Ustadzah, jewer aku lagi dong!
Mega merah dibalut warna jingga keunguan menghias senja di langit Cianjur. Dari balkon gedung Al-Badar aku pandangi lukisan langit yang mempesonakan itu. Namun keindahan itu rasanya tak mampu mengisi kehampaan hatiku. Hari itu hari pertamaku di bumi pesantren. Setelah lulus tsanawiyah aku memutuskan untuk belajar di sebuah pesantren bahasa yang cukup ternama di Cianjur. Aku memang tidak sendiri belajar disana. Turut serta dua teman satu sekolahku, yaitu Ami dan Nayla. Namun tetap saja rasa sendu masih menggelayutiku.
“Riri!”
Suara khas Nayla membuyarkan lamunanku.
“Eh
Nay.”
“Heh,
ayo siap-siap ke musholah.” Ajak Nayla.
“Iya
ayo.” Aku melangkahkan kakiku dengan malas.
“Eh
Ri udah denger belum tentang ustadzah yang killer itu?” Tanya Nayla dengan raut
wajah yang sedikit horor.
“Belum
denger aku. Emang sekiller apa?” Tanyaku penasaran.
“Aku
juga gak tahu sih, tapi nanti setelah shalat maghrib bakal ada perkenalan
guru-guru di musholah. Aku takut ni.”
“Takut
kenapa kamu? Biasa aja kali. Sekiller apa si?” ujarku dengan nada menantang.
Usai
pembacaan do’a para santriwati gaduh luar biasa. Termasuk aku, Nayla, dan Ami
juga ikut serta menambah kegaduhan. Kami sibuk mengutarakan kerinduan kami pada
rumah. Tiba-tiba kegaduhan mulai mereda ketika suara tegas nan berwibawa
terdengar dari pengeras suara. Aku segera memalingkan wajahku ke sumber suara.
“Ri,
Ri, itu tuh Ri ustadzah killer itu.” Tunjuk Nayla bersemangat.
“Shuut!”
Aku dan Ami menatap Nayla bersamaan mengisyaratkan agar dia diam.
Seketika
suasana hening. Para santriwati memusatkan perhatiannya pada sang Ustadzah.
Mereka mendengarkan dengan seksama. Sungguh, Ustadzah ini memang luar biasa.
Beliau mampu mengendalikan keadaan seketika. Para ustadzah bergantian
menyampaikan pengumuman. Namun yang paling aku ingat adalah pengumuman dari
ustadzah killer yang biasa dipanggil Ustadzah Yayu (nama samaran) itu. Beliau
bilang, kami harus mulai menghilangkan bahasa daerah kami dan mulai belajar
berbicara bahasa Inggris dan Arab. What? It must be terrible not to
speak Bekasi language. Ujarku dalam hati.
Satu
minggu berlalu. Desas desus mengenai ustadzah killer itu ternyata memang benar
adanya. Setiap waktu shalat, pergi sekolah, piket, dan mengaji, beliau sudah
beraksi dengan membawa hanger di tangannya. Beliau akan mengumpulkan
santri yang terlambat di lapangan, kemudian memukul tangan mereka satu per satu.
Syukurlah selama seminggu itu keberuntungan masih memihakku.
Suara bel yang menyeramkan itu
menyeruak di tengah kekhusyuan kelas ku yang sedang belajar tajwid dengan
ustadzah Yayu. Ternyata Beliau bisa bercanda juga. Bisikku pada Nayla teman
sebangkuku. Ustadzahpun menutup kelas dengan membaca do’a kafaratul majlis. Para
santri keluar berhamburan. Sebelum keluar kelas, Beliau berpesan kepada kami agar berani untuk berbicara bahasa
Arab atau Inggris.
“Ri,
lihat deh ukhti tomboi yang sering ke kamar kita itu.” Nayla mengarahkan
telunjuknya kepada Ukhti Wanda yang berjalan di tengah lapangan.
“Iya,
kenapa Nay?” Tanyaku.
“Bajunya
gak ganti-ganti deh kayanya.”
“Iya
yah, ih najis deh gue mah.” Ucapku sekenanya.
Tiba-tiba
dari belakang ada yang menjewer telinga kananku.
“Ih
siapa sih?” Sewotku sambil berusaha melepaskan tangan yang menjewerku. Betapa terkejutnya
aku ketika melihat sepasang mata menatapku dengan tajam.
“Eh
Ustadzah, afwan Ustadzah.” Aku langsung menunduk. Sedangkan Nayla hanya diam
terpekur di sampingku.
“Ngomong
apa kamu tadi? Najis?” Tanya Beliau.
“Afwan
Ustadzah.” Lagi-lagi hanya itu yang aku katakan. Karena baru itu yang aku bisa.
Hehe.
Ustadzah menjewerku sampai depan
kamarku. Aku ibarat anak kecil yang dijewer ibunya ketika merengek meminta
mainan. Entahlah bagaimana ekspresi wajahku saat itu. Sebagian santri
menertawakanku sepanjang jalan, sebagian lagi menatapku dengan ngeri, dan Nayla
dengan setia berjalan di sampingku sambil menahan tawa. Oh My Lord, it was
embarrassing!
Sejak kejadian itu aku semakin
tertantang untuk berani berbicara bahasa Arab dan Inggris. Aku tidak
mempedulikan grammar dan nahwu shorofku. Yang jelas aku berani berbicara. Aku ingin
menunjukkan pada Beliau bahwa aku bukan anak nakal seperti yang tersirat dari
tatapan Beliau. Bahkan aku bermimpi menjadi bagian bahasa ketika kelas 11
nanti. Bukan hanya anggota, tapi aku harus jadi ketua bagian bahasa. Tekatku
dalam hati.
Setahun
berlalu. Akupun sudah naik kelas 11. Sehari setelah pemilihan ketua umum IP4A
(sebuah organisasi semacam OSIS di pesantren kami), Ustadzah dan ketua umum
terpilih mengumumkan nama-nama pengurus. Hatiku berdegup kencang bukan main.
Semua santri putri kelas 11 dikumpulkan di aula pesantren. Satu persatu devisi
diumumkan oleh ketua umum.
“Ketua
bahasa adalah... Ma’rifatul Ulfah.”
Oh
My Lord! Aku tersenyum lebar. Beberapa temanku mengucapkan
selamat. Usai pengumuman, Aca, ketua umum IP4A berbisik padaku. Ustadzah
yang milih kamu loh Ri. Jika ingat itu rasanya aku ingin mengatakan, Ustadzah
jewer aku lagi dong! Terima kasih Ustadzah. Semoga Beliau selalau dalam lindungan
Allah subhanahu wata’ala.
Tulisan ini dibuat untuk Lomba Menulis "Guruku Pahlawanku"
luar biasa you were my best partner :)
BalasHapusGod always bless you
Thanks for reading my story.
Hapus