Kamis, 19 November 2015

6 Juni 2015



Kamis, 10 September 2015.

Hari itu, Sabtu, 6 Juni 2015. Hari itu hari terakhirku di Pare, dan hari itu hari terakhirku melihatmu Yas. Kau tahu perasaanku Yas? Berat, berat sekali. Lebih berat dari pada aku harus meninggalkan kampung halamanku sendiri. Pare membuatku ingin berlama-lama disana Yas, apalagi setelah aku mengenalmu.

Hari itu kau mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan dasi bercorak segitiga warna hitam putih tulang. Kau datang ke kosku tergesa-gesa. Aku tahu kau pasti menyempatkan waktu untuk menemuiku ditengah jadwal kursus yang padat. Masih teringat jelas dalam ingatanku, kau membawa tas hitam yang berisi makanan ringan dan sebuah kado yang terbungkus kertas bergambar bunga mawar merah. Rapih. Aku tahu kau susah payah membungkusnya. Jujur, aku terharu. Ingin menangis seketika itu juga. Aku tak kuat Yas, tak kuat meninggalkan Pare, meninggalkan semua kenangan tentang kita. Hai’ah, Nina, Riska dan yang paling menyesakkan dada adalah... aku harus meninggalkanmu. Kamu yang selama ini mewarnai hari-hariku. Kamu yang selama ini menjadi penghibur laraku. Kamu yang 6 bulan menguji kesabaranku dan menguji kedewasaanku. Kamu Yas. Ya. Kamu, yang sampai detik ini selalu mengusik pikiranku.

Hari itu, BEC menjadi saksi pertemuan dan perpisahan kita di Pare Yas. Aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata kala itu. Sesak. Aku tak bisa berkata apa-apa, mulutku kelu. Perasaanku tak karuan. Bahagia karena aku akan pulang dan bertemu keluargaku, dan sedih bila harus meninggalkanmu. Entah apa yang seharusnya aku rasakan saat itu Yas. Aku hanya ingin tersenyum, memandangi wajahmu. Menatap senyummu, tertawa bersamamu, dan aku ingin tetap bersamamu Yas. Mengawasi makanan yang kau makan, bahkan aku ingin selalu jadi tempatmu berkeluh kesah. Akuuu, tak mau pergi Yas.

Hari itu, pukul 10.00 Kediri. Angkutan umum jurusan Pare-Kediri membawaku dan anak-anak komunitas JABODETABEK ke stasiun Kediri. Aku sudah beranjak meninggalkanmu Yas. Seketika perasaanku begitu hampa. Seperti ada yang hilang. Aku merasa kesepian yang mendalam. Mataku tak mampu lagi membendung air mata yang sejak pagi ku tahan Yas. Setetes butir bening jatuh menetes di pipiku. Namun aku segera menghapusnya. Tak ingin ada yang melihat. Toh mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Hari itu, kereta Brantas yang akan membawaku pulang, akan meninggalkan Pare pukul 13.30. Lagi – lagi, semua kenangan manis bersamamu kembali terbayang di memori otakku Yas. Saat aku mengantarmu pulang libur kenaikan level CTC-TC. Saat itu aku, Nina dan Riska nekat mengantarmu ke stasiun. Padahal aku belum punya SIM. Sebagai akibatnya kami ditilang pak polisi karena salah jalan. Haha. Tapi tenang saja Yas, kau jangan pernah merasa bersalah. Kau sudah memperingatiku sebelumnya. Memang aku keras kepala bukan? Seperti yang kamu sering bilang. Sadarkah Yas? Sebenarnya kita sama, sama-sama keras kepala. Haha.

Hari itu, ada rasa haru yang menderu hatiku. Taukah Yas? Hari itu, Deta, Mia mengantar pasangan mereka. Mereka menangis Yas. Zein memeluk Mia sambil meneteskan air mata. Iru menggenggam tangan Deta erat. Aku, diam. Menatap mereka haru. Aku berharap kamu ada disini Yas. Sekedar untuk menghiburku. Tapi tak apa, aku tahu kamu sibuk. Aku tak akan pernah menyalahkan keadaan.

Hari itu, lambayan tangan anak-anak TC 128 yang mengantar kami menjadi pemandangan yang begitu mengharukan. Untuk kesekian kalinya aku menangis Yas. Sesak menjalari rongga dadaku. Semua terasa begitu menyakitkan. Perpisahan. Tidak adakah kata yang lebih indah selain itu untuk menjauhkanmu dariku?

Kereta melaju dengan cepat. Aku duduk membisu menatap jendela. Tak minat untuk berkata-kata. Bang Safar yang duduk disampingku tak mengusikku, sepertinya dia mengerti apa yang sedang aku rasakan dan mungkin dia juga merasakannya. Pemandangan yang terlihat dari jendela kereta rasanya tak menarik selera. Tatapanku hampa. Hanya ada bayangmu yang tergambar jelas dipelupuk mata. Aku biarkan air mataku mengalir, aku enggan menghapusnya. Toh berkali-kali aku menyekanya ia tetap saja nakal ingin keluar. Sama sepertimu, nakal, keras kepala, menyebalkan, konyol. Huft.

 Let me take a breath!
Hari itu, aku memejamkan mata. Berharap bisa menghapus bayangmu sejenak. Nihil, raut wajahmu terlalu jelas dalam ingatanku Yas. Lagi-lagi butir bening yang menetes. Kenangan bersamamu terulang kembali Yas, seperti episode - episode film yang setiap partnya menampilkan adegan-adegan romantis. Begitulah kisah kita Yas.

Hari itu, malam. Aku terlelap. Setelah susah payah memejemkan mata. Aku tertidur Yas. Tidak pulas, sesekali bangun karena kakiku merasa sangat pegal.
Hari itu, sudah berganti esok Yas. Pukul 01.30 pagi, kereta Brantas yang membawaku tiba di stasiun Bekasi. Aku turun bersama Ikbal dan Zein. Stasiun tak pernah sepi, selalu ramai. Tak seperti hatiku saat ini. Hening. Mereka membawa tas penuhku yang besar. Aku membantu mereka membawa barang  yang tak terlalu berat. Masih dengan wajah kantuk aku berjalan keluar dari stasiun. Ayah dan Ibu Ikbal beserta adiknya menyambutnya riang. Mereka langsung memasukkan barang-barang Ikbal ke mobil. Ayah Zein langsung menghampiri Zein dan memeluknya, ia langsung membantu Zein membawa barang-barang. Aku,tak ada yang menjemputku. Aku tersenyum getir. Bersalaman dengan orang tua mereka. Aku bingung mau kemana. Aku tidak mau mengabari orang rumah, karena takut merepotkan. Tadinya aku ingin menunggu di stasiun saja sampai matahari terbit. Tapi ayah Ikbal menawarkan aku tumpangan walau hanya sampai pasar Bantar Gebang. Di sepanjang jalan ayah Ikbal bercerita banyak hal, lebih kepada menyombongkan diri menurutku. Yang lebih menyakitkan dia bilang orang tuaku orang tua yang tidak perhatian Yas. Sakit rasanya. Apa kamu juga berpikir seperti itu Yas?

Langit masih gelap. Namun bintang gemintang sempurna bersinar terang. Aku sampai di perempatan pasar. Menunggu Ayah menjemput. Berdiri sendirian di depan toko yang masih tutup. Disamping tukang nasi goreng yang masih ramai pembeli. Seperti gadis malam, mungkin itulah yang ada di pikiran orang-orang  pagi itu. Jam 02.00 pagi, pasar sudah mulai ramai. Aku tak merasa takut, hanya saja merasa tidak enak menanggapi tatapan orang-orang yang lewat.

Aku pulang Yas. Maaf meninggalkanmu sendirian. Maaf tak bisa mengawasimu makan. Maaf tak bisa disampingmu saat kamu kelelahan. Dan maaf, kisah ini terlalu menyakitkan. Aku yakin, Allah akan selalu menjagamu dan meridhoi setiap langkahmu.

Hari ini. Kamis, 10 September 2015. Malam. Di sudut kamar pesantren, bersekatkan lemari, berteman sepi. Kau meneleponku Yas. Menghilangkan sesak, menghentikan air mata yang terus mengalir sejak aku mulai mengetik curahan hati ini. Kau, menghilangkan sepi yang merantaiku di sudut kamar ini Yas. Menghapus sedikit rindu yang tak pernah berkurang sejak aku mengenalmu. Yas, bagaimanapun akhirnya episode kisah kita, ijinkan aku merindumu, mengenangmu, menyebut namamu dalam do’aku. Ijinkan aku berharap untuk menjemputmu di stasiun Bekasi untuk menepati janji di suratmu. Ijinkan Yas. Saat ini biarlah Allah yang menentukan skenario kisah kita kelak. Meskipun kita bukan manusia alim, aku yakin kasih sayang-Nya akan selalu mengalir untuk kita semua.


                                                               
Bekasi, 10 September 2015

                                                                   Di sudut kamar berteman sepi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar