Dua Hati Satu Rongga
Kamis, 18
Desember 2015
Kemarin
malam aku memutuskan pacarku. Aku sudah sangat yakin malam itu. Benar-benar
yakin. Sepulang minum susu di kedai susu moo di Perum Dukuh Zamrud Mas Rama
meneleponku. Aku memeberanikan diri untuk menyampaikan maksudku. Namun ia tidak
mau menerima keputusanku, ia berusaha keras meyakinkanku untuk tetap bersamanya
dan mencapai komitmen kami yaitu menikah. Sungguh yang ku mau saat itu hanya
putus darinya. Lepas dari jerat cintanya yang kadang terasa begitu
memenjarakanku. Alih-alih mengabulkan permohonanku ia malah memutuskan untuk mempercepat
pertunangan kami. Tak berhenti sampai disitu, ia mendatangiku di kantor.
Memaksaku untuk menemuinya. Akhirnya dengan terpaksa aku menuruti
permintaannya. Dadaku semakin sesak menahan perasaan ini. Akhirnya aku
mengatakan semua alasanku mengapa aku ingin putus darinya. Semua, termasuk
perasaanku pada laki-laki yang ku temui di kota kembang, Bandung.
***
Bandung,
kota yang terletak di Jawa Barat itu terkenal dengan sebutan Paris van Java dan
Kota Kembang. Kota yang menjadi tempat pertama KAA (Konferensi Asia Afrika) itu
sekarang dipimpin oleh Bapak Ridwan Kamil atau yang biasa disebut dengan Kang
Emil. Di Bandung pulalah universitas-universitas negeri ternama berdiri,
seperti UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), UIN Sunan Gunung Djati, UNPAD
(Universitas Padjajaran) dan masih banyak lagi universitas swasta yang tak
kalah terkenalnya. Udara Bandung yang sejuk dan pemandangannya yang membuat
takjub selalu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Termasuk aku, dulu aku
bermimpi untuk bisa kuliah di salah satu universitas negeri di Bandung. Apa
sajalah yang penting di Bandung, pikirku. Namun sayang, nasib berkata lain. Niatku
untuk melanjutkan sekolah ke bangku kuliah harus tertunda dua tahun dan aku
hanya bisa kuliah kelas ekstensi di salah satu kampus swasta yang membuka
cabang di Bekasi. Dan saat itulah Mas Rama datang. Memberiku kekuatan,
mengajarkanku bahwa hidup tak semudah yang dibayangkan. Dan begitulah ia
memasuki kehidupanku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meyakinkanku. Tapi
entah mengapa kehadirannya berbeda dengan makhluk indah yang satu ini.
Laki-laki berdarah kota kembang yang mengenalkanku cinta hanya dalam waktu dua
minggu.
Sembilan
bulan lalu tepatnya Desember 2014, Pak Hardian bosku memintaku dan Nadin
sahabat sekaligus rekan kerjaku untuk mengikuti training bersama pimpinan
perusahaan ternama yang berada di Bandung. Selama disana aku bertemu dengan seorang
laki-laki bernama Reza. Dia juga merupakan peserta training. Kebetulan kami
adalah teman satu kelompok. Reza satu tahun lebih muda dariku, tapi dia cerdas
dan sangat easy going. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya, kebetulan
penginapan yang disewa pihak kantorku dekat dengan rumahnya. Tidak jauh, hanya
sekitar lima belas menit menggunakan sepeda motor. Hampir setiap hari aku
bertemu dengannya. Entah sekedar makan bersama, atau jogging mengelilingi
komplek penginapan. Hari demi hari berlalu. Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh
pada sikap Reza.
Benar
saja, Reza memberikan perhatian yang lebih kepadaku. Setiap selesai training ia
selalu mengantarku pulang. Akupun tak menolak, toh hanya mengantar pulang
pikirku. Selama aku di Bandung Mas Rama tidak pernah meneleponku, hanya sesekali
mengirim pesan dan menanyakan kabar lalu menghilang tanpa balasan. Memiliki
pacar yang cuek terkadang membuatku merasa kurang diperhatikan. Dan
perhatian-perhatian kecil yang diberikan Reza kepadaku membuat aku kebablasan.
Aku telah membuka setengah pintu hatiku untuknya. Padahal selama bertahun-tahun
aku telah menutupnya rapat hanya untuk Mas Rama. Dan kini hanya dengan hitungan
hari ia mampu mendobraknya. Mudah sekali ia memasuki sebagian ruang itu. Dan
bodohnya aku, aku malah membiarkannya tinggal di dalamnya. Reza selalu
membuatku tertawa. Aku selalu merasa nyaman saat di dekatnya. Bahkan dia pernah
mengajakku ke rumahanya dan mengenalkanku kepada orang tuanya, meskipun itu
hanya sebagai teman. Tapi aku merasa sudah sangat dekat dengannya. Saat itu
Reza membiarkanku bermain-main dengan anak-anak TK yang dikelola ibunya. Ya,
dia tahu aku suka anak kecil. Bahkan aku dengan terbuka bercerita tentang
apapun padanya. Keluargaku, pekerjaanku, dan bahkan tentang Mas Rama yang acuh
tak acuh. Kami tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Bisa dibilang waktu-waktu
bersamanya adalah penghilang kejenuhan di tengah training yang membosankan. Dan
melihat kedekatanku dengan Reza Nadinlah yang paling bawel mengingatkanku untuk
tidak terlalu dekat dengannya.
“Di, kamu habis
jalan lagi sama si Reza itu?”
Suara Nadin
mengagetkanku yang baru membuka pintu.
“Cuma makan
seperti biasa kok, lagian kamu kenapa gak ikut si aku kan bbm kamu tadi?”
“Males ah,
lagian aku cuma jadi kambing conge kalau pergi bareng kalian.”
“Ih, Nadin. Kok
kamu ngomong gitu si?”
“Ya emang iya
kan? Awas lo Di kamu jatuh cinta sama si Reza itu. Inget sama Mas Satriamu.”
“Hahaha, kamu
ngomong apa sih Nad. Nggaklah.”
“Ya, ampun Di.
Kita tuh sahabatan udah lama kali. Bahkan sebelum spongebob sama patrick ada
tuh kita udah sahabatan, dan aku tahu kamu tuh pasti udah jatuh hati sama si
Reza itu.”
“Hehehe. Mulai
deh kamu lebaynya Nad, Nad.”
“Di, awas ya
kalau kamu sampai suka sama cowok ingusan itu.”
“Ya ampun Nad,
kamu kok sampai segitunya sama Reza.”
“Tuh kan
dibelain. Aku yakin pasti tuh anak suka sama kamu Di.”
“Udah ah, stop
ngomongin dia. Aku mau tidur.”
Dan
ucapan Ndin memang benar, aku sudah jatuh hati pada laki-laki itu. Malam itu aku
tak bisa memejamkan mata. Akhir-akhir ini bayangan Reza begitu jelas terlihat
di pelupuk mataku. Ada desiran syahdu di hatiku setiap kali aku mengingatnya. Oh
Tuhan, apa yang ku rasakan ini?
***
Setelah
melewati perdebatan yang melelahkan akhirnya aku putuskan untuk kembali kepada
Mas Satria. Lagi pula dia sudah tahu semuanya sekarang. Dan dia masih mau
memperjuangkanku walau jelas-jelas aku sudah mengkhianatinya. Dari situlah aku
sadar bahwa dia memang benar-benar mencintaiku. Namun, ada satu syarat yang aku
ajukan untuknya. Aku memintanya mengantarkanku untuk bertemu dengan Reza di
Bandung. Dan iapun mengiyakan. Walau aku tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun
aku tak peduli. Ya, aku memang egois. Memintanya untuk mengantarku bertemu
dengan laki-laki yang membuatku jatuh cinta dalam waktu dua minggu itu. Aku
memang sudah gila dan tidak punya hati. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku
sendiri. Setiap detik sejak pertemuanku dengan Reza di Bandung, yang ada di
pikiranku hanya dia. Senyumannya, tawanya, tingkah konyolnya, dan semua
tentangnya seolah melekat dalam diriku. Setiap malam di mimpiku aku berharap
dia datang menemuiku. Hanya lewat mimpi aku bisa dengan leluasa meghadirkan
lekuk tubuhnya tanpa ada seorangpun yang melarangku. Aku benar-benar tak bisa
menghapusnya dari memori otakku. Setiap kali aku mengingatnya ada gejolak rindu
yang tak tertahankan. Sakit yang tak terperikan. Aku ingin berlari mencarinya.
Aku ingin memeluknya dan tak akan pernah melepaskannya. Aku ingin membangun
istana cintaku bersamanya. Namun, apabila aku mengingat Mas Rama dan keluarganya
semua itu seolah runtuh seketika. Menjadi puing-puing kenangan yang melebur
bersama bayangnya yang memudar. Semua berubah menjadi jalan yang tak berujung. Aku
terperangkap dalam kegelapan dan semua seolah sirna tak tersisa.
“Sayang, Di!”
“Eh, iya Mas.”
Aku menghapus air mata yang entah sejak kapan membasahi pipiku. Sejak pertemuan
kami di tempat training itu komunikasiku dengan Reza mulai berkurang. Namun ia
tetap memberikan perhatian lewat pesan-pesan singkat. Dan kini sudah hampir
sembilan bulan Reza tak ada kabar. Aku pikir bisa dengan mudah melupakannya
setelah kami berpisah. Tapi ternyata tidak, Reza masih menguasai pikiranku. Aku
tahu hal ini pasti akan terjadi. Reza pasti sadar bahwa hubungan ini hanya
membuang waktu. Ia pasti hanya menganggapku gadis egois yang tidak bisa
menentukan pilihan. Perpisahan ini benar-benar membuatku seperti pesakitan.
Memikirkannya siang dan malam dan mengacuhkan Mas Rama.
“Di,
terima kasih telah mengijinkan aku menjadi bagian hidupmu walau hanya dua minggu.”
Itulah
sepenggal kalimat yang menjadi akhir perjumpaan kami di Bandung. Selain itu ia
menjanjikanku satu hal, ia akan ke Bekasi untuk menemuiku. Aku sadar, aku sudah
berpaling. Maafkan aku Mas.
“Ayo, kita
pergi. Kamu sudah bawa baju kan? Mungkin nanti kita cari peristirahatan untuk
satu malam. Karena perjalanan Bekasi-Bandung kan lumayan jauh sayang kalau
ditempuh dalam satu hari pulang pergi.” Suara Mas Rama membuyarkan lamunanku.
“Iya Mas. Ayo.”
Jawabku singkat.
Kami
pun berangkat. Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar alasanku pergi
ke Bandung hanya untuk menemui Reza yang tak tahu ada dimana sekarang. “Kamu
ini tuh gak punya hati atau gimana toh Di, masa kamu mau minta calon tunanganmu
nganterin kamu ketemu laki-laki yang buat kamu berpaling darinya”. Itulah
yang ibu bilang padaku. Ya, aku memang gila, memang tidak punya hati. Tapi aku
tak peduli, aku hanya ingin menemui Reza dan menagih janjinya untuk menemuiku
di Bekasi.
“Kami pergi
dulu Bu.” Mas Rama berpamitan dan mencium tangan ibu.
“Hati-hati ya
de. Maafkan anak ibu.”
“Nggak apa-apa
Bu.”Aku hanya menatap mereka sinis. Di pikiranku saat ini hanya ada Reza. Aku
hanya ingin bertemu dengannya, itu saja.
Motor
Bison putih melaju dengan lincah. Menyusuri jalanan yang dipenuhi hilir mudik
kendaraan. Macet, menjadi pemandangan yang tak asing lagi ketika kami di
Cileungsi. Sudah tiga jam kami di perjalanan dan sudah dua kali kami
beristirahat untuk sekedar melepas lelah. Kali ini kami berhenti di warung mie
ayam di pinggir jalan.
“Di, kita makan
dulu ya. Kamu pasti lapar.”
“Iya Mas.”
Mas
Rama memesan dua mangkok mie ayam bakso dan dua gelas es jeruk. Kami baru
sampai di Cianjur. Masih membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke
alamat yang kami tuju. Untuk mendapatkan alamat Reza aku harus susah payah
meminta mohon kepada panitia training. Berkali-kali menelepon hanya untuk
memastikan bahwa aku adalah kerabat Reza. Maklumlah, panitia bilang itu
dilakukan untuk menjaga privasi peserta training. Namun dengan semangat yang
gigih aku akhirnya berhasil mendapatkan alamatnya.
“Mas, maafin
aku ya. Aku sudah keterlaluan. Tapi aku janji Mas, aku akan lupain Reza setelah
pertemuan ini. Aku janji.” Aku mencoba meyakinkan Mas Rama sambil menatap mata
teduhnya. Sungguh, aku tak tega. Tapi bayangan Reza begitu kuat mengusikku. Aku
sangat merindukannya. Mungkin ia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini sehingga
kerinduan ini seolah tak terbendung lagi.
“Iya sayang.”
Mas Rama tak banyak bicara. Ia hanya membelai rambutku seperti biasa.
Setelah
mengisi perut kami melanjutkan perjalanan. Jalanan menuju Cianjur kota ini
cukup curam. Jalannya berliku-liku dan menanjak. Mas Satria dengan piawai
mengendarai motornya. Aku tak kuat menahan kantuk. Akhirnya aku menyandarkan
sebelah pipiku dan terlelap di punggung kekarnya. Reza datang ke mimpiku. Ia
seolah tahu bahwa aku akan segera menemuinya. Aku tersenyum sambil memeluk erat
Mas Rama.
“Di, sayang.
Bangun!”
Suara Mas Rama
membangunkan tidur lelapku.
“Kita udah
sampai Mas?” Aku langsung sumringah.
“Belum sayang,
coba lihat alamatnya.”
“Iya Mas.” Aku
segera mengambil secarik kertas yang berisi alamat Reza.
“Gimana Di?
Kamu masih ingat nggak jalan ke rumahnya?”
“Em, aku lupa
Mas. Ini kelihatannya beda. Seingat aku ada sekolah TK di samping rumahnya.
Coba sebentar aku tanya.” Aku memang tak pandai mengingat jalan. Mas Rama
mengangguk. Aku turun dari motor dan bertanya kepada beberapa tukang ojek yang
sedang mangkal di perempatan jalan.
“Permisi Pak,
tahu alamat ini?” Aku menunjukkan secarik kertas yang sudah mulai lecek.
“Oh, ini rumah
pak Zaenal yang anaknya seminggu lalu meninggal ya de?”
Hah? Meninggal? Aku langsung
tercekat. Tidak mungkin. Aku mencoba menghibur diriku. Mungkin saja anak Pak
Zaenal yang lain. Setahuku Reza memang
masih punya kakak dan adik.
“Saya kurang
tahu Pak, yang jelas seingat saya rumahnya dekat TK Tunas Bangsa.”
“Oh, iya benar
de. Dari sini ade belok kanan. Kemudian ada papan reklame, ade belok kiri. Nah
dari situ sudah kelihatan Tknya.”
“Terima kasih
ya Pak.” Aku langsung berlalu meninggalkan pangkalan ojek itu. Otakku dijejali
pikiran-pikiran negatif. Oh Tuhan, kumohon bukan. Bukan Reza yang dimaksud
tukang ojek tadi. Hatiku tak karuan, kerinduanku padanya semakin hebat. Binar
mata Reza tampak jelas berkelebat di pelupuk mataku. Oh Tuhan, tolong jangan.
“Di, gimana?”
“Dari sini kita
belok kanan, terus ada papan reklame belok kiri. Nanti Tknya kelihatan kok. Gak
jauh dari situ.” Aku langsung naik ke motor. Mas Rama menangkap raut wajahku
yang gelisah.
“Kenapa sayang?
Kamu gerogi mau ketemu pujaan hati? Hehe.” Mas Rama meledekku, padahal
sebenarnya aku tahu ia hanya mencoba menghibur dirinya.
“Mas, aku
takut.”
“Takut kenapa?”
“Jangan-jangan...”
Aku menggantung kalimatku.
“Kenapa sayang?
Coba bilang sama Mas.”
“Ah sudahlah,
mungkin aku terlalu berlebihan.”
“Ya, santai ya
sayang.” Ujar Mas Rama sambil menyalakan starter motornya. Aku mengangguk.
Tak
lebih dari lima belas menit kami sudah sampai di pelataran rumah Reza.
Keadaannya tak banyak berubah. Hanya saja pohon bunga mawar yang saat aku
kesini sedang berbunga kini hanya tinggal daunnya saja. Suara riang anak-anak
TK tak lagi terdengar. Maklumlah waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima
sore. Mas Rama memarkirkan motornya di bawah pohon jambu air yang sedang
berbuah lebat. Rumah Reza terlihat sepi. Namun pintunya terbuka. Ada beberapa toples kue
kering dan air mineral tertata di atas meja.
“Ayo sayang,
kita masuk.” Ajak Mas Rama. Aku mengikuti Mas Rama dari belakang.
“Permisi,
permisi. Assalamu’alaikum.” Tak lama seorang wanita paruh baya keluar diikuti
seorang laki-laki paruh baya dan anak remaja berumur sekitar 15 tahun. Wajah
mereka tak asing bagiku. Mereka adalah orang tua Reza dan anak berumur 15 tahun
itu adalah adik bungsunya.
“Waalaikumsalam.”
Jawab mereka serempak. Senyum mengembang dari wajah cantik yang mulai keriput
itu. Kamipun bersalaman. Mereka mempersilahkan kami duduk sambil
mengingat-ingat wajahku.
“Oh, ini nak
Diana yang waktu itu pernah diajak kesini sama Reza ya? Ayo silahkan duduk nak.”
Aku tersenyum
mengiyakan. Ibu Reza membelai pipiku lembut. Matanya berkaca-kaca. Seperti ada
luka dalam dari pancaran matanya yang redup. Sejenak suasana hening. Aku pun
tak tahu hendak bicara apa. Nyaliku ciut. Kata-kata yang sudah ku rangkai untuk
disampaikan kepada Reza seperti gelembung-gelembung sabun yang pecah. Akhirnya
suara Mas Rama memecah keheningan.
“Jadi begini
Pak, Bu. Calon istri saya ini temen dekatnya Reza, dan kami kesini berniat
untuk mengundang Reza ke pernikahan kami. Selain itu...” Mas Rama melirikku
dengan tatapan sendu. Aku hanya menunduk menunggu kata-kata yang selanjutnya
akan keluar dari bibirnya.
“... selain itu
ada sesuatu yang ingin Diana ucapkan pada Reza.”
Kedua orang tua
Reza saling menatap satu sama lain. Aku melihat sudut mata ibunya basah. Raut
wajah ayahnya tiba-tiba diselimuti kabut kepedihan. Ada apa ini? Pikiranku
mulai melayang jauh. Jangan-jangan... Oh Tuhan! Tolong jangan bilang kalau...
“Reza sudah
meninggal satu minggu lalu nak.” Hening. Suara ayah Reza menggantung. Ia
menarik nafas sejenak.
“...Selama ini
dia punya penyakit jantung, tapi dia tidak pernah mau untuk dirawat. Dia bilang
dia masih kuat. Dia juga pernah bercerita tentang nak Diana. Dia bilang ingin
sekali meminang gadis Bekasi itu andai saja dia sudah berumur dua puluh lima
tahun. Duh Gusti nu Agung cepat sekali Engkau ambil anak bujangku.” Suara parau
laki-laki paruh baya itu bagai petir yang menyambar pendengaranku. Bagai palu
godam yang menghantam kepalaku. Sakit. Sesak menjalar ke rongga dadaku. Oh
Tuhan, tolong bilang ini hanya mimpi! Tiba-tiba semua terasa gelap. Aku merasakan
mas Rama menahan tubuhku. Hening. Hanya wajah Reza yang terlihat jelas. Aku tak
ingat apa-apa lagi.
“Di, sayang.
Buka mata kamu sayang.” Suara yang sudah akrab di telinga ku itulah yang
pertama kali aku dengar. Bau minyak kayu
putih menyengat penciuman. Kepalaku terasa berat. Mataku sulit untuk dibuka,
serasa ada perekat yang memaksaku untuk tetap menutup mata. Aku menatap
langit-langit kamar yang asing bagiku. Dengan tatapan lemas aku memandang wajah
Mas Rama yang dibalut kekhawatiran. Disampingnya aku lihat ayah Reza menatapku
dengan tatapan haru. Aku tak mendapati ibu Reza disana. Selang beberapa menit
ia datang dengan segelas teh hangat ditangannya.
“Alhamdulillah,
nak Diana sudah siuman.” Aku tersenyum
tipis. Lagi-lagi aku teringat Reza. Aku masih tak percaya apa yang kudengar
tadi. Pipiku basah. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Mas Rama masih setia
duduk disampingku sambil menggenggam tanganku erat. Ia menciumi punggung
tanganku.
“Maafkan Mas
Di, maaf.” Mas Rama menitikkan air mata. Baru kali ini aku melihatnya menangis.
Tiba-tiba rasa bersalah menyelubungi hatiku.
“Harusnya Mas
lebih perhatiin kamu Di. Maaf Di, maaf.”
Suara Mas Rama terdengar serak. Aku tak mampu berkata-kata. Aku masih larut
dalam lamunanku. Aku pikir aku yang akan meninggalkan Reza, tapi mengapa dia
yang malah pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini. Aku pikir perpisahan
di antara kita hanyalah jarak antara Bekasi dan Bandung, ini bukan hanya jarak
tapi juga dua alam yang berbeda.
Sebelumnya aku berharap aku masih bisa melihatnya walau dia bersama dengan
orang lain. Setidaknya aku masih bisa melihat senyumnya. Oh Tuhan! Haruskah
seperti ini skenario hidupku?
“Kalian menginap dulu disini saja ya. Sudah
malam nak. Kalian silahkan istirahat dulu. Besok pagi bapak antarkan kalian ke
makam Reza.” Ujar Ayah Reza. Kami mengiyakan. Kebetulan tubuhku rasanya sudah
remuk. Lelah, tak hanya tubuhku tapi juga hatiku. Mataku lebam dan perih. Pilu
menderu bagai gulungan ombak yang menghantam sang karang. Kerinduanku tak
tersampaikan. Ia terkubur dalam bersama jasad Reza yang kini telah bersemayam
dibawah tanah merah.
Mentari pagi hangat menyambut kota
Bandung yang dibalut kabut putih. Sejuk. Tak pernah kudapati udara seperti ini
di Bekasi. Airnya yang seperti es batu itu mampu menyegarkan sedikit pikiranku.
Walau ingatan tentang Reza masih saja merajai otakku. Tapi aku berusaha
menerima kenyataan yang ada. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjadi wanita
yang lemah hanya karena cinta. Mulai detik ini aku harus bisa berdamai dengan
keadaan. Menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Aku akan mulai menjalani
hidup baru dengan Mas Rama. Laki-laki yang sudah hampir tiga tahun menemani
perjalanan hidupku. Laki-laki yang dengan sabar menghadapi sikapku masih
kekenak-kanakan, dan laki-laki yang tegar meski aku tahu ia menahan sakit
setiap aku sebut nama Reza. Aku tahu semua akan kembali pada-Nya. Sang Maha
Kuasa, Sang Maha Pemilik segalanya. Aku hanya akan mencintai Reza dalam untaian
do’a. berharap ia selalu bahagia di sisi-Nya.
“Mari nak bapak
antar. Sudah siap semuanya kan?”
“Sudah Pak.
Mari.”
Kami
menyusuri jalan setapak yang di kelilingi daun-daun ilalang. Tak lebih dari
sepuluh menit kami sudah sampai di makam keluarga yang berada di kebun belakang
rumah itu. Makam Reza sudah terlihat, tanahnya masih merah dan taburan bunga
tujuh rupa masih tersisa. Tiba-tiba aku mencium semilir harum parfum Reza yang
biasa ia gunakan. Za, apa kamu ada disini? Apa kamu lihat aku Za? Aku kangen
kamu Za. Kenapa kamu gak nepatin janji kamu untuk nemuin aku? Lagi-lagi butir
bening mengalir di pipiku. Ya, aku merasakannya ada di sampingku. Membelai
lembut rambutku dan membisikkan kata cinta untukku. Reza ada di sampingku.
“Ayo sayang.”
Mas Rama menggenggam tanganku dan menghapus air mata yang tumpah ruah di pipiku.
Ku ratapi nisan yang bertuliskan Reza Anggara itu. Senyum Reza terukir jelas
disana. Good bye Za. I miss you, i do. See you in another life. Aku
memendamkan wajahku ke dalam pelukan Mas Rama. Maafkan aku Mas, maafkan aku.
Mas Rama tetap tegar tak bergeming. Ia selalu seperti itu, selalu ada dan
menenangkanku.
***
Malam
itu cahaya bulan sempurna bersinar di angkasa raya. Bintang-gemintang bak
taburan mutiara yang memenuhi malam yang pekat. Malam itu langit begitu
mempesona. Sepoi angin membelai wajahku yang dibalut lelah. Memainkan rambutku
yang sengaja ku urai. Menghilangakan sejenak sesak yang meraja. Hangat menjalar
tubuhku ketika tangan kekarnya menyentuh punggung tanganku. Sinar matanya yang
meneduhkan membuat jantungku berdegup kencang. Kami saling berpandangan.
Kerinduan yang tak terperikan akhirnya tersampaikan. Aku mengamati setiap inci
raut wajahnya yang memepesonakan. Ia menarik tanganku kedalam dekapannya.
Membelai pipiku lembut. Membisikkan rayuan maut yang membuatku melayang dibuatnya.
Kami begitu dekat. Bahkan aku bisa mendengar desahan nafasnya yang meremangkan
bulu kudukku. Debar jantungku semakin hebat. Dan... sebuah kecupan lembut
mendarat di bibirku. Aku terpaku, membisu. Tak mampu bergerak, kaku. Oh Tuhan!
Aku sudah tak setia.
Cinta?
Indah, bagai
warna-warna pelangi yang terlukis di kanvas angkasa
Dua minggu, tak
lama bagiku untuk mencintaimu
Kau adalah
ciptahan Tuhan yang mempesona banyak mata
Hadirmu bagai
hujan yang membasahi tanah gersang
Menyegarkan,
menghidupkan kembali pohon-pohon yang mati
Dan mengukir
kisah yang tak bisa kulupakan hingga ajal nanti
Cinta?
Haruskah
serumit ini?
Kau datang
mengalihkan pandanganku darinya
Kesepian yang
mendalam mampu membuka pintu hati yang lama kukunci
Kau...
Pelangi yang
hanya datang untuk pergi
Memeberi warna,
namun tak abadi
Kau...
Mentari yang
hangatkan pagi
Tersenyum
memberikan arti
Tenggelam tanpa
permisi
Kau...
Malam yang
pekat
Memenjarakanku
dalam gelap
Kau...
Rindu yang
merantai
Memasungku
dalam rasa yang tak terurai
Kau...
Bandung, cinta
yang tak sampai
Meninggalkan
rindu yang menikam
Abadi dalam
mimpi di sepanjang malam
dari
sudut ruang yang kelam
Biarkan cinta pergi mencari bahagia...
BalasHapus