat rumah. Susu moo yang ku beli sudah habis tak tersisa. Aku membelokkan setang motor ke arah kanan. Dan, sampailah aku di halaman rumahku. Rumah yang menjadi tempat pulang dan menjadi tempat istirahat yang dibuat dengan hasil keringat ayah. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan keluarga kami yang dipenuhi dengan pertengkaran-penrtengkaran yang membosankan. Rumah yang menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Dan rumah yang telah menjaga segala rahasia dari hiruk pikuk dunia.


dari sudut rumah yang mulai ramah



Senin, 07 Desember 2015

Langit yang Bercerita

Langit yang Bercerita
Bel sekolah berbunyi. Waktunya pulang. Anak-anak berhamburan dari ruang kelas. Sekolah mulai sepi. Hanya ada beberapa guru dan beberapa anak yang belum dijemput. Salah satunya adalah Lala. Muridku yang satu ini memang selalu telat dijemput. Lala sering bercerita tentang papanya yang seorang pengusaha muda. Ia bilang papanya sering pergi ke luar kota. Saking sibuknya, bahkan aku tak pernah bertemu sekalipun dengan papanya. Namun, Lala bilang papanya sangat menyayanginya dan selalu menyempatkan diri untuk menelponnya. Ibunya sudah meninggal dunia ketika melahirkannya.  Ia sering menangis di pelukanku jika sedang ingat mamanya. Ia diasuh oleh Bi Inah. Bi Inahlah yang setiap hari mengantarnya ke sekolah.
“Lala belum dijemput?”
“Belum. Miss temenin aku ya.”
“Oke.” Seperti biasa aku setia menemaninya.
“Tunggu di sana yuk sayang!” Aku mengajaknya duduk di bangku taman sekolah. Aku duduk di sampingnya. Sesekali aku menatap wajah cantiknya yang polos.
“Sekarang papa Lala lagi tugas dimana?”
“Papa udah pulang Miss. Tadi papa bilang hari ini mau jemput Lala.”
“Wah Lala pasti seneng banget ya. Oh iya, Miss. ambil tas dulu ya. Lala jangan kemana-mana. Kalau sudah dijemput panggil Miss. ya. Miss nggak akan lama kok. Oke?”
“Oke Miss.” Lala tersenyum manis.
                Aku melangkahkan kaki menuju kelas. Merapikan buku-buku. Meluruskan barisan meja dan kursi yang tak beraturan. Mematikan AC. Kemudian mengambil tas coklatku dan langsung mengunci pintu kelas. Aku mengedarkan pandanganku ke bangku taman tempat Lala duduk. Namun, betapa terkejutnya aku ketika tidak mendapatinya disana.
“Lala!!!” Aku panik bukan main. Aku susuri semua sudut sekolah sambil memanggil-manggil namanya. Sekolah sudah benar-benar sepi. Terakhir Bu Diana yang pulang.
“Lala! Lala! Lalaaaa!!!”
Lututku lemas. Apa mungkin Lala sudah dijemput? Tapi mana mungkin. Biasanya Bi Inah akan menemuiku dulu, aku juga sudah berpesan padanya untuk menemuiku sebelum pulang. Tak ada satupun orang yang bisa ku tanyai. Pak satpam yang biasa menjaga gerbang sedang cuti satu minggu karena istrinya baru melahirkan. Oh My Lord!
Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi ruang otakku. Aku menarik nafas. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada papanya? Oh Tuhan tolong aku!
Tiba-tiba suara tawa terdengar dari arah gerbang. Seorang laki-laki berkemeja hitam garis-garis menuntun Lala yang sedang asik menikmati es krim ditangannya.
 “Lala!!!” Aku menghampiri mereka. Tatapanku hanya tertuju pada Lala. Aku langsung menarik Lala dari genggaman tangan laki-laki itu. Memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.  Tanpa sadar ternyata laki-laki itu sedang memperhatikanku. Aku menatap wajahnya tak berkedip. Aku terpaku membisu. Laki-laki itu...
“Papa, ini Miss. Faira. Miss. maaf ya, tadi papa ajak aku beli es krim dulu.” Suara Lala membuyarkan lamunanku.
“Oh iya gak apa-apa. Papanya Lala ya?”
“Iya, saya papanya?”
Aku tersenyum dan langsung menundukkan wajahku
“Papa! Papa! Ayo pulang!” Lala merengek manja.
“Iya, sebentar ya sayang. Lala tunggu di mobil ya sama Bi Inah. Papa mau bicara sebentar sama Miss. Faira.”
Lala menuruti kata-kata papanya.
“Miss. boleh kita bicara sebentar?”
“Eh, i..iya.”
                Kami duduk di bangku taman yang tak jauh dari sekolah. Menatap kendaraan yang lalu lalang. Hening. Hanya ada perasaan aneh yang tak seharusnya kembali datang.
***
 “Ra?”
“Kamu???” Mataku terbelalak melihat sosok remaja tanggung yang sedang asik merokok di depan gerbang rumahku.
“Kamu gila ya?” Aku langsung merebut rokok yang sedang dihisapnya.
“Kamu apa-apaan si?”
“Murid les ku dilarang merokok.” Ujarku sewot.
“Ih bawel lo. Ayo cepet ke rumah. Mamah udah marah-marah tuh.”
“Awas kamu ngerokok lagi di depanku.”
                Han. Dia adalah murid lesku yang paling menyebalkan. Bahkan dia tidak mau memanggilku kakak, padahal usia kami terpaut tiga tahun. Han nakal, tapi ia pintar. Dari lima guru les yang pernah mengajarnya, hanya aku yang paling lama bertahan.
“Hari ini kita belajar ngisi soal UN ya.”
“Iya.” Jawabnya singkat. Meski nakal Han selalu bersemangat jika belajar. Sesekali ia melempariku dengan kulit kacang, memainkan rambutku yang terurai, dan menatapku tak berkedip ketika aku sedang menjelaskan. Entahlah, apa maksud tatapan itu. Tak ada jarak di antara kami. Kami seperti teman sepermainan.
                Hari demi hari berlalu. Hampir setiap hari aku bersama Han. Kontrak mengajar yang hanya tiga bulan, ditambah menjadi enam bulan sampai Han mengikuti UN (Ujian Nasional). Han yang memintanya.
Han punya kebiasaan aneh setelah belajar. Ia selalu mengajakku menatap langit sambil minum susu murni dari bukit di taman kota. Han yang pertama kali mengenalkanku pada lukisan langit yang mempesonakan. Aku adalah orang yang cuek, aku selalu sibuk dengan tugas kuliah dan pekerjaan sambilanku sebagai guru les. Bagiku tak ada waktu untuk berleha-leha, sekalipun itu hanya untuk menghabiskan waktu menatap ribuan bintang di langit. Tapi Han menyadarkanku bahwa langit memberi ketenangan yang tak bisa diungkapkan.
“Kereeen! Aku gak nyangka malam ini langit indah banget.” Ujarku tersenyum lebar sambil menatap sang malam.
 “Maafin aku ya Ra, aku suka jahilin kamu.”
“Oh, nggak apa-apa kok.”
Bersama Han rasanya aku selalu bahagia. Tingkah konyolnya selalu menciptakan tawa. Aku senang memandangi wajahnya yang mempesona. Oh Tuhan, ada apa dengan hatiku?
Malam Minggu tiba. Han mengajakku belajar di taman yang biasa kami kunjungi. Dia bilang dia bosan belajar di rumah. Ia membawa tas hitamnya yang berisi beberapa buku pelajaran. Awalnya aku menolak karena langit sepertinya mendung dan akan turun hujan. Namun muridku yang menyebalkan ini memaksaku untuk menuruti kemauannya.
“Cepet Ra, lama banget si kamu.”
“Iya sebentar.” Mamah Han tertawa kecil melihat tingkah kami.
“Han, yang sopan sedikit dong sama Ra. Dia kan guru kamu.” Ujar Mamah Han yang biasa ku panggil ibu itu.
“Nggak apa-apa kok bu, maklumlah umur kita kan gak beda jauh, jadi ya biasa aja.”
“Tuh kan Mah, Ra juga nggak keberatan.”
“Ya sudah, jangan malam-malam ya pulangnya. Ra, tolong pastikan Han belajar ya. Ujian dah di depan mata.”
“Oke, siap bu.”
Aku pun naik ke motor gede berwarna putih milik Han.
“Pegangan!” Akupun menurut.
                Angin malam membelai rambutku yang ku kuncir sekenanya. Han mengeluarkan buku-buku pelajarannya. Ia tampak serius, dan memang selalu seperti itu. Mungkin ia bosan belajar di rumah. Tak apalah, hitung-hitung merefresh otak.
“Kenapa kamu lihatin aku gitu?” Han mengagetkanku yang sedang memperhatikannya.
“Ih pede banget kamu. Udah cepet kita belajar!”
                Han dengan serius mengerjakan soal Matematika. Aku hanya diam dan menatap pemandangan taman yang dihiasi pasangan muda mudi yang sedang asik menikmati malam Minggu. Dasar anak remaja jaman sekarang. Aku aja yang sudah umur segini  belum pernah ngerasain malam Mingguan. Ujarku dalam hati.
“Heh pesek! Bukannya bantuin malah liatin orang pacaran.”
“Tugasku kan cuma ngajar Bahasa Inggris. Itu bukan bidangku.”
“Enak banget kamu ngomong gitu. Kamu gak inget tadi pesen mamah? Hah?”
“Ih, kamu tuh ganggu kehusyuanku tahu!” Ujarku sewot.
“Hahaha. Kamu gak pernah malam mingguan ya Ra. Kasihan banget sih.” Han menertawakanku.
Aku diam tak berkomentar. Anak ingusan ini memang selalu membuatku naik darah. Aku cemberut dan mendiamkan Han beberapa saat. Aku sedang malas menanggapinya.
“Ra.” Tiba-tiba aku merasakan hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Han menyentuh tanganku. Ia mulai menggenggamnya. Dan aku tak bergerak sedikitpun bagai patung. Desiran syahdu itu kembali menyeruak di rongga hatiku. Aku menatap Han tak berkedip. Mata kami bertemu. Dan aku merasa jantungku berdebar dengan kencang. Sangat kencang. Mungkin Han bisa mendengarnya.
“Maafin aku.” Nada suara Han kali ini membuat aku melihat sisi lain dari remaja yang baru kelas dua belas ini. Ia menatapku tak biasa. Perasaan itu, perasaan yang selama ini ku simpan itu terasa semakin hebat.
“Eh, iya. Santai aja kali.” Aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku mencoba mengatur perasaanku. Han membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kamu mau kemana?”
“Udahan ah belajarnya. Lagian Mamah nggak ngerti banget, masa malam Minggu masih aja suruh belajar.”
“Kamu tuh ya, ayo keluarin lagi bukunya.” Aku mencoba merebut tas Han.
“Kamu apa-apaan si Ra? Udahlah kita nikmatin aja malam ini. Mamah nggak akan marah kok. Lagian kasian juga kamu nggak pernah dapet hiburan.” Aku menunduk. Debaran itu masih terasa di hatiku. Han, tolong jangan buat aku makin jatuh cinta padamu!
“Ra, gimana hubungan kamu sama si Satria baja hitam itu?”
“Em, baik.” Jawabku singkat. Han memang selalu memanggil Mas Satria dengan sebutan itu.
“Oh.”
“Kenapa?”
“Oh iya, setelah ujian kamu berarti bukan guru lesku lagi ya?”
“Iya.” Aku tersenyum getir.
Tak terasa kebersamaanku dengan Han sudah enam bulan. Remaja delapan belas tahun ini membuatku terpesona pada saat pertama aku melihatnya. Han bertubuh tinggi, kulitnya putih untuk ukuran laki-laki. Alisnya hitam tebal, bulu matanya lentik, dan bola matanya coklat terang. Bukan hanya rupanya, Han adalah anak yang baik meski sering membuatku kesal.
“Ra, aku sayang kamu.” Sontak akupun langsung menengok ke arahnya. “...Aku sayang kamu Ra, tapi nggak berharap apa-apa kok dari kamu. Jadi kamu mau ngelakuin apapun terserah kamu. Jangan merasa bersalah. Kamu mau nikah sama si Satria baja hitam itu juga nggak apa-apa.”
Aku tak bisa berkata-kata. Tak terasa butir bening jatuh dari sudut mataku. Aku menangis. Sesak menjalari rongga dadaku. Aku tak bisa membohongi perasaanku pada Han. Aku mencintainya. Rasanya aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa sudah sejak lama aku memendam perasaan ini.
Telah lebih dari seratus hari kami lewati bersama. Hujan dan panas sang mentari, telah menjadi saksi kebersamaan aku dan Han. Entah bagaimana bisa perasaan itu bekerja begitu cepat. Ia bagai racun yang menjalar ke sekujur tubuhku dan mematikanku dalam sekejap. Ya, sekejap saja aku telah jatuh hati pada Han. Padahal aku telah berdua. Tiba-tiba, alunan lagu “Good bye” dari Air Supply memecah keheningan. Aku ambil ponselku dan melihat nama sang pemanggil.
“Siapa?” Tanya Han.
“Em?”
“Si Satria baja hitam ya?”
Aku tak menjawab.
“Angkat aja kali.” Kali ini raut wajah Han berubah drastis. Akupun mengangkatnya dengan ragu sambil menatap wajah Han yang memandang lurus ke depan. Aku beranjak dari bangku taman, mencari tempat yang agak jauh dari Han.
“Ha...halo Mas?”
“Halo, kamu udah pulang ngajar?” suara Mas Satria terdengar bersemangat dari ujung telepon.
“Sudah Mas.”
“Aku jemput ya.”
“Tumben Mas, biasanya anti malam mingguan. Em gak usah Mas, aku udah di jalan mau pulang.”
“Aku lagi kangen banget sama kamu ni.Ya sudah kalau gitu tunggu aku di rumah ya. Nanti aku telepon kalau mau berangkat. Dah sayang.”
“A..aku...” Belum selesai aku bicara Mas Satria sudah menutup teleponnya. Tak biasanya ia mengajakku bertemu.
                Aku kembali duduk di samping Han.
“Ayo pulang.” Ajak Han kasar.
Sikap dingin Han kembali membekukan hatiku. Padahal baru saja ia terlihat begitu lembut dan penuh kasih sayang. Tiba-tiba, setitik air jatuh dari langit. Gerimis. Langit seolah bisa merasakan kepedihan ini.
“Ayo pulang Ra!” Ajak Han sambil menarik tanganku.
“Nggak mau! Apa kamu nggak butuh jawaban dariku?” Tanyaku.
“Nggak. Buat apa? Sikapmu selama ini ke aku udah cukup menggambarkan perasaan kamu ke aku.”
Hujan turun semakin deras. Han memberikan jaketnya padaku. Namun kali ini tak seperti di sinetron-sinetron Indonesia yang romantis. Ia melemparkan jaketnya kepadaku.
“Nih pake!”
“Duh, kasar banget sih kamu.” Jaket itu meluncur ke mukaku dan aku tak sempat menghindarinya.
“Udah cepet pake. Kalau kamu sakit entar aku yang disalahin lagi.”
Aku hanya diam.
“Sini.” Han menarik jaketnya dari genggamanku. Ia menarik tanganku dan memakaikan jaketnya ke tubuhku dengan kasar.
“Kamu gak dingin?”
“Pertanyaan bodoh.” Jawab Han.
“Udah pakai aja sama kamu.” Aku mencoba melepaskan jaket yang sudah menempel di tubuhku.
“Ra, tolong pakai jaketnya. Dingin, hujannya udah makin deras. Ayo kita pulang.” Han menuntunku. Lembut tatapannya mencabik-cabik perasaanku. Aku telah memberi harapan yang berlebih untuk dirinya. Dan aku membiarkan perasaan ini berkembang di hatiku.
                Tinggal beberapa detik lagi akad nikah dimulai. Aku mematung pasrah saat seorang penata rias mendandaniku. Kebaya putih menempel di tubuhku lengkap dengan kain batik berwarna coklat tua.
“Ayu sekali.” Ujar sang perias. Aku hanya tersenyum tipis.
Han tak datang saat itu. Aku tak melihatnya lagi setelah kita melewati malam minggu bersama di taman. Setelah ia tahu bahwa pernikahanku hanya tingal dua minggu lagi, ia menghilang. Mamahnya bilang ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Tapi entah dimana. Han melarang mamahnya mengatakan padaku. Rupanya ia benar-benar ingin melupakanku.
“Ra, yakinlah aku akan kembali. Walau dalam mimpi.
Melihatmu bahagia bersamanya adalah bahagiaku.
Biarkan aku mencintai kamu dengan caraku. Selamat menempuh hidup baru.”
Itulah pesan terakhirnya di hari pernikahanku. Air mataku tak terbendung lagi. Han benar-benar pergi.
***
                Lima belas tahun berlalu dan kini ia ada di hadapanku. Han. Dia sudah menjadi pria dewasa sekarang. Tubuhnya kekar. Tatapan matanya tajam. Ia terlihat gagah. Usianya berarti saat ini sudah tiga puluh tiga tahun. Waktu berlalu begitu cepat. Han mungkin telah membuang perasaannya jauh jauh. Tapi tidak denganku. Melihat dia ada di hadapanku saat ini, seperti menghidupkan kembali bunga-bunga cinta yang telah layu di hatiku.
“Ra, aku dengar Mas Satria baja hitammu meninggal. Aku turut berduka cita.”
“Iya. Sudah setahun yang lalu.” Aku menjawab singkat.
“Sudah lama sekali ya Ra, kita nggak ke tempat ini. Aku kangen sekali rasanya.”
“Aku juga sama.” Entah mengapa aku kehabisan kata-kata.
“Kamu masih cantik seperti dulu Ra, tak banyak berubah. Kamu tahu? Lala sering cerita tentang kamu. Dia bilang dia suka ditemani sama Mrs. Faira kalau belum dijemput. Ternyata itu kamu.”
“Em, aku baru tahu kalau kamu ternyata papanya Lala. Lala juga sering cerita tentang papanya yang sok sibuk itu.”
“Hahaha. Iya, aku terlalu sibuk, jadi Bi Inah yang mengurus Lala. Kamu pasti sudah tahu tentang istriku kan? Lala pasti butuh sekali sosok ibu.”
“Iya. Maaf ya.”
“Sudah lah Ra. Santai saja. Ra, anakmu umur berapa?” Pertanyaan itu seketika membuat hatiku diselimuti mendung.
“Aku... belum punya anak.”
“Oh, maaf Ra, bukan maksudku...”
“Iya, santai saja Han. Mas Satria mandul. Huh, seharusnya aku nggak ngomongin ini sama kamu. Sorry sorry.” Han seolah memahami kepedihan hatiku. Selama menikah dengan Mas Satria aku memang tak benar-benar bahagia. Setelah sepuluh tahun menikah Mas Satria jatuh sakit. Dan aku dengan setia merawatnya. Aku tak mungkin meninggalkannya. Aku tak tega. Biar bagaimanapun ia selalu berusaha membuatku bahagia.
                Dari jauh Lala berlari menghampiri kami.
“Papa... ayo pulang. Ajak Mrs. Faira juga ya Pa.”
“Nggak usah sayang, Mrs. naik angkutan umum saja.” Kataku sambil mengelus rambut Lala.
“Ayolah Mrs.” Ujar Lala panuh harap. Aku tak bisa menolaknya. Akhirnya aku menerima tawaran Lala.
                Pagi datang. Sang mentari bersinar terang. Hari ini hari Minggu, aku menghabiskan waktuku untuk mengerjakan pesanan kue dari para tetangga.
“Ra, ada tamu.” Ibu memanggilku di dapur. Sejak Mas Satria meninggal aku memutuskan tinggal bersama ibu. Lagi pula kasihan beliau, Ayah sudah lama meninggal dunia.
“Siapa Bu?”
“Itu loh Ra, murid les kamu yang dulu. Han.”
Han? Untuk apa dia kemari? Aku langsung menemuinya di ruang tamu. Ternyata Lala juga ikut dengannya.
“Ra.”
“Oh, iya Han.”
“Good morning Miss.” Lala menghampiriku dan mencium tanganku.
“Morning honey.” Aku mengelus rambutnya seperti biasa.
Ibu membawakan Han dan Lala dua cangkir teh hangat dan dua toples makanan ringan. Ketika ibu hendak kembali ke dapur Han menahannya.
“Bu, boleh saya meminta waktu ibu sebentar?” Ujar Han.
Otakku dipenuhi tanda tanya. Ibu duduk di sampingku.
 “Maaf Bu, langsung saja. Kalau dulu ibu tahu Raihan suka bercanda dan tak pernah serius. Maka untuk kali ini ijinkan Raihan untuk serius berbicara dengan ibu.”
Aku dan ibu berpandangan.
“Iya, nak Han mau bilang apa?”
“Bu, boleh Raihan melamar anak ibu?”
Betapa kagetnya aku mendengar kalimat yang terucap dari mulut Han. Ibu melirikku. Aku tak mampu berkata-kata. Lima belas tahun berlalu apakah perasaan itu benar-benar masih ada?
“Ibu serahkan semuanya pada Ra. Karena ini adalah menyangkut hidup Ra.”
“Bagaimana Miss. Faira? Mau ya jadi mama aku?” Wajah polos Lala menatapku penuh harap.
“Bagaimana Ra? Ini mungkin terlalu cepat. Aku tahu kita sudah lama tak bertemu. Tapi kamu bukan orang baru dalam hidupku Ra.” Han menatapku dengan tatapan yang sama seperti lima belas tahun lalu. Aku diam sejenak. Mencoba merangkai kata untuk menjawab. Dan akhirnya hanya satu kata yang terucap.
“Baiklah Han.”
                Lala langsung memelukku. Han tersenyum manis sekali. Senyuman yang hilang setelah lima belas tahun itu kini kembali. Senyuman itulah yang akan menghiasi hariku setiap pagi. Sang langit seolah ikut tersenyum bahagia. Langit begitu cerah, secerah takdir Sang Penguasa Langit yang tak pernah terduga.


dari sudut kamar