Senin, 14 Desember 2015

Lukisan Jalan yang Usang

Lukisan Jalan yang Usang
Minggu, 13 Desember 2015

Hari ini aku pulang kuliah sendiri. Mengendarai motor sendiri, meminjam motor bibi. Motorku yang digadaikan belum bisa ditebus. Entah kapan aku bisa menebusnya. Biasanya aku selalu pergi dengan Mira. Hari ini dia pergi kuliah dengan Danar. Karena ia kurang sehat dan tidak kuat membawa motor katanya. Aku hanya mengiyakan. Toh aku sadar mana mungkin harus setiap minggu aku numpang dengannya.

Gerimis menemaniku sepanjang jalan. Aku mengendarai motor dengan pelan. Biar lebih santai. Aku ingin menikmati perjalananku. Ya, bagiku pemandangan di pinggir jalan selalu memberikan kesan yang mendalam. Ada banyak warna yang disajikan. Merah, hitam, putih, bahkan kelam. Tak berwarna,abstrak. Semua mengajarkanku makna kehidupan.

Keluar dari gang kampus aku melihat beberapa pekerja galian lstrik yang berlumuran tanah merah masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Baju mereka sudah tak terlihat warnanya. Kotor, dan keringat mereka sudah bercampur dengan air hujan. Aku terus memacu sepeda motorku. Membilukkannya ke kanan di perempatan jalan. Melihat tukang pengarah jalan yang menggodaku. Dan aku hanya tersenyum seperti biasa. Tak mau terlalu juteklah, toh senyumkan ibadah. Hehe.

Motor honda beat pop keluaran terbaru itu terus melaju dengan kecepatan sedang. Aroma tak sedap sudah tercium dari jarak kurang dari seratus meter. Aroma yang sudah akrab dengan penciuman. Ya, bau tumpukan sampah yang sudah menggunung menghiasi sepanjang jalan menuju kampusku. Kalian pasti tak asing dengan Tempat Pembuangan Sampah ( TPU) Bantar Gebang bukan? Ya, itulah the most famous place in Bekasi. Gunung sampah menjadi pemandangan yang setiap Sabtu dan Minggu aku lihat, aku cium, dan aku rasakan atmosfernya. Aku menambah kecepatan motorku. Tak tahan. Tapi aku harus tetap menghargai dengan tidak menutup hidungku dengan tangan. Takut masyarakat sekitar tersinggung. Kebetulan aku tidak memakai masker hari ini, lagi pula percuma, baunya tetap menusuk menembus ketebalan maskerku. Namun selalu ada pelajaran di balik semua ini. Aku salut dengan orang-orang yang tinggal di sekitar TPU ini. Setiap hari mereka harus bersahabat dengan bau sampah yang menusuk penciuman. Belum lagi mobil-mobil pengangkut sampah yang bikin bulu kuduk merinding dengan muatannya yang overload. Sungguh pemandangan yang tak asing lagi bagiku kini. Apa lagi jika musim penghujan seperti ini. Tidak terbayang bagaimana becek dan rujitnya lingkungan rumah mereka. Belum lagi mereka harus menanggung berbagai penyakit yang siap menyerang mereka kapanpun. Namun sungguh, inilah yang menguatkanku dan membuatku selalu merasa lebih bersyukur. Jalan melukiskan hikmah kehidupan di tengah hiruk pikuk kesibukan manusia yang tak pernah mati. Di tengah hilir mudik berbagai macam kendaraan, dari sepeda sampai mobil-mobil pejabat yang mewah. Kadang aku berpikir, apa kaca mobil para pejabat didisain khusus untuk tidak dapat melihat pemandangan memilukan yang terpampang jelas di pinggir jalan? Mereka tega memakan uang rakyat, menghabiskan miliaran rupiah untuk memuaskan nafsu dunia semata. Tidakkah mereka lihat kaki-kaki kecil yang melangkah tanpa lelah mencari nafkah demi sesuap nasi tak berkuah, kulit keriput yang terpanggang terik mentari siang, dan para pedagang asongan yang basah oleh keringat yang bercucuran? Oh My Lord! Inikah nasib negeri yang selama ini ku banggakan?

Rasa dingin merasuk ke rongga dadaku. Dada yang selama beberapa hari ini terasa begitu berat dan sesak. Gerimis telah berganti hujan. Memang tidak deras, tapi cukup membuat kerudung paris merah mudaku basah. Motor yang ku kendarai terus melaju. Aku memutuskan untuk membeli susu moo di tempat langgananku dan bu Vina. Selain murah dan pas di lidah penjual susu moo langganan kami itu memliki wajah yang rupawan. Hehe. Tapi sayang dia sudah beristri dan beranak satu. Setelah membeli susu rasa vanila aku melanjutkan perjalanan. Pulang. Tetes demi tetes air langit membasahi wajahku. Kunikmati setiap butirnya dengan hati yang lebih tenang dari sebelumnya. Ternyata susu moo abang ganteng langgananku mampu mendinginkan hatiku. Hehe. Sambil mengendarai motor aku meminum susu rasa vanila itu. Serasa seluruh ruas jalan itu milikku aku tidak mempedulikan orang-orang yang memandangku aneh. Sudahlah, yang penting aku tidak menghalangi jalan mereka. Aku sesekali menatap langit, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Berharap sedikit beban tersingkirkan. Namun lagi-lagi wajahnya memenuhi ruang otakku. Apakah di Bandung juga hujan? Apakah dia sedang mengingatku sekarang? Ah tanyaku hanya pertanyaan tanpa jawaban. Tiba-tiba aku terngiang-ngiang kata-kata yang pernah dia ucapkan.

“Kamu itu sudah menempati seperempat hatiku, setengah buat keluargaku dan seperempat lagi buat istriku nanti. Jadi kalau kamu jadi istriku, kamu sudah punya full setengah hati aku”

Aku hanya membalasnya dengan tawa kala itu. Masih ku ingat dengan jelas, ia menggerakkan jari telunjuk ke dadanya seolah sedang menggambar di atas kanvas dan dengan wajah konyol ia mengeluarkan kata-kata di atas. Oh Allah! Kapan rindu ini akan berakhir? Jaga dia Ya Allah, selipkan kerinduan ini ke dalam hatinya. Terima kasih untuk anugerah yang tidak ada habisnya untukku.

Senyumnya terlukis jelas dalam imajiku. Sambil mengendarai motor aku terus menyempurnakan bayangannya. Mengingat bagaimana gayanya berbicara, tertawa, dan mengenang semua episode-episode kisahku yang hanya berjalan singkat, enam bulan. Cinta, entah apalah itu namanya. Yang jelas pertemuan itu menjadi lembaran-lembaran kisah yang akan ku simpan di lubuk hatiku yang terdalam, bersama sketsa wajahnya yang menghiasi hariku setiap detik. Entah sampai kapan.

Tak sadar aku sudah sampai di perempatan jalan dekat rumah. Susu moo yang ku beli sudah habis tak tersisa. Aku membelokkan setang motor ke arah kanan. Dan, sampailah aku di halaman rumahku. Rumah yang menjadi tempat pulang dan menjadi tempat istirahat yang dibuat dengan hasil keringat ayah. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan keluarga kami yang dipenuhi dengan pertengkaran-penrtengkaran yang membosankan. Rumah yang menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Dan rumah yang telah menjaga segala rahasia dari hiruk pikuk dunia.


dari sudut rumah yang mulai ramah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar