Senin, 11 April 2016

Terima kasih untuk menjadi inspirasi di setiap goresan pena yang kurangkai. Kini, warna pelangi telah memudar bersama musim penghujan yang berganti kemarau. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu disaat pertama kali kita bertemu, aku tak akan pernah membiarkan rasa ini tubuh subur di taman hatiku. Kini tak ada lagi kenangan indah yang selalu membuatku tersenyum dikala mengingatnya, semua telah berubah menjadi duri yang mencabik hatiku. Perih, sakit, dan membuatku meneteskan air mata. Setiap kata yang terngiang kini bak buih-buih sabun yang terbang kemudian hilang. Aku terlalu sempurna melukis dirimu dalam benakku, hingga tak ku temui cela untuk sekedar menerka bagaimana kau menyimpanku dalam otakmu. Andai bisa ku robek episode-episode kisah kita, maka akan segera kulakukan dan membakarnya hingga hanya debu yang tersisa. Setiap melihatmu walau itu hanya berupa foto, aku seolah mati perlahan. Rinduku menggunung dan kini hanya berbayar kekecewaan. Maka kerinduan itupun meletus seperti lahan berapi yang keluar dari perutnya. Begitulah kini rinduku. Panas membakar siapa saja yang dilewatinya. Ku biarkan tersapu sang angin dan terkubur malam yang kelam. Biar saja jadi batu pualam, lebih kekal dan lebih tegar. Air mata, entah berapa banyak sudah mengalir, mungkin cukup jika harus menghilangkan dahagamu. Bagaimana aku ini, mencintai dua orang dalam satu waktu. Aku terjebak sendiri dalam kebingungan. Ingin ku berlari sejauh mungkin hingga ku lelah dan berhenti memikirkanmu. Ingin ku pura-pura melupakanmu, hingga aku lupa sedang berpura-pura. Tapi tetap saja kenangan itu menjejali otakku dengan sketsa wajahmu.
Namun, mulai saat ini sudah ku tekadkan dalam hati, aku tak akan kembali dan menghentikan langkahku. Aku akan terus melangkah maju dan tak akan pernah sedetikpun menoleh ke belakang. Semua sudah berakhir dan tinggal serpihan-serpihan saja. Aku akan membiarkanmu bahagia dengan siapapun itu. Terima kasih telah membuatku menjadi gadis yang begitu terbuka hingga aku tak tahu malu mengatakan cinta. Terima kasih telah membuatku meneteskan begitu banyak air mata. Terima kasih Tuhan, Kau kirimkan dia untuk membuatku sadar, bahwa tak seharusnya aku mencintai hamba-Mu terlalu dalam.

darisudutkamar 110416

Kamis, 07 April 2016

Ternyata lautan yang sangat ku banggakan, tak setenang yang kubayangkan. Deru ombaknya terlalu menggebu hingga aku terbawa arusnya sampai ke hulu.