Kamis, 19 November 2015

Hujan


Rabu, 11 November 2015

Musim penghujan telah datang. Semilir anginnya terasa begitu menyegarkan. Tanah mulai basah. Wangi debu yang tersiram hujan semilir menyengat penciuman. Bulir-bulir hujan membasahi dedaunan. Bening, terkena sinar sang mentari yang terpancar.

Musim penghujan telah datang. Mengingatkan sejuta kenangan. Hujan itu 1% mengandung cairan, 99% kenangan. Ya, itulah yang kau tulis di akun bbm mu tanggal 6 Novemeber 2015 lalu. Mungkin itu memang benar. Orang-orang bilang hujan itu romantis, sebagian lagi bilang hujan itu indah, menenangkan, dan selalu ada yang istimewa ketika hujan. Ya, salah satu orang yang setuju dengan kata-kata itu adalah aku.

Hujan. Pare mengenalkan hujan yang begitu romantis, indah, menyejukkan dan mengharukan.

Hujan. Kita pernah bersepeda ria dibawah derasnya hujan. Kita pernah minum susu murni bersama di “Bamboo town cafe”. Kita pernah berenang di tengah rinai hujan. Kita pernah menerobos kegelapan bersama sang hujan. Kita pernah tertawa, dan menangis di bawah hujan.

Hujan. Menyingkap rahasia yang aku simpan sejak kita berkenalan. Hujan. Bercerita tentang aku dan dia yang lebih lama mengisi relung hatiku. Hujan. menyaksikan air mata yang tumpah menahan sesak. Kebohongan yang terungkap. Sakit yang tak terperikan. Luka yang dalam. Menyakitkan.

Malam itu sebuah rahasia terungkap bersama hujan. Rahasia yang menghancurkan segalanya. Aku, telah berdua. Dan aku masih berani merajut kisah denganmu. Aku memulai semuanya dengan kebohongan. Aku memulainya dengan keegoisan. Namun, asal kau tahu, satu hal yang tak pernah berbohong dan selalu jujur. Perasaanku padamu. Perasaanku tulus, aku benar-benar jatuh hati padamu. Jatuh hati saat pertama kali aku melihatmu. Saat pertama kali kau memperkenalkan dirimu di depan kelas C. Entah bagaimana awalnya. Inilah kali pertama aku merasakan cinta pada pandangan pertama. Atau mungkin, suka pada pandangan pertama. Rasa suka yang menghadirkan cinta. Cinta yang sampai detik ini singgah di hatiku. Cinta yang entah sampai kapan akan tinggal disana.

Hujan. Bercerita semua tentang kita. Hujan, menahanmu untuk tetap tinggal. Dulu, di Pare. Namun sekarang, kita menatap hujan yang tak sama. Merasakan hujan yang berbeda. Aku di sini, Bekasi. Sedangkan dirimu disana, Bandung. Bekasi akan selalu menantimu. Berharap kau datang dan sejenak melepas segala kerinduan. Namun, jika memang sudah ada yang lebih indah dan membuatmu lebih betah berlama-lama dengannya, tinggallah! Tinggallah bersamanya. Berbahagialah, karena kau pantas mendapatkannya. Aku siap dengan rasa sakit yang lebih hebat. Aku siap menerima kenyataan bahwa kau telah jatuh hati pada gadis lain. Aku siap, karena aku sadar hujan hari ini, esok, dan seterusnya, tak akan pernah sama.

Tik... tik... tik...
Hujan datang sayang
Hujan yang kita nantikan
Hujan yang kita rindukan
Hujan yang mengukir kenangan
Sayang...
Aku termenung di bawah rinai sang hujan
Membiarkan bulir-bulirnya membasahi wajah yang pernah kau sentuh ini
Mataku terpejam
Membayangkan kau menggenggam tanganku
Dan menuntunku menyusuri jalan yang pernah kita lalui bersama
Sayang...
Bawa aku mengenang
Mengenang kembali kisah kita yang begitu indah
Mengenang lembaran-lembaran kisah kita yang mengharukan
Sayang...
Hujan membuatku merindu siang dan malam
Merindukanmu yang tak kunjung datang
Merindukanmu yang mengenalkanku pada indahnya hujan
Tawa yang tercipta di tengah hujan
Seakan memenuhi ruang ingatan
Entah sampai kapan ia akan tinggal
Aku hanya berharap hujan datang
Berharap bisa mengenangmu di setiap tetes demi tetesnya yang berjatuhan
Aku hanya berharap kau datang
Menghapus segala kegelisahan
Dan menghapus, air mataku yang tak henti berlinang


Hujan selalu punya cerita bukan? Maka inilah sepenggal kisah tentang hujan. Yang aku tulis diiringi tetesan air yang membentuk barisan, di tengah malam yang dibalut kegelapan, di sudut kamar yang tak terlalu terang. Inilah sepenggal kisah yang entah dari dari mana datangnya. Mengalir begitu saja, seperti genangan air hujan yang entah dimana ia akan bermuara. J


dari sudut kamar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar