Senin, 04 Januari 2016

Dua Hati Satu Rongga


Dua Hati Satu Rongga

Kamis, 18 Desember 2015
Kemarin malam aku memutuskan pacarku. Aku sudah sangat yakin malam itu. Benar-benar yakin. Sepulang minum susu di kedai susu moo di Perum Dukuh Zamrud Mas Rama meneleponku. Aku memeberanikan diri untuk menyampaikan maksudku. Namun ia tidak mau menerima keputusanku, ia berusaha keras meyakinkanku untuk tetap bersamanya dan mencapai komitmen kami yaitu menikah. Sungguh yang ku mau saat itu hanya putus darinya. Lepas dari jerat cintanya yang kadang terasa begitu memenjarakanku. Alih-alih mengabulkan permohonanku ia malah memutuskan untuk mempercepat pertunangan kami. Tak berhenti sampai disitu, ia mendatangiku di kantor. Memaksaku untuk menemuinya. Akhirnya dengan terpaksa aku menuruti permintaannya. Dadaku semakin sesak menahan perasaan ini. Akhirnya aku mengatakan semua alasanku mengapa aku ingin putus darinya. Semua, termasuk perasaanku pada laki-laki yang ku temui di kota kembang, Bandung.
***
Bandung, kota yang terletak di Jawa Barat itu terkenal dengan sebutan Paris van Java dan Kota Kembang. Kota yang menjadi tempat pertama KAA (Konferensi Asia Afrika) itu sekarang dipimpin oleh Bapak Ridwan Kamil atau yang biasa disebut dengan Kang Emil. Di Bandung pulalah universitas-universitas negeri ternama berdiri, seperti UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), UIN Sunan Gunung Djati, UNPAD (Universitas Padjajaran) dan masih banyak lagi universitas swasta yang tak kalah terkenalnya. Udara Bandung yang sejuk dan pemandangannya yang membuat takjub selalu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Termasuk aku, dulu aku bermimpi untuk bisa kuliah di salah satu universitas negeri di Bandung. Apa sajalah yang penting di Bandung, pikirku. Namun sayang, nasib berkata lain. Niatku untuk melanjutkan sekolah ke bangku kuliah harus tertunda dua tahun dan aku hanya bisa kuliah kelas ekstensi di salah satu kampus swasta yang membuka cabang di Bekasi. Dan saat itulah Mas Rama datang. Memberiku kekuatan, mengajarkanku bahwa hidup tak semudah yang dibayangkan. Dan begitulah ia memasuki kehidupanku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meyakinkanku. Tapi entah mengapa kehadirannya berbeda dengan makhluk indah yang satu ini. Laki-laki berdarah kota kembang yang mengenalkanku cinta hanya dalam waktu dua minggu.
Sembilan bulan lalu tepatnya Desember 2014, Pak Hardian bosku memintaku dan Nadin sahabat sekaligus rekan kerjaku untuk mengikuti training bersama pimpinan perusahaan ternama yang berada di Bandung. Selama disana aku bertemu dengan seorang laki-laki bernama Reza. Dia juga merupakan peserta training. Kebetulan kami adalah teman satu kelompok. Reza satu tahun lebih muda dariku, tapi dia cerdas dan sangat easy going. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya, kebetulan penginapan yang disewa pihak kantorku dekat dengan rumahnya. Tidak jauh, hanya sekitar lima belas menit menggunakan sepeda motor. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Entah sekedar makan bersama, atau jogging mengelilingi komplek penginapan. Hari demi hari berlalu. Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh pada sikap Reza.
Benar saja, Reza memberikan perhatian yang lebih kepadaku. Setiap selesai training ia selalu mengantarku pulang. Akupun tak menolak, toh hanya mengantar pulang pikirku. Selama aku di Bandung Mas Rama tidak pernah meneleponku, hanya sesekali mengirim pesan dan menanyakan kabar lalu menghilang tanpa balasan. Memiliki pacar yang cuek terkadang membuatku merasa kurang diperhatikan. Dan perhatian-perhatian kecil yang diberikan Reza kepadaku membuat aku kebablasan. Aku telah membuka setengah pintu hatiku untuknya. Padahal selama bertahun-tahun aku telah menutupnya rapat hanya untuk Mas Rama. Dan kini hanya dengan hitungan hari ia mampu mendobraknya. Mudah sekali ia memasuki sebagian ruang itu. Dan bodohnya aku, aku malah membiarkannya tinggal di dalamnya. Reza selalu membuatku tertawa. Aku selalu merasa nyaman saat di dekatnya. Bahkan dia pernah mengajakku ke rumahanya dan mengenalkanku kepada orang tuanya, meskipun itu hanya sebagai teman. Tapi aku merasa sudah sangat dekat dengannya. Saat itu Reza membiarkanku bermain-main dengan anak-anak TK yang dikelola ibunya. Ya, dia tahu aku suka anak kecil. Bahkan aku dengan terbuka bercerita tentang apapun padanya. Keluargaku, pekerjaanku, dan bahkan tentang Mas Rama yang acuh tak acuh. Kami tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Bisa dibilang waktu-waktu bersamanya adalah penghilang kejenuhan di tengah training yang membosankan. Dan melihat kedekatanku dengan Reza Nadinlah yang paling bawel mengingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengannya.
“Di, kamu habis jalan lagi sama si Reza itu?”
Suara Nadin mengagetkanku yang baru membuka pintu.
“Cuma makan seperti biasa kok, lagian kamu kenapa gak ikut si aku kan bbm kamu tadi?”
“Males ah, lagian aku cuma jadi kambing conge kalau pergi bareng kalian.”
“Ih, Nadin. Kok kamu ngomong gitu si?”
“Ya emang iya kan? Awas lo Di kamu jatuh cinta sama si Reza itu. Inget sama Mas Satriamu.”
“Hahaha, kamu ngomong apa sih Nad. Nggaklah.”
“Ya, ampun Di. Kita tuh sahabatan udah lama kali. Bahkan sebelum spongebob sama patrick ada tuh kita udah sahabatan, dan aku tahu kamu tuh pasti udah jatuh hati sama si Reza itu.”
“Hehehe. Mulai deh kamu lebaynya Nad, Nad.”
“Di, awas ya kalau kamu sampai suka sama cowok ingusan itu.”
“Ya ampun Nad, kamu kok sampai segitunya sama Reza.”
“Tuh kan dibelain. Aku yakin pasti tuh anak suka sama kamu Di.”
“Udah ah, stop ngomongin dia. Aku mau tidur.”
Dan ucapan Ndin memang benar, aku sudah jatuh hati pada laki-laki itu. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Akhir-akhir ini bayangan Reza begitu jelas terlihat di pelupuk mataku. Ada desiran syahdu di hatiku setiap kali aku mengingatnya. Oh Tuhan, apa yang ku rasakan ini?
***
Setelah melewati perdebatan yang melelahkan akhirnya aku putuskan untuk kembali kepada Mas Satria. Lagi pula dia sudah tahu semuanya sekarang. Dan dia masih mau memperjuangkanku walau jelas-jelas aku sudah mengkhianatinya. Dari situlah aku sadar bahwa dia memang benar-benar mencintaiku. Namun, ada satu syarat yang aku ajukan untuknya. Aku memintanya mengantarkanku untuk bertemu dengan Reza di Bandung. Dan iapun mengiyakan. Walau aku tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun aku tak peduli. Ya, aku memang egois. Memintanya untuk mengantarku bertemu dengan laki-laki yang membuatku jatuh cinta dalam waktu dua minggu itu. Aku memang sudah gila dan tidak punya hati. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Setiap detik sejak pertemuanku dengan Reza di Bandung, yang ada di pikiranku hanya dia. Senyumannya, tawanya, tingkah konyolnya, dan semua tentangnya seolah melekat dalam diriku. Setiap malam di mimpiku aku berharap dia datang menemuiku. Hanya lewat mimpi aku bisa dengan leluasa meghadirkan lekuk tubuhnya tanpa ada seorangpun yang melarangku. Aku benar-benar tak bisa menghapusnya dari memori otakku. Setiap kali aku mengingatnya ada gejolak rindu yang tak tertahankan. Sakit yang tak terperikan. Aku ingin berlari mencarinya. Aku ingin memeluknya dan tak akan pernah melepaskannya. Aku ingin membangun istana cintaku bersamanya. Namun, apabila aku mengingat Mas Rama dan keluarganya semua itu seolah runtuh seketika. Menjadi puing-puing kenangan yang melebur bersama bayangnya yang memudar. Semua berubah menjadi jalan yang tak berujung. Aku terperangkap dalam kegelapan dan semua seolah sirna tak tersisa.
“Sayang, Di!”
“Eh, iya Mas.” Aku menghapus air mata yang entah sejak kapan membasahi pipiku. Sejak pertemuan kami di tempat training itu komunikasiku dengan Reza mulai berkurang. Namun ia tetap memberikan perhatian lewat pesan-pesan singkat. Dan kini sudah hampir sembilan bulan Reza tak ada kabar. Aku pikir bisa dengan mudah melupakannya setelah kami berpisah. Tapi ternyata tidak, Reza masih menguasai pikiranku. Aku tahu hal ini pasti akan terjadi. Reza pasti sadar bahwa hubungan ini hanya membuang waktu. Ia pasti hanya menganggapku gadis egois yang tidak bisa menentukan pilihan. Perpisahan ini benar-benar membuatku seperti pesakitan. Memikirkannya siang dan malam dan mengacuhkan Mas Rama.
“Di, terima kasih telah mengijinkan aku menjadi bagian hidupmu walau hanya dua minggu.” 
Itulah sepenggal kalimat yang menjadi akhir perjumpaan kami di Bandung. Selain itu ia menjanjikanku satu hal, ia akan ke Bekasi untuk menemuiku. Aku sadar, aku sudah berpaling. Maafkan aku Mas.
“Ayo, kita pergi. Kamu sudah bawa baju kan? Mungkin nanti kita cari peristirahatan untuk satu malam. Karena perjalanan Bekasi-Bandung kan lumayan jauh sayang kalau ditempuh dalam satu hari pulang pergi.” Suara Mas Rama membuyarkan lamunanku.
“Iya Mas. Ayo.” Jawabku singkat.
Kami pun berangkat. Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar alasanku pergi ke Bandung hanya untuk menemui Reza yang tak tahu ada dimana sekarang. “Kamu ini tuh gak punya hati atau gimana toh Di, masa kamu mau minta calon tunanganmu nganterin kamu ketemu laki-laki yang buat kamu berpaling darinya”. Itulah yang ibu bilang padaku. Ya, aku memang gila, memang tidak punya hati. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin menemui Reza dan menagih janjinya untuk menemuiku di Bekasi.
“Kami pergi dulu Bu.” Mas Rama berpamitan dan mencium tangan ibu.
“Hati-hati ya de. Maafkan anak ibu.”
“Nggak apa-apa Bu.”Aku hanya menatap mereka sinis. Di pikiranku saat ini hanya ada Reza. Aku hanya ingin bertemu dengannya, itu saja.
Motor Bison putih melaju dengan lincah. Menyusuri jalanan yang dipenuhi hilir mudik kendaraan. Macet, menjadi pemandangan yang tak asing lagi ketika kami di Cileungsi. Sudah tiga jam kami di perjalanan dan sudah dua kali kami beristirahat untuk sekedar melepas lelah. Kali ini kami berhenti di warung mie ayam di pinggir jalan.
“Di, kita makan dulu ya. Kamu pasti lapar.”
“Iya Mas.”
Mas Rama memesan dua mangkok mie ayam bakso dan dua gelas es jeruk. Kami baru sampai di Cianjur. Masih membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke alamat yang kami tuju. Untuk mendapatkan alamat Reza aku harus susah payah meminta mohon kepada panitia training. Berkali-kali menelepon hanya untuk memastikan bahwa aku adalah kerabat Reza. Maklumlah, panitia bilang itu dilakukan untuk menjaga privasi peserta training. Namun dengan semangat yang gigih aku akhirnya berhasil mendapatkan alamatnya.
“Mas, maafin aku ya. Aku sudah keterlaluan. Tapi aku janji Mas, aku akan lupain Reza setelah pertemuan ini. Aku janji.” Aku mencoba meyakinkan Mas Rama sambil menatap mata teduhnya. Sungguh, aku tak tega. Tapi bayangan Reza begitu kuat mengusikku. Aku sangat merindukannya. Mungkin ia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini sehingga kerinduan ini seolah tak terbendung lagi.
“Iya sayang.” Mas Rama tak banyak bicara. Ia hanya membelai rambutku seperti biasa.
Setelah mengisi perut kami melanjutkan perjalanan. Jalanan menuju Cianjur kota ini cukup curam. Jalannya berliku-liku dan menanjak. Mas Satria dengan piawai mengendarai motornya. Aku tak kuat menahan kantuk. Akhirnya aku menyandarkan sebelah pipiku dan terlelap di punggung kekarnya. Reza datang ke mimpiku. Ia seolah tahu bahwa aku akan segera menemuinya. Aku tersenyum sambil memeluk erat Mas Rama.
“Di, sayang. Bangun!”
Suara Mas Rama membangunkan tidur lelapku.
“Kita udah sampai Mas?” Aku langsung sumringah.
“Belum sayang, coba lihat alamatnya.”
“Iya Mas.” Aku segera mengambil secarik kertas yang berisi alamat Reza.
“Gimana Di? Kamu masih ingat nggak jalan ke rumahnya?”
“Em, aku lupa Mas. Ini kelihatannya beda. Seingat aku ada sekolah TK di samping rumahnya. Coba sebentar aku tanya.” Aku memang tak pandai mengingat jalan. Mas Rama mengangguk. Aku turun dari motor dan bertanya kepada beberapa tukang ojek yang sedang mangkal di perempatan jalan.
“Permisi Pak, tahu alamat ini?” Aku menunjukkan secarik kertas yang sudah mulai lecek.
“Oh, ini rumah pak Zaenal yang anaknya seminggu lalu meninggal ya de?”
Hah? Meninggal? Aku langsung tercekat. Tidak mungkin. Aku mencoba menghibur diriku. Mungkin saja anak Pak Zaenal  yang lain. Setahuku Reza memang masih punya kakak dan adik.
“Saya kurang tahu Pak, yang jelas seingat saya rumahnya dekat TK Tunas Bangsa.”
“Oh, iya benar de. Dari sini ade belok kanan. Kemudian ada papan reklame, ade belok kiri. Nah dari situ sudah kelihatan Tknya.”
“Terima kasih ya Pak.” Aku langsung berlalu meninggalkan pangkalan ojek itu. Otakku dijejali pikiran-pikiran negatif. Oh Tuhan, kumohon bukan. Bukan Reza yang dimaksud tukang ojek tadi. Hatiku tak karuan, kerinduanku padanya semakin hebat. Binar mata Reza tampak jelas berkelebat di pelupuk mataku. Oh Tuhan, tolong jangan.
“Di, gimana?”
“Dari sini kita belok kanan, terus ada papan reklame belok kiri. Nanti Tknya kelihatan kok. Gak jauh dari situ.” Aku langsung naik ke motor. Mas Rama menangkap raut wajahku yang gelisah.
“Kenapa sayang? Kamu gerogi mau ketemu pujaan hati? Hehe.” Mas Rama meledekku, padahal sebenarnya aku tahu ia hanya mencoba menghibur dirinya.
“Mas, aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Jangan-jangan...” Aku menggantung kalimatku.
“Kenapa sayang? Coba bilang sama Mas.”
“Ah sudahlah, mungkin aku terlalu berlebihan.”
“Ya, santai ya sayang.” Ujar Mas Rama sambil menyalakan starter motornya. Aku mengangguk.
Tak lebih dari lima belas menit kami sudah sampai di pelataran rumah Reza. Keadaannya tak banyak berubah. Hanya saja pohon bunga mawar yang saat aku kesini sedang berbunga kini hanya tinggal daunnya saja. Suara riang anak-anak TK tak lagi terdengar. Maklumlah waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Mas Rama memarkirkan motornya di bawah pohon jambu air yang sedang berbuah lebat. Rumah Reza terlihat sepi. Namun  pintunya terbuka. Ada beberapa toples kue kering dan air mineral tertata di atas meja.
“Ayo sayang, kita masuk.” Ajak Mas Rama. Aku mengikuti Mas Rama dari belakang.
“Permisi, permisi. Assalamu’alaikum.” Tak lama seorang wanita paruh baya keluar diikuti seorang laki-laki paruh baya dan anak remaja berumur sekitar 15 tahun. Wajah mereka tak asing bagiku. Mereka adalah orang tua Reza dan anak berumur 15 tahun itu adalah adik bungsunya.
“Waalaikumsalam.” Jawab mereka serempak. Senyum mengembang dari wajah cantik yang mulai keriput itu. Kamipun bersalaman. Mereka mempersilahkan kami duduk sambil mengingat-ingat wajahku.
“Oh, ini nak Diana yang waktu itu pernah diajak kesini sama Reza ya? Ayo silahkan duduk nak.”
Aku tersenyum mengiyakan. Ibu Reza membelai pipiku lembut. Matanya berkaca-kaca. Seperti ada luka dalam dari pancaran matanya yang redup. Sejenak suasana hening. Aku pun tak tahu hendak bicara apa. Nyaliku ciut. Kata-kata yang sudah ku rangkai untuk disampaikan kepada Reza seperti gelembung-gelembung sabun yang pecah. Akhirnya suara Mas Rama memecah keheningan.
“Jadi begini Pak, Bu. Calon istri saya ini temen dekatnya Reza, dan kami kesini berniat untuk mengundang Reza ke pernikahan kami. Selain itu...” Mas Rama melirikku dengan tatapan sendu. Aku hanya menunduk menunggu kata-kata yang selanjutnya akan keluar dari bibirnya.
“... selain itu ada sesuatu yang ingin Diana ucapkan pada Reza.”
Kedua orang tua Reza saling menatap satu sama lain. Aku melihat sudut mata ibunya basah. Raut wajah ayahnya tiba-tiba diselimuti kabut kepedihan. Ada apa ini? Pikiranku mulai melayang jauh. Jangan-jangan... Oh Tuhan! Tolong jangan bilang kalau...
“Reza sudah meninggal satu minggu lalu nak.” Hening. Suara ayah Reza menggantung. Ia menarik nafas sejenak.
“...Selama ini dia punya penyakit jantung, tapi dia tidak pernah mau untuk dirawat. Dia bilang dia masih kuat. Dia juga pernah bercerita tentang nak Diana. Dia bilang ingin sekali meminang gadis Bekasi itu andai saja dia sudah berumur dua puluh lima tahun. Duh Gusti nu Agung cepat sekali Engkau ambil anak bujangku.” Suara parau laki-laki paruh baya itu bagai petir yang menyambar pendengaranku. Bagai palu godam yang menghantam kepalaku. Sakit. Sesak menjalar ke rongga dadaku. Oh Tuhan, tolong bilang ini hanya mimpi! Tiba-tiba semua terasa gelap. Aku merasakan mas Rama menahan tubuhku. Hening. Hanya wajah Reza yang terlihat jelas. Aku tak ingat apa-apa lagi.
“Di, sayang. Buka mata kamu sayang.” Suara yang sudah akrab di telinga ku itulah yang pertama kali  aku dengar. Bau minyak kayu putih menyengat penciuman. Kepalaku terasa berat. Mataku sulit untuk dibuka, serasa ada perekat yang memaksaku untuk tetap menutup mata. Aku menatap langit-langit kamar yang asing bagiku. Dengan tatapan lemas aku memandang wajah Mas Rama yang dibalut kekhawatiran. Disampingnya aku lihat ayah Reza menatapku dengan tatapan haru. Aku tak mendapati ibu Reza disana. Selang beberapa menit ia datang dengan segelas teh hangat ditangannya.
“Alhamdulillah, nak  Diana sudah siuman.” Aku tersenyum tipis. Lagi-lagi aku teringat Reza. Aku masih tak percaya apa yang kudengar tadi. Pipiku basah. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Mas Rama masih setia duduk disampingku sambil menggenggam tanganku erat. Ia menciumi punggung tanganku.
“Maafkan Mas Di, maaf.” Mas Rama menitikkan air mata. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Tiba-tiba rasa bersalah menyelubungi hatiku.
“Harusnya Mas lebih perhatiin kamu Di. Maaf  Di, maaf.” Suara Mas Rama terdengar serak. Aku tak mampu berkata-kata. Aku masih larut dalam lamunanku. Aku pikir aku yang akan meninggalkan Reza, tapi mengapa dia yang malah pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini. Aku pikir perpisahan di antara kita hanyalah jarak antara Bekasi dan Bandung, ini bukan hanya jarak tapi juga dua alam yang  berbeda. Sebelumnya aku berharap aku masih bisa melihatnya walau dia bersama dengan orang lain. Setidaknya aku masih bisa melihat senyumnya. Oh Tuhan! Haruskah seperti ini skenario hidupku?
 “Kalian menginap dulu disini saja ya. Sudah malam nak. Kalian silahkan istirahat dulu. Besok pagi bapak antarkan kalian ke makam Reza.” Ujar Ayah Reza. Kami mengiyakan. Kebetulan tubuhku rasanya sudah remuk. Lelah, tak hanya tubuhku tapi juga hatiku. Mataku lebam dan perih. Pilu menderu bagai gulungan ombak yang menghantam sang karang. Kerinduanku tak tersampaikan. Ia terkubur dalam bersama jasad Reza yang kini telah bersemayam dibawah tanah merah.
            Mentari pagi hangat menyambut kota Bandung yang dibalut kabut putih. Sejuk. Tak pernah kudapati udara seperti ini di Bekasi. Airnya yang seperti es batu itu mampu menyegarkan sedikit pikiranku. Walau ingatan tentang Reza masih saja merajai otakku. Tapi aku berusaha menerima kenyataan yang ada. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjadi wanita yang lemah hanya karena cinta. Mulai detik ini aku harus bisa berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Aku akan mulai menjalani hidup baru dengan Mas Rama. Laki-laki yang sudah hampir tiga tahun menemani perjalanan hidupku. Laki-laki yang dengan sabar menghadapi sikapku masih kekenak-kanakan, dan laki-laki yang tegar meski aku tahu ia menahan sakit setiap aku sebut nama Reza. Aku tahu semua akan kembali pada-Nya. Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pemilik segalanya. Aku hanya akan mencintai Reza dalam untaian do’a. berharap ia selalu bahagia di sisi-Nya.
“Mari nak bapak antar. Sudah siap semuanya kan?”
“Sudah Pak. Mari.”
Kami menyusuri jalan setapak yang di kelilingi daun-daun ilalang. Tak lebih dari sepuluh menit kami sudah sampai di makam keluarga yang berada di kebun belakang rumah itu. Makam Reza sudah terlihat, tanahnya masih merah dan taburan bunga tujuh rupa masih tersisa. Tiba-tiba aku mencium semilir harum parfum Reza yang biasa ia gunakan. Za, apa kamu ada disini? Apa kamu lihat aku Za? Aku kangen kamu Za. Kenapa kamu gak nepatin janji kamu untuk nemuin aku? Lagi-lagi butir bening mengalir di pipiku. Ya, aku merasakannya ada di sampingku. Membelai lembut rambutku dan membisikkan kata cinta untukku. Reza ada di sampingku.
“Ayo sayang.” Mas Rama menggenggam tanganku dan menghapus air mata yang tumpah ruah di pipiku. Ku ratapi nisan yang bertuliskan Reza Anggara itu. Senyum Reza terukir jelas disana. Good bye Za. I miss you, i do. See you in another life. Aku memendamkan wajahku ke dalam pelukan Mas Rama. Maafkan aku Mas, maafkan aku. Mas Rama tetap tegar tak bergeming. Ia selalu seperti itu, selalu ada dan menenangkanku.


***
Malam itu cahaya bulan sempurna bersinar di angkasa raya. Bintang-gemintang bak taburan mutiara yang memenuhi malam yang pekat. Malam itu langit begitu mempesona. Sepoi angin membelai wajahku yang dibalut lelah. Memainkan rambutku yang sengaja ku urai. Menghilangakan sejenak sesak yang meraja. Hangat menjalar tubuhku ketika tangan kekarnya menyentuh punggung tanganku. Sinar matanya yang meneduhkan membuat jantungku berdegup kencang. Kami saling berpandangan. Kerinduan yang tak terperikan akhirnya tersampaikan. Aku mengamati setiap inci raut wajahnya yang memepesonakan. Ia menarik tanganku kedalam dekapannya. Membelai pipiku lembut. Membisikkan rayuan maut yang membuatku melayang dibuatnya. Kami begitu dekat. Bahkan aku bisa mendengar desahan nafasnya yang meremangkan bulu kudukku. Debar jantungku semakin hebat. Dan... sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Aku terpaku, membisu. Tak mampu bergerak, kaku. Oh Tuhan! Aku sudah tak setia.
Cinta?
Indah, bagai warna-warna pelangi yang terlukis di kanvas angkasa
Dua minggu, tak lama bagiku untuk mencintaimu
Kau adalah ciptahan Tuhan yang mempesona banyak mata
Hadirmu bagai hujan yang membasahi tanah gersang
Menyegarkan, menghidupkan kembali pohon-pohon yang mati
Dan mengukir kisah yang tak bisa kulupakan hingga ajal nanti
Cinta?
Haruskah serumit ini?
Kau datang mengalihkan pandanganku darinya
Kesepian yang mendalam mampu membuka pintu hati yang lama kukunci
Kau...
Pelangi yang hanya datang untuk pergi
Memeberi warna, namun tak abadi
Kau...
Mentari yang hangatkan pagi
Tersenyum memberikan arti
Tenggelam tanpa permisi
Kau...
Malam yang pekat
Memenjarakanku dalam gelap
Kau...
Rindu yang merantai
Memasungku dalam rasa yang tak terurai
Kau...
Bandung, cinta yang tak sampai
Meninggalkan rindu yang menikam
Abadi dalam mimpi di sepanjang malam


dari sudut ruang yang kelam




1 komentar: