Hari
itu, Sabtu, 6 Juni 2015. Hari itu hari terakhirku di Pare, dan hari itu hari
terakhirku melihatmu Yas. Kau tahu perasaanku Yas? Berat, berat sekali. Lebih
berat dari pada aku harus meninggalkan kampung halamanku sendiri. Pare
membuatku ingin berlama-lama disana Yas, apalagi setelah aku mengenalmu.
Hari
itu kau mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan dasi bercorak segitiga warna
hitam putih tulang. Kau datang ke kosku tergesa-gesa. Aku tahu kau pasti
menyempatkan waktu untuk menemuiku ditengah jadwal kursus yang padat. Masih teringat
jelas dalam ingatanku, kau membawa tas hitam yang berisi makanan ringan dan
sebuah kado yang terbungkus kertas bergambar bunga mawar merah. Rapih. Aku tahu
kau susah payah membungkusnya. Jujur, aku terharu. Ingin menangis seketika itu
juga. Aku tak kuat Yas, tak kuat meninggalkan Pare, meninggalkan semua kenangan tentang kita. Hai’ah, Nina, Riska dan yang paling menyesakkan dada adalah... aku harus
meninggalkanmu. Kamu yang selama ini mewarnai hari-hariku. Kamu yang selama ini menjadi penghibur laraku. Kamu yang 6 bulan menguji kesabaranku dan menguji
kedewasaanku. Kamu Yas. Ya. Kamu, yang sampai detik ini selalu mengusik
pikiranku.
Hari
itu, BEC menjadi saksi pertemuan dan perpisahan kita di Pare Yas. Aku mencoba
sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata kala itu. Sesak. Aku tak bisa
berkata apa-apa, mulutku kelu. Perasaanku tak karuan. Bahagia karena aku akan
pulang dan bertemu keluargaku, dan sedih bila harus meninggalkanmu. Entah apa yang
seharusnya aku rasakan saat itu Yas. Aku hanya ingin tersenyum, memandangi
wajahmu. Menatap senyummu, tertawa bersamamu, dan aku ingin tetap bersamamu
Yas. Mengawasi makanan yang kau makan, bahkan aku ingin selalu jadi tempatmu
berkeluh kesah. Akuuu, tak mau pergi Yas.
Hari
itu, pukul 10.00 Kediri. Angkutan umum jurusan Pare-Kediri membawaku dan
anak-anak komunitas JABODETABEK ke stasiun Kediri. Aku sudah beranjak meninggalkanmu
Yas. Seketika perasaanku begitu hampa. Seperti ada yang hilang. Aku
merasa kesepian yang mendalam. Mataku tak mampu lagi membendung air mata yang
sejak pagi ku tahan Yas. Setetes butir bening jatuh menetes di pipiku. Namun
aku segera menghapusnya. Tak ingin ada yang melihat. Toh mereka sibuk dengan
pikiran mereka masing-masing.
Hari
itu, kereta Brantas yang akan membawaku pulang, akan meninggalkan Pare pukul
13.30. Lagi – lagi, semua kenangan manis bersamamu kembali terbayang di memori
otakku Yas. Saat aku mengantarmu pulang libur kenaikan level CTC-TC. Saat itu
aku, Nina dan Riska nekat mengantarmu ke stasiun. Padahal aku belum punya SIM.
Sebagai akibatnya kami ditilang pak polisi karena salah jalan. Haha. Tapi
tenang saja Yas, kau jangan pernah merasa bersalah. Kau sudah memperingatiku
sebelumnya. Memang aku keras kepala bukan? Seperti yang kamu sering bilang.
Sadarkah Yas? Sebenarnya kita sama, sama-sama keras kepala. Haha.
Hari
itu, ada rasa haru yang menderu hatiku. Taukah Yas? Hari itu, Deta, Mia
mengantar pasangan mereka. Mereka menangis Yas. Zein memeluk Mia sambil
meneteskan air mata. Iru menggenggam tangan Deta erat. Aku, diam. Menatap
mereka haru. Aku berharap kamu ada disini Yas. Sekedar untuk menghiburku. Tapi
tak apa, aku tahu kamu sibuk. Aku tak akan pernah menyalahkan keadaan.
Hari
itu, lambayan tangan anak-anak TC 128 yang mengantar kami menjadi pemandangan
yang begitu mengharukan. Untuk kesekian kalinya aku menangis Yas. Sesak
menjalari rongga dadaku. Semua terasa begitu menyakitkan. Perpisahan. Tidak
adakah kata yang lebih indah selain itu untuk menjauhkanmu dariku?
Kereta
melaju dengan cepat. Aku duduk membisu menatap jendela. Tak minat untuk
berkata-kata. Bang Safar yang duduk disampingku tak mengusikku, sepertinya dia
mengerti apa yang sedang aku rasakan dan mungkin dia juga merasakannya.
Pemandangan yang terlihat dari jendela kereta rasanya tak menarik selera.
Tatapanku hampa. Hanya ada bayangmu yang tergambar jelas dipelupuk mata. Aku
biarkan air mataku mengalir, aku enggan menghapusnya. Toh berkali-kali aku
menyekanya ia tetap saja nakal ingin keluar. Sama sepertimu, nakal, keras
kepala, menyebalkan, konyol. Huft.
Let me take a breath!
Hari
itu, aku memejamkan mata. Berharap bisa menghapus bayangmu sejenak. Nihil, raut
wajahmu terlalu jelas dalam ingatanku Yas. Lagi-lagi butir bening yang menetes.
Kenangan bersamamu terulang kembali Yas, seperti episode - episode film yang
setiap partnya menampilkan adegan-adegan romantis. Begitulah kisah kita Yas.
Hari
itu, malam. Aku terlelap. Setelah susah payah memejemkan mata. Aku tertidur
Yas. Tidak pulas, sesekali bangun karena kakiku merasa sangat pegal.
Hari
itu, sudah berganti esok Yas. Pukul 01.30 pagi, kereta Brantas yang membawaku
tiba di stasiun Bekasi. Aku turun bersama Ikbal dan Zein. Stasiun tak pernah
sepi, selalu ramai. Tak seperti hatiku saat ini. Hening. Mereka membawa tas
penuhku yang besar. Aku membantu mereka membawa barang yang tak terlalu berat. Masih dengan wajah
kantuk aku berjalan keluar dari stasiun. Ayah dan Ibu Ikbal beserta adiknya
menyambutnya riang. Mereka langsung memasukkan barang-barang Ikbal ke mobil.
Ayah Zein langsung menghampiri Zein dan memeluknya, ia langsung membantu Zein
membawa barang-barang. Aku,tak ada yang menjemputku. Aku tersenyum getir. Bersalaman
dengan orang tua mereka. Aku bingung mau kemana. Aku tidak mau mengabari orang
rumah, karena takut merepotkan. Tadinya aku ingin menunggu di stasiun saja
sampai matahari terbit. Tapi ayah Ikbal menawarkan aku tumpangan walau hanya
sampai pasar Bantar Gebang. Di sepanjang jalan ayah Ikbal bercerita banyak hal,
lebih kepada menyombongkan diri menurutku. Yang lebih menyakitkan dia bilang
orang tuaku orang tua yang tidak perhatian Yas. Sakit rasanya. Apa kamu juga berpikir seperti itu Yas?
Langit
masih gelap. Namun bintang gemintang sempurna bersinar terang. Aku sampai di
perempatan pasar. Menunggu Ayah menjemput. Berdiri sendirian di depan toko yang
masih tutup. Disamping tukang nasi goreng yang masih ramai pembeli. Seperti
gadis malam, mungkin itulah yang ada di pikiran orang-orang pagi itu. Jam 02.00 pagi, pasar sudah mulai
ramai. Aku tak merasa takut, hanya saja merasa tidak enak menanggapi tatapan
orang-orang yang lewat.
Aku
pulang Yas. Maaf meninggalkanmu sendirian. Maaf tak bisa mengawasimu makan.
Maaf tak bisa disampingmu saat kamu kelelahan. Dan maaf, kisah ini terlalu
menyakitkan. Aku yakin, Allah akan selalu menjagamu dan meridhoi setiap
langkahmu.
Hari
ini. Kamis, 10 September 2015. Malam. Di sudut kamar pesantren, bersekatkan
lemari, berteman sepi. Kau meneleponku Yas. Menghilangkan sesak, menghentikan
air mata yang terus mengalir sejak aku mulai mengetik curahan hati ini. Kau,
menghilangkan sepi yang merantaiku di sudut kamar ini Yas. Menghapus sedikit
rindu yang tak pernah berkurang sejak aku mengenalmu. Yas, bagaimanapun
akhirnya episode kisah kita, ijinkan aku merindumu, mengenangmu, menyebut
namamu dalam do’aku. Ijinkan aku berharap untuk menjemputmu di stasiun Bekasi
untuk menepati janji di suratmu. Ijinkan Yas. Saat ini biarlah Allah yang
menentukan skenario kisah kita kelak. Meskipun kita bukan manusia alim, aku yakin kasih sayang-Nya
akan selalu mengalir untuk kita semua.
Bekasi, 10 September 2015
Di
sudut kamar berteman sepi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar