Senin, 23 November 2015

Senja


Sepinya hari yang ku lewati
Tanpa ada dirimu menemani
Sunyi ku rasa dalam hidupku
Tak mampu ku tuk melangkah
Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Yang seperti ini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Hampa kini yang ku rasa
Menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah
Dan kesedihanku

Lagu "Kesedihanku" dari Sammy Simorangkir itu mengalun memenuhi ruang kantor. Aku termenung menatap layar laptopku. Pagi ini aku tak bergairah. Sebenarnya aku malas pergi ke kantor. Namun pekerjaan yang menumpuk sudah menantiku.

"Ya ampun Vi, lo pagi-pagi ngegalau." Suara Sinta mengagetkanku.
"Siapa yang galau? Gue gak galau." Jawabku datar.
"Lah itu lagu lo. Itu tuh menampakkan kegalauan yang sangat akut, tahu!"
"Lebay banget sih lo."
"Lo kenapa sih?” Sinta menghampiriku dan memegang dahiku.
"Ih Sin lo tuh apa-apaan sih?"
"Ya gue khawatir aja. Kali aja lo sakit." Sahabatku yang rempong ini memang sangat perhatian. Walau kadang ia sangat menyebalkan.
"Gue ngedelcon dia Sin."
"Wha..wha..what???" Ekspresi Sinta yang berlebihan itu membuatku tersenyum sinis.
"Bentar, bentar. Siapa dulu ni? Mas Mas lo itu, apa brondong lo?"
"Ya Amar lah Sin, kan lo tahu gue gak punya kontak bbm Mas Riki."
"Gila lo! Ngapain lo pake acara delcon segala. Entar nyesel lo!"
"Gue bingung Sin, gue gak bisa kaya gini terus. Gue sayang sama Amar, tapi gue gak bisa mutusin Mas Riki. Lo tahu kan Sin ini udah menyangkut dua keluarga." Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Ya ampun Say, kasihan banget sih sahabat gue yang satu ini. Gue gak bisa bantu apa-apa Vi, kalau menurut gue sih seharusnya lo gak usah delcon dia. Itu tuh artinya lo memutuskan tali silaturahim. Lo tahu kan itu dilarang. Apa lagi lo bilang dia ganti nomor, terus nanti kalau ngundang gimana dong?”
“Ya, ampun Sin gue lagi serius ni.”
“Iya gue juga serius. Apa coba alasan lo delcon dia?”
“Rasanya tuh sakit ketika lihat potonya. Gue pengen chat, tapi kalau kita chatingan pasti bereantem. Gue ngerasa jahat banget di mata dia. Dia jadi sensi banget ke gue. Emang gue sejahat itu apa?”
“Iya, emang.” Celetuk Sinta.
“Sin...”
“Eh eh sorry sorry. Bukan itu maksud gue. Ya udah, ehm...ehm. Sekarang lo jalanin aja dulu. Biarkan kisah ini mengalir seperti air. Biar nanti waktu yang menjawabnya. Kalau kata Afgan sih ya, jodoh pasti bertemu..." Gaya Sinta sudah seperti sang penyair saja. 
"Hahaha, dasarr! Alayyy banget si temen gue."
"Nah gitu dong Vi. Smile! :) Ketawa, jangan cemberut mulu, tar mulut lo kaya siput tuh."
"Thanks Sin."
"Udah ah, tar si bos dateng lagi. Matiin tuh MP3 lo. Tar kumisnya makin angker kalau marah."
"Elo bisa aja Sin."
"Dah Vi. Ingat kata ayang gue ya, jodoh pasti bertemu."
Aku mengangkat jempolku. Sinta pun berlalu menghilang di balik pintu.

Sang senja terlukis indah di angkasa raya. Inilah kegiatan rutin yang aku lakukan di tengah-tengah pekerjaanku. Menatap senja dari jendela kantorku yang berada di lantai 6. Lukisan langit selalu menjadi hiburan di kala sepi. Apa lagi jika lembur sampai malam, biasanya aku menatap bintang dan rembulan dari jendela kantorku yang letaknya cukup strategis untuk melihat pemandangan langit. Hanya itu hiburanku. Ada rasa damai yang didatangkan sang langit ketika aku menatapnya. Biasanya aku memasang headset, sambil mendengar alunan-alunan lagu yang ada di list MP3 handphoneku.
Lagi-lagi raut wajahnya kembali terbayang di pelupuk mata. Seharian bekerja nyatanya tak mampu sedikitpun menghapus Amar dari ingatanku. Oh My Lord! Betapa ini sungguh menyiksa. Aku pasrah saja lah Tuhan, terserah Engkau. Atur saja oleh Mu, aku menurut saja. Aku menatap langit tak berkedip. Awan seolah menggambarkan sketsa wajahnya. Amar ada dimana-mana. Bahkan di setiap aku membuka mata. Tiba-tiba pintu ruanganku berderik dan ku lihat Sinta datang dengan tergopoh-gopoh.
"Vi... Vi.. huh. Vi...huh huh." 
"Elo kenapa sih Sin?" Sinta menghampiriku dan langsung menarik tanganku.
"Ayo cepet!"
"Apaan sih Sin? Eh bentar dulu dong, Sin!"
Sinta tak menghiraukan ucapanku. ia terus menarik tanganku sambil berlari-lari kecil menyusuri koridor kantor. Kami menaiki lift, Sinta menekan tombol angka satu yang berarti kami akan mendarat di lantai dasar. Sinta bahkan tak mengatakan apapun saat di dalam lift. Ia seperti orang yang baru melihat hantu. Hanya sesekali mengatur nafasnya. Aku semakin terheran-heran oleh sahabatku yang satu ini.
"Sin, elo apa-apaan sih?" Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya.
"Elo pasti gak percaya siapa yang sekarang lagi berdiri disana."
Sinta menunjuk ke arah pintu kantor yang terbuat dari kaca tembus pandang. Aku pun mengikuti arah tangannya. Aku memperhatikan dengan seksama seorang laki-laki yang sedang berdiri membelakangi pintu. Tubuh itu, tubuh itu tak asing bagiku. Jeket itu, jaket kulit hitam yang sering dipakainya. Dia... Amar? Aku berdiri mematung tak percaya. Kakiku seolah melangkah dengan sendirinya. Mataku hanya tertuju pada Amar. Seperti magnet, Amar seolah menarikku dengan kuat, aku terus melangkah ke arahnya. Aku tak mampu membendung langkahku untuk berlari menghampirinya. Amar, ya Amar. Bagaimana dia bisa ada disini? Bagaimana dia tahu alamat kantorku? Ah! Aku tak peduli bagaimana caranya dia tahu. Aku tak peduli. Yang jelas, sekarang dia ada di hadapanku. Dia disini, sedang menatapku penuh kerinduan. 

"Vi." Suara Amar terdengar seperti mimpi.
Aku menatapnya tak berkedip. Ia mendekatiku dan menarikku ke dalam pelukannya.
“I really miss you.” Ia berbisik di telingaku.
“I do. I do Amar.”
Aku pun membalas pelukannya. Aku tak akan melepaskannya. Tak akan.




Senja...
Terima kasih telah mempertemukan ku dengannya
Walau dalam mimpi
Walau dalam khayal yang tak pasti

Senja...
Terima kasih untuk melukis langint dengan sang jingga
Aku sungguh terpesona
Meski kadang kenangan manis menambah sengsara
Tapi biarlah
Tak sedikitpun mengurangi keindahanmu yang sudah terpatra
Abadi selamanya
Tak seperti kisah kita
Yang tak jelas arahnya...

Senja...
Bolehkah aku meminta
Pertemukanlah aku dengannya
Di dunia nyata




dari sudut kamar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar