Musim
penghujan telah datang. Semilir anginnya terasa begitu menyegarkan. Tanah mulai
basah. Wangi debu yang tersiram hujan semilir menyengat penciuman. Bulir-bulir
hujan membasahi dedaunan. Bening, terkena sinar sang mentari yang terpancar.
Musim
penghujan telah datang. Mengingatkan sejuta kenangan. Hujan itu 1%
mengandung cairan, 99% kenangan. Ya, itulah yang kau tulis di akun bbm mu
tanggal 6 Novemeber 2015 lalu. Mungkin itu memang benar. Orang-orang bilang
hujan itu romantis, sebagian lagi bilang hujan itu indah, menenangkan, dan
selalu ada yang istimewa ketika hujan. Ya, salah satu orang yang setuju dengan
kata-kata itu adalah aku.
Hujan.
Pare mengenalkan hujan yang begitu romantis, indah, menyejukkan dan
mengharukan.
Hujan.
Kita pernah bersepeda ria dibawah derasnya hujan. Kita pernah minum susu murni bersama
di “Bamboo town cafe”. Kita pernah berenang di tengah rinai hujan. Kita pernah
menerobos kegelapan bersama sang hujan. Kita pernah tertawa, dan menangis di bawah
hujan.
Hujan.
Menyingkap rahasia yang aku simpan sejak kita berkenalan. Hujan. Bercerita
tentang aku dan dia yang lebih lama mengisi relung hatiku. Hujan. menyaksikan
air mata yang tumpah menahan sesak. Kebohongan yang terungkap. Sakit yang tak
terperikan. Luka yang dalam. Menyakitkan.
Malam
itu sebuah rahasia terungkap bersama hujan. Rahasia yang menghancurkan
segalanya. Aku, telah berdua. Dan aku masih berani merajut kisah denganmu. Aku
memulai semuanya dengan kebohongan. Aku memulainya dengan keegoisan. Namun,
asal kau tahu, satu hal yang tak pernah berbohong dan selalu jujur. Perasaanku
padamu. Perasaanku tulus, aku benar-benar jatuh hati padamu. Jatuh hati saat
pertama kali aku melihatmu. Saat pertama kali kau memperkenalkan dirimu di
depan kelas C. Entah bagaimana awalnya. Inilah kali pertama aku merasakan cinta
pada pandangan pertama. Atau mungkin, suka pada pandangan pertama. Rasa suka
yang menghadirkan cinta. Cinta yang sampai detik ini singgah di hatiku. Cinta
yang entah sampai kapan akan tinggal disana.
Hujan.
Bercerita semua tentang kita. Hujan, menahanmu untuk tetap tinggal. Dulu, di
Pare. Namun sekarang, kita menatap hujan yang tak sama. Merasakan hujan yang
berbeda. Aku di sini, Bekasi. Sedangkan dirimu disana, Bandung. Bekasi akan
selalu menantimu. Berharap kau datang dan sejenak melepas segala kerinduan.
Namun, jika memang sudah ada yang lebih indah dan membuatmu lebih betah
berlama-lama dengannya, tinggallah! Tinggallah bersamanya. Berbahagialah,
karena kau pantas mendapatkannya. Aku siap dengan rasa sakit yang lebih hebat.
Aku siap menerima kenyataan bahwa kau telah jatuh hati pada gadis lain. Aku
siap, karena aku sadar hujan hari ini, esok, dan seterusnya, tak akan pernah
sama.
Tik...
tik... tik...
Hujan
datang sayang
Hujan
yang kita nantikan
Hujan
yang kita rindukan
Hujan
yang mengukir kenangan
Sayang...
Aku
termenung di bawah rinai sang hujan
Membiarkan
bulir-bulirnya membasahi wajah yang pernah kau sentuh ini
Mataku
terpejam
Membayangkan
kau menggenggam tanganku
Dan
menuntunku menyusuri jalan yang pernah kita lalui bersama
Sayang...
Bawa
aku mengenang
Mengenang
kembali kisah kita yang begitu indah
Mengenang
lembaran-lembaran kisah kita yang mengharukan
Sayang...
Hujan
membuatku merindu siang dan malam
Merindukanmu
yang tak kunjung datang
Merindukanmu
yang mengenalkanku pada indahnya hujan
Tawa
yang tercipta di tengah hujan
Seakan
memenuhi ruang ingatan
Entah
sampai kapan ia akan tinggal
Aku
hanya berharap hujan datang
Berharap
bisa mengenangmu di setiap tetes demi tetesnya yang berjatuhan
Aku
hanya berharap kau datang
Menghapus
segala kegelisahan
Dan
menghapus, air mataku yang tak henti berlinang
Hujan
selalu punya cerita bukan? Maka inilah sepenggal kisah tentang hujan. Yang aku
tulis diiringi tetesan air yang membentuk barisan, di tengah malam yang dibalut
kegelapan, di sudut kamar yang tak terlalu terang. Inilah sepenggal kisah yang
entah dari dari mana datangnya. Mengalir begitu saja, seperti genangan air hujan
yang entah dimana ia akan bermuara. J
dari sudut kamar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar