Lukisan Jalan yang Usang
Minggu, 13 Desember 2015
Hari ini aku
pulang kuliah sendiri. Mengendarai motor sendiri, meminjam motor bibi. Motorku
yang digadaikan belum bisa ditebus. Entah kapan aku bisa menebusnya. Biasanya
aku selalu pergi dengan Mira. Hari ini dia pergi kuliah dengan Danar. Karena ia kurang sehat dan tidak kuat membawa motor katanya. Aku hanya mengiyakan. Toh
aku sadar mana mungkin harus setiap minggu aku numpang dengannya.
Gerimis
menemaniku sepanjang jalan. Aku mengendarai motor dengan pelan. Biar lebih
santai. Aku ingin menikmati perjalananku. Ya, bagiku pemandangan di pinggir
jalan selalu memberikan kesan yang mendalam. Ada banyak warna yang disajikan.
Merah, hitam, putih, bahkan kelam. Tak berwarna,abstrak. Semua mengajarkanku
makna kehidupan.
Keluar dari
gang kampus aku melihat beberapa pekerja galian lstrik yang berlumuran tanah
merah masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Baju mereka sudah tak terlihat
warnanya. Kotor, dan keringat mereka sudah bercampur dengan air hujan. Aku
terus memacu sepeda motorku. Membilukkannya ke kanan di perempatan jalan.
Melihat tukang pengarah jalan yang menggodaku. Dan aku hanya tersenyum seperti
biasa. Tak mau terlalu juteklah, toh senyumkan ibadah. Hehe.
Motor honda
beat pop keluaran terbaru itu terus melaju dengan kecepatan sedang. Aroma
tak sedap sudah tercium dari jarak kurang dari seratus meter. Aroma yang sudah
akrab dengan penciuman. Ya, bau tumpukan sampah yang sudah menggunung menghiasi
sepanjang jalan menuju kampusku. Kalian pasti tak asing dengan Tempat
Pembuangan Sampah ( TPU) Bantar Gebang bukan? Ya, itulah the most famous
place in Bekasi. Gunung sampah menjadi pemandangan yang setiap Sabtu dan
Minggu aku lihat, aku cium, dan aku rasakan atmosfernya. Aku menambah kecepatan
motorku. Tak tahan. Tapi aku harus tetap menghargai dengan tidak menutup
hidungku dengan tangan. Takut masyarakat sekitar tersinggung. Kebetulan aku
tidak memakai masker hari ini, lagi pula percuma, baunya tetap menusuk menembus
ketebalan maskerku. Namun selalu ada pelajaran di balik semua ini. Aku salut
dengan orang-orang yang tinggal di sekitar TPU ini. Setiap hari mereka harus
bersahabat dengan bau sampah yang menusuk penciuman. Belum lagi mobil-mobil
pengangkut sampah yang bikin bulu kuduk merinding dengan muatannya yang overload.
Sungguh pemandangan yang tak asing lagi bagiku kini. Apa lagi jika musim
penghujan seperti ini. Tidak terbayang bagaimana becek dan rujitnya
lingkungan rumah mereka. Belum lagi mereka harus menanggung berbagai penyakit
yang siap menyerang mereka kapanpun. Namun sungguh, inilah yang menguatkanku
dan membuatku selalu merasa lebih bersyukur. Jalan melukiskan hikmah kehidupan
di tengah hiruk pikuk kesibukan manusia yang tak pernah mati. Di tengah hilir
mudik berbagai macam kendaraan, dari sepeda sampai mobil-mobil pejabat yang mewah.
Kadang aku berpikir, apa kaca mobil para pejabat didisain khusus untuk tidak
dapat melihat pemandangan memilukan yang terpampang jelas di pinggir jalan?
Mereka tega memakan uang rakyat, menghabiskan miliaran rupiah untuk memuaskan
nafsu dunia semata. Tidakkah mereka lihat kaki-kaki kecil yang melangkah tanpa
lelah mencari nafkah demi sesuap nasi tak berkuah, kulit keriput yang
terpanggang terik mentari siang, dan para pedagang asongan yang basah oleh
keringat yang bercucuran? Oh My Lord! Inikah nasib negeri yang selama ini ku
banggakan?
Rasa dingin
merasuk ke rongga dadaku. Dada yang selama beberapa hari ini terasa begitu
berat dan sesak. Gerimis telah berganti hujan. Memang tidak deras, tapi cukup
membuat kerudung paris merah mudaku basah. Motor yang ku kendarai terus melaju.
Aku memutuskan untuk membeli susu moo di tempat langgananku dan bu Vina.
Selain murah dan pas di lidah penjual susu moo langganan kami itu memliki wajah
yang rupawan. Hehe. Tapi sayang dia sudah beristri dan beranak satu. Setelah
membeli susu rasa vanila aku melanjutkan perjalanan. Pulang. Tetes demi tetes
air langit membasahi wajahku. Kunikmati setiap butirnya dengan hati yang lebih
tenang dari sebelumnya. Ternyata susu moo abang ganteng langgananku
mampu mendinginkan hatiku. Hehe. Sambil mengendarai motor aku meminum susu rasa
vanila itu. Serasa seluruh ruas jalan itu milikku aku tidak mempedulikan orang-orang
yang memandangku aneh. Sudahlah, yang penting aku tidak menghalangi jalan
mereka. Aku sesekali menatap langit, menarik nafas dan menghembuskannya
perlahan. Berharap sedikit beban tersingkirkan. Namun lagi-lagi wajahnya
memenuhi ruang otakku. Apakah di Bandung juga hujan? Apakah dia sedang
mengingatku sekarang? Ah tanyaku hanya pertanyaan tanpa jawaban. Tiba-tiba aku
terngiang-ngiang kata-kata yang pernah dia ucapkan.
“Kamu itu sudah menempati
seperempat hatiku, setengah buat keluargaku dan seperempat lagi buat istriku
nanti. Jadi kalau kamu jadi istriku, kamu sudah punya full setengah hati aku”
Aku hanya membalasnya
dengan tawa kala itu. Masih ku ingat dengan jelas, ia menggerakkan jari
telunjuk ke dadanya seolah sedang menggambar di atas kanvas dan dengan wajah konyol
ia mengeluarkan kata-kata di atas. Oh Allah! Kapan rindu ini akan berakhir?
Jaga dia Ya Allah, selipkan kerinduan ini ke dalam hatinya. Terima kasih untuk
anugerah yang tidak ada habisnya untukku.
Senyumnya
terlukis jelas dalam imajiku. Sambil mengendarai motor aku terus menyempurnakan
bayangannya. Mengingat bagaimana gayanya berbicara, tertawa, dan mengenang
semua episode-episode kisahku yang hanya berjalan singkat, enam bulan. Cinta,
entah apalah itu namanya. Yang jelas pertemuan itu menjadi lembaran-lembaran
kisah yang akan ku simpan di lubuk hatiku yang terdalam, bersama sketsa
wajahnya yang menghiasi hariku setiap detik. Entah sampai kapan.
Tak sadar aku
sudah sampai di perempatan jalan dekat rumah. Susu moo yang ku beli sudah habis
tak tersisa. Aku membelokkan setang motor ke arah kanan. Dan, sampailah aku di
halaman rumahku. Rumah yang menjadi tempat pulang dan menjadi tempat istirahat
yang dibuat dengan hasil keringat ayah. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan
keluarga kami yang dipenuhi dengan pertengkaran-penrtengkaran yang membosankan.
Rumah yang menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Dan rumah yang telah
menjaga segala rahasia dari hiruk pikuk dunia.
dari
sudut rumah yang mulai ramah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar