Sepinya hari yang ku lewati
Tanpa ada dirimu menemani
Sunyi ku rasa dalam hidupku
Tak mampu ku tuk melangkah
Masih ku ingat indah senyummu
Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Masih ku ingat indah senyummu
Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Yang seperti ini
Engkau masih yang terindah
Yang seperti ini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Hampa kini yang ku rasa
Hampa kini yang ku rasa
Menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah
Dan kesedihanku
Lagu
"Kesedihanku" dari Sammy Simorangkir itu mengalun memenuhi ruang
kantor. Aku termenung menatap layar laptopku. Pagi ini aku tak bergairah.
Sebenarnya aku malas pergi ke kantor. Namun pekerjaan yang menumpuk sudah
menantiku.
"Ya ampun Vi, lo pagi-pagi ngegalau." Suara
Sinta mengagetkanku.
"Siapa yang galau? Gue gak galau." Jawabku
datar.
"Lah itu lagu lo. Itu tuh menampakkan kegalauan
yang sangat akut, tahu!"
"Lebay banget sih lo."
"Lo kenapa sih?” Sinta menghampiriku dan memegang
dahiku.
"Ih Sin lo tuh apa-apaan sih?"
"Ya gue khawatir aja. Kali aja lo sakit."
Sahabatku yang rempong ini memang sangat perhatian. Walau kadang ia sangat
menyebalkan.
"Gue ngedelcon dia Sin."
"Wha..wha..what???" Ekspresi Sinta yang
berlebihan itu membuatku tersenyum sinis.
"Bentar, bentar. Siapa dulu ni? Mas Mas lo itu,
apa brondong lo?"
"Ya Amar lah Sin, kan lo tahu gue gak punya
kontak bbm Mas Riki."
"Gila lo! Ngapain lo pake acara delcon segala.
Entar nyesel lo!"
"Gue bingung Sin, gue gak bisa kaya gini terus.
Gue sayang sama Amar, tapi gue gak bisa mutusin Mas Riki. Lo tahu kan Sin ini
udah menyangkut dua keluarga." Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Ya ampun Say, kasihan banget sih sahabat gue
yang satu ini. Gue gak bisa bantu apa-apa Vi, kalau menurut gue sih seharusnya
lo gak usah delcon dia. Itu tuh artinya lo memutuskan tali silaturahim. Lo tahu
kan itu dilarang. Apa lagi lo bilang dia ganti nomor, terus nanti kalau
ngundang gimana dong?”
“Ya, ampun Sin gue lagi serius ni.”
“Iya gue juga serius. Apa coba alasan lo delcon dia?”
“Rasanya tuh sakit ketika lihat potonya. Gue pengen
chat, tapi kalau kita chatingan pasti bereantem. Gue ngerasa jahat banget di
mata dia. Dia jadi sensi banget ke gue. Emang gue sejahat itu apa?”
“Iya, emang.” Celetuk Sinta.
“Sin...”
“Eh eh sorry sorry. Bukan itu maksud gue. Ya udah,
ehm...ehm. Sekarang lo jalanin aja dulu. Biarkan kisah ini mengalir seperti
air. Biar nanti waktu yang menjawabnya. Kalau kata Afgan sih ya, jodoh pasti
bertemu..." Gaya Sinta sudah seperti sang penyair saja.
"Hahaha, dasarr! Alayyy banget si temen
gue."
"Nah gitu dong Vi. Smile! :) Ketawa, jangan
cemberut mulu, tar mulut lo kaya siput tuh."
"Thanks Sin."
"Udah ah, tar si bos dateng lagi. Matiin tuh MP3
lo. Tar kumisnya makin angker kalau marah."
"Elo bisa aja Sin."
"Dah Vi. Ingat kata ayang gue ya, jodoh pasti
bertemu."
Aku mengangkat jempolku. Sinta pun berlalu menghilang
di balik pintu.
Sang senja
terlukis indah di angkasa raya. Inilah kegiatan rutin yang aku lakukan di tengah-tengah
pekerjaanku. Menatap senja dari jendela kantorku yang berada di lantai 6. Lukisan
langit selalu menjadi hiburan di kala sepi. Apa lagi jika lembur sampai malam,
biasanya aku menatap bintang dan rembulan dari jendela kantorku yang letaknya
cukup strategis untuk melihat pemandangan langit. Hanya itu hiburanku. Ada rasa
damai yang didatangkan sang langit ketika aku menatapnya. Biasanya aku memasang
headset, sambil mendengar alunan-alunan lagu yang ada di list MP3 handphoneku.
Lagi-lagi
raut wajahnya kembali terbayang di pelupuk mata. Seharian bekerja nyatanya tak
mampu sedikitpun menghapus Amar dari ingatanku. Oh My Lord! Betapa ini
sungguh menyiksa. Aku pasrah saja lah Tuhan, terserah Engkau. Atur saja oleh
Mu, aku menurut saja. Aku menatap langit tak berkedip. Awan seolah
menggambarkan sketsa wajahnya. Amar ada dimana-mana. Bahkan di setiap aku
membuka mata. Tiba-tiba pintu ruanganku berderik dan ku lihat Sinta datang
dengan tergopoh-gopoh.
"Vi... Vi.. huh. Vi...huh huh."
"Elo kenapa sih Sin?" Sinta menghampiriku
dan langsung menarik tanganku.
"Ayo cepet!"
"Apaan sih Sin? Eh bentar dulu dong, Sin!"
Sinta tak
menghiraukan ucapanku. ia terus menarik tanganku sambil berlari-lari kecil menyusuri
koridor kantor. Kami menaiki lift, Sinta menekan tombol angka satu yang berarti
kami akan mendarat di lantai dasar. Sinta bahkan tak mengatakan apapun saat di
dalam lift. Ia seperti orang yang baru melihat hantu. Hanya sesekali mengatur
nafasnya. Aku semakin terheran-heran oleh sahabatku yang satu ini.
"Sin,
elo apa-apaan sih?" Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya.
"Elo
pasti gak percaya siapa yang sekarang lagi berdiri disana."
Sinta
menunjuk ke arah pintu kantor yang terbuat dari kaca tembus pandang. Aku pun
mengikuti arah tangannya. Aku memperhatikan dengan seksama seorang laki-laki
yang sedang berdiri membelakangi pintu. Tubuh itu, tubuh itu tak asing bagiku.
Jeket itu, jaket kulit hitam yang sering dipakainya. Dia... Amar? Aku berdiri
mematung tak percaya. Kakiku seolah melangkah dengan sendirinya. Mataku hanya
tertuju pada Amar. Seperti magnet, Amar seolah menarikku dengan kuat, aku terus
melangkah ke arahnya. Aku tak mampu membendung langkahku untuk berlari
menghampirinya. Amar, ya Amar. Bagaimana dia bisa ada disini? Bagaimana dia
tahu alamat kantorku? Ah! Aku tak peduli bagaimana caranya dia tahu. Aku tak
peduli. Yang jelas, sekarang dia ada di hadapanku. Dia disini, sedang menatapku
penuh kerinduan.
"Vi." Suara Amar terdengar seperti
mimpi.
Aku menatapnya tak berkedip. Ia mendekatiku dan
menarikku ke dalam pelukannya.
“I really miss you.” Ia berbisik di telingaku.
“I do. I do Amar.”
Aku pun membalas pelukannya. Aku tak akan
melepaskannya. Tak akan.
Senja...
Terima kasih
telah mempertemukan ku dengannya
Walau dalam
mimpi
Walau dalam
khayal yang tak pasti
Senja...
Terima kasih
untuk melukis langint dengan sang jingga
Aku sungguh
terpesona
Meski kadang
kenangan manis menambah sengsara
Tapi biarlah
Tak sedikitpun
mengurangi keindahanmu yang sudah terpatra
Abadi selamanya
Tak seperti
kisah kita
Yang tak
jelas arahnya...
Senja...
Bolehkah aku
meminta
Pertemukanlah
aku dengannya
Di dunia
nyata
dari sudut
kamar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar