Senin, 15 Agustus 2016

Dingin

Dingin. Entah sudah berapa kali aku bulak-balik ke kamar mandi. Hari ini rasa malas mulai menghampiri lagi. Sebenarnya karena manusia astral itu alasannya. Semalam aku buka-buka line. And... poto cewek itu masih jadi poto profilnya di line. S**t!!! Sebel gue. Bukan sama dia sebenarnya. Lebih kepada diri sendiri. Kenapa masih ada rasa cemburu? Kenapa masih peduli dengan urusannya? Kenapa aku masih... Ah entahlah. Menyebalkan sekali memiliki perasaan seperti ini. Sperti jatuh di kubangan lumpur. Mau bangun juga jatuh lagi- jatuh lagi. Padahal kemarin-kemarin rasanya udah tenang banget nggak kepikiran tuh bocah tengil bin ngeselin tapi tetep ngangenin itu. Upsss!!! It's really complicated feeling. Satu sisi lain aku selalu merasa tenang saat sama dia. Satu sisi lain aku juga sangat merindukan dia yang lain. Oh My Lord! Wanita macam apa aku ini. Menyimpan dua pria dalam hatiku sekaligus. It sounds dumb. But I'm feeling now.

Hari ini seperti biasa aku harus masuk kelas. Menghadapi wajah-wajah mereka yang kadang begitu sangat menyebalkan dan kadang pula sangat memberiku kekuatan. Namun akhir-akhir ini aku terlalu jenuh dengan rutinitasku ini. Kehidupan di Pare masih membayangiku. AKu sangat merindukan kampung kecil itu. Jika bisa, ingin sekali rasanya aku kembali kesana. Perasaan ini seperti ingin buang air besar tidak tertahan alias kebelet. Emang si bisa dikeluarin, tapi rasanya pasti ada lagi-lagi. Huft. Ah entahlah! Aku hanya berharap semua akan lebih baik jika aku sudah menikah nanti.
Ada puisi sedikit

Setumpuk rindu ini,
membuat meja di otakku berserakan
kesana-kemari beterbangan
Tak enyah juga dia
Padahal waktu sudah merubah ulat jadi kupu-kupu
Agustuspun segera berlalu
Deru kipas angin membisingkan pikiran
Rumit tak kumengerti benang-benang kenyataan
Rindu?
Kata itu basi,
sudah kadaluarsa
Tapi malah jadi lezat seperti yogurt
Ah! Rindu...
kau selalu beriringan dengan sendu...

Jumat, 12 Agustus 2016

Pilu, kematian

Innalillahi Wainnailaihi raji'uun. Telah berpulang ke Rahmatullah sahabat seperjuanganku di BEC Pare-Kediri TC 128 MAM 2015. Kirim Al-fatihah dulu guys, buat Dita temenku ini.
Summpaahh! Aku shocked banget pas denger temen kamarku nunjukkin dp BBM temennya yang captionnya ngasih tahu kalau yang difoto itu udah meninggal. Pas aku lihat ternyata dia adalah temen satu angkatanku di BEC, TC 128. Dia kelas Holand. Meskipun nggak terlalu dekat sama dia, tapi dia sering nyapa. Say hai gitu. Dan menurut kacamata aku ni, dia anaknya friendly banget. Temennya banyak soalnya. Selain itu yang bikin agak nyesek and ikut sedih banget juga, waktu pas aku pulang bareng sama geng JABODETABEK. dia ikut nganter. Soalnya waktu itu denger-denger dia lagi deket sama Bang Aldi. Ups, kok malah jadi ngegosip. Katanya si dia meninggalnya karena sakit pembengkakan otak dan sempat koma. Akhirnya pada pukul 8 WITA ia menghembuskan nafas terakhir. Ya begitulah kematian. Tak pernah tahu kapan akan datang. Dan kepada siapa hari ini ia menghampiri. Entah nanti setelah aku menulis ini, nanti sore, or besok. Yang jelas kematian pasti datang menjelang. Oke, selain do'a ada seuntai kata untuk teman seperjuanganku di BEC ini.

Masih diselubungi kabut pilu
Ku gerakkan jari-jemariku
Menggoreskan tinta tentang kepergianmu
Duhai sobat!
Cepat sekali kau pergi
Usia muda, indah rupa, dan akhlak mulia
Jadi kenangan yang tersisa
Senyum ceria di lembar-lembar foto
Hiasi sosial media
Dengan caption "Innalillahi wainnailaihi raji'un"
Begitu katanya
Tangis handai tolan pecah
Hantarkan tubuh yang terkulai lemah
Di atas keranda berjubah
Wahai sobat! Pergilah!
Tenang disana
Kau akan segera menemui-Nya
Semoga perjalananmu menyenangkan!
Untuk-Mu Tuhan, Allah, Rabbie
Titip dia Allah
Sungguh akupun pasti akan menyusulnya
Kematian-Mu memang menakutkan
Tinggalkan luka yang tak mudah hilang
Namun Allah, dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun
Indahkan kematianku ya Rabb...



Lesson plan, SMS tagihan dan Undangan Kelar

Sabtu, 13 Agustus 2016

Happy weekend folks!
Huft! Aku bangun agak siang hari ini. Biasanya habis shalat subuh aku langsung ngajar ngaji dan siap-siap ngajar. Tapi hari ini setelah bangun agak kesiangan, setengah 6 shalat subuh, aku gak ngajar. Bukan karena malas, sebenarnya itu juga si. Tapi itu bukan faktor utama, faktor utamanya adalah... i got stomachache this morning. Seperti biasa, sakit perutnya selalu bikin aku lemas nggak ketulungan. Hampir 15 menit di kamar mandi. Akhirnya aku putuskan untuk merebahkan tubuhku kembali di atas kasur. And finally, i got up very late, 09 o'clock lewat dari kebiasaan. Haha, sebenarnya pernah si lewat dari jam segitu.
Bangun tidur aku disuguhkan dengan buku-buku yang berserakan di atas kasur. Yaa memang seperti itulah kebiasaanku. Pasti ada satu dua buku yang sengaja kuletakkan di sampingku. Tapi kali ini bukan cuma satu, or dua. But it's more and more. Maklumlah akhir-akhir ini aku dan rekan mengajarku plus rekan tidurku, sedang disibukkan dengan pembuatan Lesson plan selama satu tahun ajaran. O' ma Lord! It's slowly driving me nut! Apa lagi aku ngajar 4 kelas. Dan semua lesson plan yang kita buat di luar dari kurikulum KTSP or kurikulum 2013. Huft! Sekolah tempatku mengajar memang punya aturan sendiri. Masih nyari jati diri juga, soalnya kurikulumnya masih sering gunta-ganti. Bikin murid-murid pusing, apalagi guru-gurunya. Gue aja mungkin. Tapi si katanya kita harus menjadi orang yang lebih flexibel. Okelah kalau begitu.
Keluar dari permasalahn lesson plan yang belum kelar-kelar. Pas bangun tidur, seperti kebanyakan orang, pasti yang dicari pertama kali adalah handphone. Nah begitu pula yang aku lakukan. Aku langsung mencari dua ponselku. Yang satu Hp jadul nokia yang bertipe express music. Dulu mahal banget tuh Hp! Yang satunya agak kerenan sedikit., Hp Samsung. Tapi lemotnya udah nggak ketulungan. Jadi intinya kedua Hpku tidak sekeren dan se-update anak-anak jaman sekarang. Hp pertama yang aku buka adalah Hp nokia jadulku. Ada satu pesan. Awalnya aku sedikit penasaran. Setelah membukanya ternyata sms dari kampusku, minta tagihan bayaran. Wegah banget gue! Bayangin, masuk kuliah aja bisa dihitung pakai jari karena dosen nggak pada masuk, sekarang nuntut bayaran! Oke mungkin kasus dosen jarang masuk sudah biasa di kampus-kampus lain. Tapi kampusku yang satu ini, managementnnya berantakkan. Maklumlah cabang. Kelas karyawan pula. Tapi seharusnya bisa lebih baik dan tertata. IPK semestet awal belum keluar sampai sekarang. Padahal semester I udah lunas bayaran. Selain itu NIM kitapun belum terbaca di dikti. What the hell! dan ternyata beberapa senior juga belum mendapatkan haknya. Jadi selama ini yang pihak kampus berikan adalah janji-janji palsu alias PHP. Makin rumit sepertinya. And finally, i made a big decision. Aku mau chau aja dari kampus. Beberapa temankupun sama. Mereka sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan Pak T*** dan Bu D****. Sudah lelah katanya. Pertemuan terakhirpun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Malah UAS diundur sampai hari ini. Padahal pengumuman UAS sudah digembar-gemborkan sebelum bulan Ramdhan. Huft! Lagi-lagi aku harus menarik nafas dalam-dalam. Yang jelas aku sudah menentukan pilihan. I quit.
Okay, dari tadi ceritanya yang bikin empet mulu ye? Change the topic.
Hari ini ada yang membuatku sedikit bersemangat. Undangan pernikahanku akan dikirim hari ini. Selain itu calon suamiku yang sudah aku jadikan pembuangan keluh kesahku selama 3 tahun 6 bulan itu akan datang ke rumah. Ia juga akan mengambil undangan untuk disebarkan. Oh My Gosh! Pernikahanku tinggal 21 hari lagi. Hatiku berdegup lebih kencang rasanya. Persiapannya sedikit melelahkan dan memusingkan. Tapi aku berharap yang terbaik. Semoga lancar, dan ijab qabulnya satu kali aja ye. Biar cepet. Hehe. 
Okay, that's all for today. Doa'in deh folks, semoga bisa posting karya-karya terbaru. Lagi ruwet banget ni. Sebenarnya segudang ide sudah menumpuk. Tapi kadang stuck karena sibuk nggak karuan. Ada sedikit kata-kata alay ni. Masih terinspirasi dari orang yang sama.

Kubalikkan tubuhku
Sekilas wajah terkenang
Siapa?
Entahlah, hanya sedang ingat saja
Mungkin efek drama korea semalam
Jadi beper
tak karuan
Lawakan garing,
Malah sering lahirkan gelak tawa
bikin senyum tipis menghias bibir
Ah! Indah nian
Sampai-sampai masih nyangkut dalam ingatan
Cuma mengenang
Ingat janur kuning segera dikibarkan!